Tragedi Pesawat MH370

by

Garut News ( Jum’at, 28/03 – 2014 ).

Ilustrasi. "Swift". (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. “Swift”. (Foto: John Doddy Hidayat).

Kisah pesawat MH370, pelajaran pahit bagi dunia penerbangan.

Proses pencarian pesawat Malaysia Airlines ini memakan waktu lama, dan membuat marah keluarga penumpang.

Kekacauan tak akan terjadi andaikata pesawat itu, dilengkapi sistem komunikasi canggih.

Nasib pesawat menghilang dari radar sejak 8 Maret itu, baru bisa dipastikan beberapa hari lalu.

Foto: John Doddy Hidayat.
Foto: John Doddy Hidayat.

Pesawat Boeing 777-200ER ini diperkirakan jatuh di Samudra Indonesia bagian selatan–sekitar 2.000 mil dari daratan Australia.

Besar kemungkinan, tak ada penumpang selamat.

Serpihan-serpihan diduga bagian pesawat ini ditemukan lewat pengindraan satelit.

Spekulasi muncul lantaran pesawat tersebut, lenyap begitu saja dari pantauan radar saat melintas di atas Laut Cina Selatan.

Pesawat mengangkut 239 penumpang tujuan Beijing itu, kemudian terdeteksi berbalik arah ke Selat Malaka, lalu berputar lagi menuju Samudra Hindia bagian selatan.

Boleh jadi, pesawat ini dibajak.

Tetapi kemungkinan adanya kerusakan belakangan semakin menguat.

Kejadian sebenarnya baru terungkap setelah black box ditemukan, bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Pesawat itu, sebetulnya juga dilengkapi aircraft communications addressing and reporting system (ACARS).

Kalaupun peranti ini rusak atawa sengaja dimatikan pilot, Boeing membuat sistem pelacak jejak cadangan.

Masalahnya, Malaysia Airlines sengaja tak mau memerbarui sistem komunikasinya meski biayanya cuma sekitar Rp114 ribu per penerbangan.

Aplikasi disebut Swift itu terbukti bisa membantu menemukan pesawat Air France jatuh ke palung laut Samudra Atlantik pada 2009, hanya dalam lima hari.

Swift tetap menyala meski pilot mematikan sistem komunikasi.

Tanpa aplikasi ini, proses pencarian pesawat MH370 berlangsung lebih lama, dan kudu meminta bantuan banyak negara.

Di tengah era digital sekarang, sebetulnya memungkinkan pula pesawat mengirim data penerbangan secara real time ke bandar udara, atawa kantor maskapainya.

Hanya, biaya teknologi ini masih lumayan mahal, sehingga jarang digunakan maskapai penerbangan.

Dunia penerbangan seharusnya tak mengorbankan sistem komunikasi, dan keselamatan hanya menekan biaya.

Inilah mesti diperhatikan, termasuk maskapai penerbangan di negara kita.

Beberapa tahun silam, misalnya, ada maskapai nakal tak mau memasang sistem komunikasi pesawat standar, sekalipun harganya tak terlalu mahal.

Pemerintah kita juga perlu mengevaluasi longgarnya pemberian izin mendirikan maskapai.

Tidaklah tepat memberikan izin bagi perusahaan penerbangan tanpa persyaratan modal memadai.

Kebijakan ini membuat maskapai mengabaikan sistem keselamatan penerbangan lantaran tak sanggup membeli peralatan komunikasi canggih.

Jangan sampai insiden seperti pesawat MH370 terjadi pada maskapai penerbangan di negeri ini.

*****

Opini/Tempo.co