Tugas Rezim Baru

by

Yudhistira A.N.M. Massardi,
Pegiat Pendidikan

Jakarta, Garut News ( Senin, 30/12 ).

Ilustrasi Generasi Penerus. (Foto: John).
Ilustrasi Generasi Penerus. (Foto: John).

Banyak yang berilusi, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa pada 2045, tepat 100 tahun setelah Indonesia merdeka, negara kita akan berjaya: ekonomi kuat, berkeadilan, demokrasi semakin matang, peradaban semakin maju, dan status global player akan didapat.

Dengan asumsi bahwa pada 2025 Indonesia pasti menjadi negara mandiri dan makmur dengan pendapatan per kapita sekitar US$ 15 ribu (sekarang US$ 4.000), Indonesia akan masuk posisi 12 besar dunia dari segi kekuatan ekonomi.

Kemudian, pada 2045, Indonesia menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita US$ 47 ribu!

Semua ilusi itu dibangun bagaikan mimpi di siang bolong, sebagai hal yang niscaya terjadi.

Rentang waktu 31 tahun ke depan seolah-olah hanya berlangsung satu malam, sementara bangsa-bangsa lain mabuk dan tak mampu berbuat apa-apa.

Ilusi tersebut juga dibangun dengan asumsi bahwa pada 2045, kita mendapat “bonus demografis”, yakni ketika 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif (25-45 tahun).

Adapun populasi bangsa-bangsa lain menciut (jumlah warga Jepang berkurang 20 juta jiwa) dan menua (warga Korea Selatan dan Singapura rata-rata memasuki usia 50 tahun-an).

Padahal, pada saat itu, populasi Indonesia mencapai 317.279.000 jiwa, dengan 85 persen warga (sekitar 270 juta jiwa) akan memadati kota-kota besar, meningkat lebih dari dua kali lipat jumlah sekarang (128 juta jiwa atau 50 persen).

Populasi pedesaan pun menciut.

Ilusi kejayaan itu mengabaikan fakta-fakta lain yang akan menyertainya.

Jika korupsi dibiarkan merajalela seperti sekarang dan kepastian hukum tak ada, para investor asing tidak akan mau menanamkan modalnya di sini, dan itu akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, piramida demografi tadi, jika tidak dikelola dan dipersiapkan dengan baik, tidak akan menjadi bonus, bahkan menjadi bencana nasional.

Kunci utama untuk mengubah ilusi itu agar tidak berhenti sebagai mimpi di siang bolong adalah pendidikan.

Harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan, yang dimulai dengan perubahan undang-undang.

Paradigma dan orientasi pendidikan tidak lagi bertolak dari Prussianisme yang otoriter dan bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang patuh tanpa inisiatif.

Semua harus didasari fondasi berupa pembangunan manusia seutuhnya, dengan fokus pada pendidikan anak usia dini dan berbasis pembangunan inteligensia (bukan lagi kognisi/akademik), untuk melahirkan generasi baru yang lebih cerdas, berakhlak mulia, mandiri, dan cinta belajar sepanjang hayat.

Karena itu, kata kuncinya adalah peningkatan kualitas dan kemampuan guru dalam mengajar, dengan metode yang lebih memuliakan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna dan terbekali dengan aneka bakat dan potensi.

Jika anak-anak usia dini sekarang dibangun dengan cara yang baik dan benar, kita akan memiliki fondasi bangsa yang kuat dan memiliki aneka kemampuan, sehingga mereka, pada saat mencapai usia produktifnya, akan menjadi generasi pemimpin, kreator, inovator, dan operator yang siap menghadapi segala tantangan dan kesempatan menuju kejayaan pada 2045.

Artinya, kita harus segera bekerja, mulai hari ini, bukannya tidur siang sambil berharap terbangun pada 2045 dan seketika berjaya!

Itulah tugas yang harus diemban dan dikerjakan oleh rezim baru yang nanti akan berkuasa setelah seluruh proses politik pada 2014 usai.

***** Kolom/artikel Tempo.co