Trump, Dajjal, dan Islam

0
127 views
Wartawan Republika, Agus Yulianto. (Dok. Pribadi).

Sabtu , 09 December 2017, 05:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agus Yulianto, wartawan Republika

Wartawan Republika, Agus Yulianto. (Dok. Pribadi).

Dunia kini menghadapi kiamat kecil. Dan di antara tanda-tanda kiamat kecil pada akhir zaman adalah penaklukan Yerussalam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW telah bersabda: “Saya menghitung enam hal menjelang–hari kiamat.” Beliau menyebutkan salah satu di antaranya, yaitu penaklukan Yerusalem. (Sahih Bukhari).

Tanda-tanda kiamat kecil lainnya adalah serbuan musuh Islam terhadap kaum Muslimin. Daripada Tsauban ra berkata, Rasulullah SAW bersabda; “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”.

Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah karena kami sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita menjawab, “Cinta pada dunia dan takut pada mati.” (Riwayat Abu Daud)

Tanda-tanda itulah yang saat ini sedang kita saksikan. Adalah Presiden AS Donald Trump yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12). Kecongkakannya pun semakin menjadi-jadi ketika dia menolak peringatan sekutu Amerika di seluruh Timur Tengah. Trump bersikukuh mengumumkan bahwa AS akan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Lantas apa yang menyebabkan Trump bersikukuh untuk memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem? Pada 1995, Amerika Serikat memberlakukan UU tentang status Yerusalem dan keberadaan Kedutaan Besarnya yang disebut Jerusalem Embassy Act. UU itu menyebutkan AS harus mengakui Yerusalaem sebagai ibu kota Israel dan Kedutaan Besar AS harus dipindahkan ke kota itu.

Namun, dalam praktiknya, pemerintahan AS sebelum ini, tidak pernah menjalankan UU itu. Sebagai gantinya, setiap presiden AS menandatangani sebuah keputusan presiden, yang menyatakan Kedutaan Besar AS akan tetap berada di Tel Aviv. Kepres itu berlaku selama enam bulan, dan setiap kali harus diperbarui. Bulan Juni lalu, Presiden Donald Trump juga menandatangani keputusan semacam itu. Masa berlaku keputusan itu berakhir Desember ini.

Bahkan, pada masa pemilu presiden, Donald Trump memang berulangkali menegaskan akan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Ini karena menurut dia Yerusalem adalah ibukota Israel yang sebenarnya. Dengan langkah ini, Trump ingin memenuhi janji kampanyenya.

Kontan, sikap pongah Trump itu langsung menuai reaksi keras dari masyarakat dunia, tak hanya kalangan Muslim, tapi umat Kristiani pun mengecamnya karena keputusan itu terdeteksi melanggar kebijakan Washington. Paus Fransiskus pun mengungkapkan kekhawatirannya terkait keputusan Trump tersebut. Paus mengaku tidak bisa tinggal diam dengan situasi yang berkembang pascakeputusan Trump itu. Dia menilai, pengumuman akan memancing ketegangan baru di kota suci bersejarah yang dipuja orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim itu.

Kekhawatiran juga disampaikan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Ia mengaku mengalami kegelisahannya yang hebat terkait keputusan Trump ini. Untuk itu, pihaknya akan memberikan teguran diplomatik. Pasalnya, tindakan sepihak Trump itu akan membahayakan prospek perdamaian bagi orang Israel dan Palestina.

“Isu status akhir Yerusalem harus diselesaikan melalui perundingan langsung antara kedua pihak berdasarkan resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum yang relevan, dengan mempertimbangkan masalah yang sah dari pihak Palestina dan Israel,” kata Guterres sebagaimana dikutip New York Times.

Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat pun turut mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dia menegaskan keputusan tersebut telah menghancurkan kemungkinan damai antara Palestina dan Israel.

“Presiden Trump baru saja menghancurkan kemungkinan solusi dua negara. Presiden Trump, malam ini, membuat kesalahan besar dalam hidupnya,” kata Erekat, yang juga merupakan negosiator utama Palestina, dilaporkan laman CNN.

Pemerintah Indonesia pun mengecam keras pengakuan sepihak AS tersebut dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut. Apalagi, seperti yang dikatakan Presiden Joko Widodo, pengakuan sepihak tersebut telah melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB yang Amerika Serikat menjadi anggota tetapnya serta bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia.

“Saya dan Rakyat Indonesia tetap konsisten untuk terus bersama dengan rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya sesuai dengan amanah Pembukaan UUD 1945,” tegasnya lagi.

Sementara Presiden Palestina Mahmoud Abbas pun sebelumnya telah merespons keputusan Trump. “Ini adalah hadiah untuk Israel,” kata Abbas menanggapi pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh AS.

Keputusan Trump ini akan mendorong pendudukan dan okupasi lebih lanjut oleh Israel terhadap tanah Palestina. Dengan keputusan tersebut pula, Abbas menyatakan AS tak akan lagi bisa menjadi mediator dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Sedangkan Arab Saudi menyebut langkah tersebut sebagai provokasi yang mencolok, sementara Presiden Turki Recep Erdogan menggambarkan status Yerusalem saat ini sebagai “garis merah bagi umat Islam.

Keputusan Trump itu pun telah menyebabkan banyak demonstrasi di jalanan dengan gambar-gambar yang muncul dari warga Palestina di Bethlehem yang membakar gambar Trump. Sebuah “hari kemarahan” juga akan digelar untuk Jumat ini oleh organisasi fundamentalis Sunni-Islam Palestina, Hamas.

Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah janji Trump selama kampanye pemilihannya. Untuk membela langkah tersebut, pemerintahannya mengatakan mereka memandang ini sebagai pengakuan atas kenyataan. Beberapa pihak melihat langkah Trump sebagai alarm ke basis konservatif domestiknya, tapi mengapa mengenali Yerusalem, dan bukan Tel Aviv, karena ibu kota Israel dipandang berpotensi berbahaya?

Didirikan 3.000 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, Yerusalem diubah menjadi kota pemujaan bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen selama era Alkitab. Kota Tuanya menyimpan tempat-tempat keagamaan yang sakral untuk ketiga agama tersebut, termasuk Tembok Barat (suci bagi orang Yahudi), Gereja Makam Suci (sebuah tempat ziarah untuk orang Kristen), dan Dome of the Rock (tempat suci umat Islam abad ke-7 Kota Tua yang sekarang merupakan situs warisan dunia, namun Yerusalem modern jauh melampaui perbatasannya, dengan populasi yang lebih luas diperkirakan sekitar 1,2 juta orang.

Israel dan Palestina sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibukota mereka dan statusnya tetap menjadi argumen utama dalam konflik di antara keduanya. Sebuah tekad untuk merebut kembali sebuah tanah air Yahudi dipimpin oleh gerakan Zionis dan selama Perang Dunia I. Sekretaris luar negeri Inggris, Arthur Balfour mengumumkan dukungan untuk pembentukan tempat nasional untuk orang-orang Yahudi di Palestina.

Setelah 30 tahun “Mandat Inggris” ini, sebuah rencana partisi Perserikatan Bangsa-Bangsa dirancang untuk wilayah tersebut. Pada 1947, resolusi ini diadopsi oleh PBB namun tidak pernah dilaksanakan saat perang pecah antara orang Arab dan Yahudi. Konflik ini menyebabkan pembagian Yerusalem. Israel merebut bagian barat kota sementara pasukan Arab-Yordania mencaplok timur kota itu.

Dalam perang enam hari tahun 1967, pasukan Israel kemudian merebut dan mengklaim bagian timur kota. Sampai hari ini, banyak negara tidak mengakui seluruh Yerusalem sebagai negara Israel dan tidak memiliki kedutaan di Yerusalem, dan memilih Tel Aviv sebagai gantinya.

Karena itu, secara luas dipertimbangkan bahwa relokasi Trump kedutaan AS ke Yerusalem akan mengenali kota itu sebagai milik Israel sendiri, menolak klaim Palestina untuk mencari Yerusalem Timur sebagai ibukota untuk keadaan masa depannya sendiri.

Rencana tersebut sesuai dengan resolusi PBB untuk menciptakan solusi dua negara untuk kawasan tersebut yang menawarkan sebuah negara Palestina merdeka di sepanjang perbatasan yang ditetapkan sebelum perang 1967. Situasi ini semakin membingungkan oleh permukiman Israel di timur kota yang dianggap ilegal oleh hukum internasional, namun tidak oleh pemerintah Israel. Diperkirakan sekitar sepertiga keluarga yang tinggal di Yerusalem mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Palestina.

Dajjal adalah seorang laki-laki yang berkulit merah, besar, gemuk, berambut keriting (kribo), mata kanannya buta seperti anggur yang sudah masak (tidak bersinar), mata kirinya ditumbuhi daging tebal, tertulis di jidadnya kata kafir yang bisa dibaca setiap muslim yang pandai baca tulis atau buta huruf.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan Dajjal itu adalah sosok mandul sehingga tak punya keturunan. Dia akan muncul dari negeri timur, Khurosan, yang diikuti 70 ribu Yahudi Asfahan yang bersenjata dan mengenakan jubah tak berjahit.

Dajjal juga sebagai raja yang diktator, kejam dan mengklaim sebagai nabi. Bahkan setelahnya, mengklaim sebagai tuhan. Pegikutnya adalah orang-orang yang apabila kumandang azan terdengar, ia mengacuhkannya dan orang yang apabila dinasihati atau diberitahukan mengenai rencana-rencana Dajjal di dunia sebelum ia datang, dia tidak peduli. Sedangkan hamba-hamba shalih dan bertakwa menentangnya.

Ciri-ciri pengikut Dajjal pun terdapat pada sosok Trump. Dia sangat pandai menipu, mempesona dan memukau. Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Aku peringatkan kalian terhadapnya. Tidak ada seorang nabi kecuali memperingatkan umatnya tentang Dajjal. Nuh telah memperingatkan umatnya tentang Dajjal. Tetapi aku akan sampaikan kepada kalian sesuatu yang tak pernah disampaikan oleh seorang Nabi (sebelumku) kepada kaumnya: Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Allah tidak buta sebelah matanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberitahukan tentang sifat Dajjal, pola kerjanya, dan cara menyelamatkan diri darinya. Sampai-sampai beliau mencontohkan dan memerintahkan agar berlindung dari buruknya fitnah Dajjal di penghujung shalat. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Masih Dajjal.” (Muttafaq ‘alaih)

Karenanya, pembicaraan Dajjal harus terus diaktualkan. Diulang. Hadits-hadits tentangnya dibahas dan dibacakan. Khususnya di zaman kita ini, fitnah agama merajalela, banyak penyimpangan, kebenaran dimusuhi, sedangkan kesesatan dibela habis. Zaman sekarang sunnah dianggap bid’ah, sedangkan bid’ah dijadikan aturan yang harus diikuti.

********

Republika.co.id