Trik Turki Ungkap Pembunuhan Jamal Khashoggi

0
9 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Senin 22 Okt 2018 05:37 WIB
Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

“Media Turki tidak hanya hubungkan kemungkinan keterlibatan Saudi di kasus Khashoggi”

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ikhwanul Kiram

Arab Saudi akhirnya mengakui Jamal Khashoggi meninggal dunia di konsulat negara itu di Istanbul. Pengakuan ini sekaligus mengakhiri teka-teki di sekitar menghilangnya Khashoggi sejak 2 Oktober silam.

Namun, dalam pernyataan tiga hari lalu itu–disampaikan Jaksa Agung Saudi–disebutkan Khashoggi tewas akibat perkelahian. Bukan sengaja dibunuh oleh sebuah tim elite Saudi, yang sengaja datang ke Istanbul untuk menghabisi nyawa si wartawan yang dikenal sangat kritis terhadap pengekangan kebebasan di negaranya.

Pengakuan pihak Saudi ini juga disertai dengan penahanan 18 warga Saudi yang ditengarai terlibat dalam perkelahian. Dekrit kerajaan pun dirilis. Isinya: Sejumlah orang penting di lingkungan kerajaan dicopot dari jabatannya. Sebuah tim–diketuai sang Putra Mahkota–pun dibentuk, guna merestrukturisasi dan mereformasi badan intelijen negara.

Pengakuan pihak Saudi, menurut Aljazeera, tidak terlepas dari hasil penyelidikan dan investigasi yang tidak kenal lelah dari pihak Turki. Bagi negara yang sangat mengandalkan sektor pariwisata seperti Turki, menghilangnya warga asing tentu sebuah aib. Apalagi, warga asing itu adalah Jamal Khasoggi—seorang penulis dan wartawan senior Saudi yang kini menjadi kolomnis di the Washington Post. Jadilah beritanya mendunia.

Lalu, bagaimana otoritas Turki berhasil mengungkap misteri menghilangnya Khashoggi ini? Kuncinya, ungkap Aljazeera, kerja sama yang apik antara aparat kepolisian (keamanan), politisi (pejabat negara), dan media. Ketiga pihak bahu-membahu untuk menggali dan menyampaikan informasi secara akurat dan terukur. Apalagi, menghilangnya Khashoggi menjadi sensitif menyangkut hubungan diplomatik dua negara, Turki dan Saudi

Mari kita lihat bagaimana trik pihak Turki mengungkap misteri. Tiga hari pertama muncul kasus Khashoggi, pihak Turki hanya menyampaikan kalau warga Saudi itu telah hilang atau menghilang. Informasi yang mereka dapat menunjukkan yang bersangkutan telah masuk Konsulat Saudi, tanpa menyebut bahwa mereka mempunyai rekaman yang memperkuat pernyataan itu.

Informasi Turki itu tampak hanya didasarkan pada kesaksian tunangan Khashoggi. Oleh karena itu, pihak Saudi pun menyatakan tidak mengetahui tentang hilangnya Khashoggi. Mereka mengatakan tidak mempunyai informasi apa pun tentang dia, sembari menyampaikan kekhawatirannya tentang nasib salah seorang warga negaranya.

Empat hari setelah menghilangnya Khashoggi dan pengingkaran Saudi terhadap peristiwa itu, media Turki—dengan sengaja dan secara sistemik—mulai merilis rekaman yang memperlihatkan Khashoggi sedang berjalan memasuki konsulat Saudi di Istanbul. Di sini, Turki tampaknya mulai memunculkan pendekatan baru. Pendekatan ‘ofensif’ yang dimaksudkan untuk menghubungkan Saudi secara langsung dengan menghilangnya Khashoggi.

Rekaman ini ternyata dikutip oleh berbagai media internasional, lengkap dengan berbagai spekulasi dan analisisnya. Hal inilah yang kemudian memaksa pihak Saudi untuk segera merespons dan menanggapi berbagai spekulasi itu agar tidak lari ke mana-mana.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Putra Mahkota Muhammad bin Salman mengonfirmasi kebenaran Khashoggi memasuki Konjen Saudi, tetapi ia menolak memberi informasi tambahan. Di sini, makin terlihat kontradiksi dari pernyataan pihak Saudi. Kontradiksi yang justru memperlihatkan indikasi kemungkinan keterlibatan pihak Saudi dalam penghilangan sang wartawan.

Peran media Turki tidak hanya menghubungkan kemungkinan keterlibatan Saudi dalam penghilangan Khashoggi, tetapi juga ikut menyebarkan berbagai rekaman satu per satu ke masyarakat internasional. Hal ini memperlihatkan bagaimana koordinasi apik antara media lokal, sumber di peradilan, pejabat keamanan, dan pejabat tinggi negara. Bagi peran ini berhasil dimainkan oleh berbagai pihak di Turki untuk memengaruhi opini dunia.

Sebagai contoh, dua media Turki, Sabah dan Yeni Safak secara bersamaan menyiarkan informasi dari sumber resmi bahwa Khashoggi kemungkinan terbunuh atau dibunuh di Konsulat Saudi dan tubuhnya telah dimutilasi untuk menghilangkan jejak.

Informasi ini disertai beberapa rekaman yang menunjukkan gerakan sejumlah mobil diplomat Saudi disertai gambar 15 orang, yang dikatakan mereka terlibat langsung dalam pembunuhan Khashoggi. Berbagai rekaman itu mengecilkan kemungkinan bahwa Khashoggi akan diculik dan kemudian dibawa kembali ke negaranya.

Berbagai barang bukti yang diperlihatkan pihak Turki inilah yang kemudian memaksa otoritas Saudi membolehkan aparat keamanan setempat untuk memasuki dan memeriksa konsulat serta rumah Konsul Jenderal Saudi. Juga membentuk tim investigasi bersama antara pihak Saudi dan Turki. Akhirnya, pihak Saudi pun mengakui Khashoggi terbunuh di Konsulat Saudi di Istanbul.

Dinyatakan terbunuh, karena, seperti ditegaskan Jaksa Agung Saudi, lantaran Khashoggi meninggal dunia akibat pertengkaran dengan sejumlah orang. Orang-orang yang terlibat pertengkaran itu kini menjadi tersangka. Mereka, berjumlah 18 orang, semuanya warga negara Saudi. Kini, mereka ditahan untuk menjalani penyelidikan.

Menurut sang jaksa agung, dari penyelidikan awal para tersangka ini pergi ke Istanbul untuk menemui Khashoggi lantaran ada indikasi yang bersangkutan kemungkinan kembali ke negaranya. Namun, saat pertemuan justru terjadi pertengkaran hebat yang menyebabkan kematian Khashoggi. Para tersangka yang terlibat pertengkaran itu lantas berusaha untuk menyembunyikan apa yang terjadi dan berusaha untuk menutupinya.

Kita belum tahu bagaimana akhir dari drama pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi. Pihak Turki, sebagai negara yang mengandalkan sektor pariwisata, tampaknya sudah bisa bernapas lega. Mereka telah bisa membuktikan Khashoggi terbunuh atau dibunuh di Konsulat Saudi di Istambul.

Bukan menghilang dan telah keluar dari konsulat seperti dikatakan pihak Saudi ketika awal kasus ini muncul. Yang masih jadi tanda tanya hingga tulisan ini dibuat adalah bagaimana ‘nasib’ jenazah almarhum Khashoggi?

Di pihak Saudi, mereka telah bertindak cepat begitu terbukti Khashoggi mati terbunuh/dibunuh di konsulatnya. Sejumlah dekrit kerajaan pun dirilis. Tidak main-main, sejumlah orang penting di lingkaran kerajaan dicopot dari jabatannya.

Mereka adalah penasihat kerajaan Saud al-Qahtani, wakil kepala intelijen umum Ahmad Asiri, asisten kepala intelijen umum Mayjen Muhammad al-Rumaih, asisten kepala intelijen umum untuk urusan SDM Mayjen Abdullah al-Shaya, dan Direktur Jenderal Keamanan dan Perlindungan Intelijen Umum Mayjen Rashad Al-Mehmadi.

Termasuk dalam dekrit itu adalah pembentukan sebuah tim yang diketuai Putra Mahkota untuk merestrukturisasi badan inteljen negara.

Pencopotan pejabat-pejabat penting itu tampaknya terkait dengan hasil penyelidikan pihak Saudi. Seperti diberitakan kantor berita Reuters, mengutip sumber penting Saudi, tidak ada perintah untuk membunuh atau menculik Khashoggi. Namun, ada semacam perintah permanen dari kepala intelijen untuk mengembalikan warga negara Saudi yang dianggap kritis terhadap penguasa yang berada di luar negeri. Perintah inilah yang kemudian ‘ditafsirkan secara keras’ yang menyebabkan kematian Khashoggi.

Kita tentu berharap Saudi sebagai negara besar dan berpengaruh akan bisa menangani gonjang-ganjing akibat terbunuhnya Khashoggi. Kita ingin negara yang diperintah oleh raja yang bergelar Pelayan Dua Tempat Suci ini akan terus stabil. Instabilitas di negara ini akan memengaruhi seluruh umat Islam yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah.

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here