Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah SWT

0
9 views
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Jum’at 10 Agustus 2018 19:21 WIB
Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Agung Sasongko

“Tujuh golongan tersebut dikatakan akan mendapatkan naungan berupa awan”

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rasulullah SAW bersabda, terdapat tujuh golongan yang mendapatkan keistimewaan pada hari kiamat. Tujuh golongan tersebut dikatakan akan mendapatkan naungan berupa awan yang menghalangi mereka dari panas matahari yang diceritakan hanya berjarak sejengkal dari ubun-ubun.

Ustaz Hasan Al-Jaizy Lc dalam ceramahnya menjelaskan, lebih jauh mengenai tujuh golongan yang mendapat naungan Allah SWT. Dia menuturkan, golongan pertama yang masuk dalam kategori tersebut adalah para imam yang adil.

Maksud kata imam dalam golongan ini adalah pemimpin yang mampu menerapkan hukum di antara manusia dan kebenaran yang berdasar pada Alquran dan sunah. Pemimpin, menurut Ustaz Hasan, diartikan secara umum, dari pemimpin rumah tangga hingga pemimpin suatu negara.

Ustaz Hasan menyatakan, jika seorang pemimpin tidak mampu menerapkan hukum yang benar, dapat dipastikan orang tersebut tidak akan mampu memimpin secara adil. Lebih lanjut, dia juga menjelaskan, pemimpin yang tidak dapat berlaku adil maka dapat dipastikan dia hanya akan mengikuti hawa nafsunya selama memimpin.

“Pemimpin yang tidak adil atau berbuat curang, meskipun sejengkal, akan dihisab. Apalagi, jika kecurangan itu berhasta-hasta dan mengorbankan ribuan orang, tidak akan terbayang seberapa berat hisabnya,” ujar Ustaz Hasan dalam ceramahnya di Masjid al-Azhar Summarecon Bekasi, Jawa Barat, belum lama ini.

Dia melanjutkan, tidak ada orang yang memiliki hasrat menggebu untuk meraih kursi kepemimpinan, kecuali dia termasuk dalam orang-orang yang tidak bertakwa. Menurut Ustaz Hasan, bagi orang-orang bertakwa, pemegang jabatan tinggi atau gelar pemimpin hanya akan mendatangkan nikmat di dunia dan penyesalan di akhirat.

Golongan kedua, lanjut Ustaz Hasan, adalah golongan para pemuda yang tumbuh dalam kebiasaan beribadah kepada Allah SWT. Menurut dia, pemuda yang rajin beribadah dan tumbuh dalam buaian agama maka dapat dipastikan dia mampu memiliki dasar agama yang kokoh yang akan membimbingnya terus berada dalam jalan Allah SWT.

Ketiga, adalah orang yang harinya terpaut pada masjid. Ustaz Hasan menjelaskan, terpaut dalam hal ini adalah adanya perasan resah dan tidak nyaman ketika seseorang jauh dari masjid, dan senantiasa rindu untuk kembali ke masjid. “Jika ada perasaan seperti itu pada diri kita, kemungkinan kita tergolong dalam salah satu golongan yang akan dinaungi rahmat oleh Allah SWT,” kata dia.

Namun, Ustaz Hasan menyesali keadaan yang terjadi kini. Orang-orang lebih nyaman berada di dalam pusat perbelanjaan, kafe, atau tempat ramai lainnya. Menurut dia, masjid seharusnya dapat menjadi destinasi utama umat Muslim, baik saat ingin menyendiri maupun berkumpul dengan teman sejawat.

“Seharusnya kita harus budayakan masjid sebagai pusat kegiatan dan perkembangan agar fungsi masjid pada masa Rasulullah dapat kembali berlangsung,” kata Ustaz Hasan.

Golongan keempat yang mendapat naungan rahmat Allah SWT, lanjut dia, adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Ungkapan ‘aku mencintaimu karena Allah SWT’ bukan hanya dapat diucapkan kepada pasangan, melainkan juga keluarga bahkan teman.

Namun, untuk mendapatkan tiket naungan Allah pada hari kiamat, ungkapan ini haruslah diucapkan dengan penuh ketulusan dan keyakinan. “Artinya, mereka benar-benar bersatu di atas jalan Allah SWT dan berpisah di atas jalan Allah SWT pula,” kata dia.

Kelima, adalah orang yang menyukai seseorang yang kaya dan rupawan, tapi dia menghindarinya karena takut akan dosa pada Allah. Hal ini, menurut dia, diumpamakan terjadi pada seorang pemuda yang mendambakan wanita cantik untuk dinikahinya, tetapi wanita itu justru mengajaknya ke arah maksiat.

Maka, jika pria tersebut mampu menolak meski hasratnya pada wanita itu menggebu-gebu, niscaya dia dipastikan mendapat naungan Allah SWT.

Keenam, lanjut dia, adalah orang yang bersedekah, tetapi menyembunyikan sedekah tersebut, hingga tangan kirinya tidak mengetahui berapa nominal sedekah yang dia berikan. Hal ini juga sangat penting dilakukan demi menghindarkan diri dari perilaku riya dan sombong.

Terakhir, adalah orang yang senantiasa mengingat Allah SWT saat sendiri ataupun di tengah keramaian. Golongan ini juga digambarkan sebagai orang-orang yang tak dapat menahan air mata ketika meresapi kekuasaan Allah SWT, baik melalui Alquran maupun makhluk ciptaan-Nya.

“Maka itu, untuk menjadi salah satu bagian dari golongan ini, saat membaca Alquran coba resapi makna yang terkandung di dalamnya lalu refleksikan pada kehidupan kita, sadari kekurangan kita, dan mohon ampunlah kepada Allah,” ujar Ustaz Hasan.

*******

Republika.co.id