TWA Gunungapi Papandayan Terancam Tak Dilirik Wisatawan

0
33 views
Tebing Curam TWA Gunungapi Papandayan.

Esay/ Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 14/07 – 2016 ).

Tebing Curam TWA Gunungapi Papandayan.
Tebing Curam TWA Gunungapi Papandayan.

Potensi “Taman Wisata Alam” (TWA) Gunungapi Papandayan di wilayah Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pasca liburan Lebaran Idul Fitri 1437 H/2016 ini. Kian terancam tak lagi dilirik maupun ditinggalkan kalangan wisatawan, termasuk komunitas pecinta alam atawa pendaki gunung.

Lantaran, banyak di antara mereka menilai terlalu mahalnya biaya retribusi yang terpaksa kudu dirogoh dari kocek setiap pengunjung pada obyek wisata tersebut.

“Tarifnya sangat beda jauh dibandingkan liburan Lebaran tahun lalu, sekarang sangat mahal bahkan tak sebanding dengan kualitas jasa layanan” ungkap sejumlah pengunjung termasuk dikemukakan U. Sontani (58), wisatawan asal Andir Bandung, Kamis (14/07-2016).

Dikemukakan, besaran tarif ditentukan pengelola menjadi terdiri ongkos masuk Rp65 ribu, disusul biaya kemah Rp35 ribu per malam, serta tarif parkir kendaraan sepeda motor hingga mencapai Rp17 ribu.

Padahal seputar potensi wisata sangat prosfektif itu, semakin sarat bertebaran sampah bekas makanan dan minuman ringan kemasan plastik, meski terdapat Kaldera Terluas di Asia Tenggara berketinggian 2.665 mdpl .

 

“Kesenyapan Abadi”

Bidik Kepulan Asap Hamparan Kawah Gunungapi Papandayan.
Bidik Kepulan Asap Hamparan Kawah Gunungapi Papandayan.

Dalam pada itu, sisi menarik kesenyapan abadi kerap dialami kalangan pengamat, di Pos Pengamatan Gunungapi Papandayan pada “Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi” (PVMBG).

Namun kesunyian seputar Pos Pengamatan pada perbukitan berelevasi 1.156 mdpl di wilayah Kecamatan Bayongbong, Garut, Jawa Barat tersebut, senantiasa bisa mereka nikmati. Meski lebih banyak bertemankan tak hentinya derit ketukan jarum jenis seismograf analog.

Serta tampilan digital beragam piranti penunjang lain, termasuk visual seputar Kawah Emas, Kawah Baru, dan Kawah Nangklak Gunungapi Papandayan acap terselimuti kabut tebal terekam CCTV.

Momon bersama rekannya, Krisno dan Johan, selama ini pula “concern” dengan komitmennya masing-masing, menelisik serta melaporkan setiap dinamika denyut nadi gunungapi itu.

Sebab kegempaan vulkanik dan tektoniknya, yang sejak 2011 hingga kini masih berstatus “waspada”, kerap pula berlangsung fluktuatif.

Momon beserta dua rekannya, mengamati pula perkembangan seputar Kawah Walirang (2.193 mdpl), Kawah Maung (1.864 mdpl), juga Kawah Nangklak.

Sehingga sejak pertengahan Nopember 2014 Tim dari PVMBG memproses pemasangan tiga jenis perangkat pemantau baru.

Penanggungjawab Pos Pengamatan Gunungapi Wilayah Barat, Dr Heti Triastuti kepada Garut News di Gunungapi Papandayan, katakan produk kerja ketiga jenis piranti ini, dapat langsung dipantau pada Pos Pengamatan Gunungapi Papandayan.

Pemasangan dilakukan pada hamparan Gunung Walirang berupa CCTV, kemudian pada lokasi beda berlangsung pemasangan Depormasi atawa Tilt Meter, guna mengetahui besarnya pembengkakan badan gunung. Serta pemasangan perangkat pengukur suhu tanah.

Gunungapi Papandayan berketinggian 2.665 mdpl atawa 1.950 meter di atas dataran kota Garut, bertipe Strato tipe A.

Pertama kali meletus pada sekitar 11-12 Agustus 1771, berkarakter letusan berupa erupsi eksplosif preatomagmatik berskala menengah (dimanifestasikan sejumlah endapan aliran dan jatuhan piroklastik).

Secara berangsur, kekuatan erupsi melemah dan cenderung menghasilkan erupsi epusif magmatik (dimanifestasikan sejumlah leleran lava berkomposisi andesit).

Heti Triastuti juga menyesalkan kian banyaknya pengunjung termasuk anak-anak, padahal gunungapi ini masih berstatus waspada.

Padahal PVMBG sejak lama merekomendasikan agar pada radius seribu meter dari bibir kawah, kudu bebas dari beragam aktivitas manusia.

Kenyataannya nyaris setiap seluruh pengunjung sering melintas dekat kubangan kawah. Selain itu, kini kian merebak marak berdiri kios pedagang kaki lima, bisa membahayakan lantaran juga kerap terdapat guguran tebingnya.

Didesak pertanyaan Garut News mengenai upaya mencegah bahaya bagi pengunjung dan masyarakat, Heti Triastuti katakan tergantung kebijakan Pemkab setempat.

Karena pihak PVMBG juga telah merekomendasikannya, tandas dia pula, singkat.

*********