Tragedi di Sekolah Pelayaran

Garut News ( Rabu, 30/04 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kekerasan di sekolah kedinasan kembali terjadi, dan menelan korban jiwa.

Dimas Dikita Handoko, taruna tingkat satu “Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran” (STIP) Jakarta, meninggal dianiaya seniornya.

Kementerian Perhubungan kudu segera mengevaluasi pola pengajaran di sekolah ini.

Dimas dikeroyok tujuh kakak kelasnya di luar kampus.

Ia dipukuli hingga tak sadarkan diri, dan sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong.

Sebelum penganiayaan itu, Dimas bersama beberapa temannya diminta “menghadap” seniornya di rumah kos seorang taruna di kawasan Kebon Baru, Jakarta.

Di sinilah penganiayaan itu dilakukan.

Ketujuh penganiaya Dimas ditetapkan tersangka.

Kampus pun bereaksi cepat memecat mereka.

Namun Ketua STIP Kapten Rudiana menyatakan kampus bukanlah pihak bertanggung jawab dengan alasan kejadian berlangsung di luar sekolah.

Ia juga mengatakan tak mungkin STIP mengawasi satu per satu mahasiswanya.

Sikap Ketua STIP ini amat mengherankan.

Kampus STIP tetap harus ikut bertanggung jawab lantaran penganiayaan dilakukan senior terhadap adik kelasnya.

Ini berarti ada salah pada pola pendidikan di kampus itu.

Kementerian Perhubungan mesti turun tangan membenahinya.

Budaya kekerasan biasanya dilestarikan melalui sistem pengasuhan, dan penggojlokan mahasiswa baru mesti ditumpas habis.

Sistem pendidikan ala militer ini usang, dan berbahaya.

Perubahan mendesak dilakukan sebab kejadian ini bukanlah pertama kali.

Pada 2008, Bastian Agung Gultom, taruna tingkat satu, juga tewas lantaran disiksa sepuluh seniornya.

Tak hanya memecat para pelaku penganiayaan itu, STIP akhirnya memasang CCTV di lingkungan kampus, dan asrama mengawasi perilaku para taruna.

Pengawasan ini tak efektif sebab kekerasan kemudian berpindah ke luar kampus.

Kampus kudu memutus lingkaran dendam biasa terjadi di sekolah kedinasan.

Mahasiswa junior kerap dianiaya kakak kelasnya berbuat serupa setelah menjadi senior.

Mahasiswa senior seakan memiliki kekuasaan besar, dan merasa kudu dihormati.

Begitu terdapat mahasiswa junior tak mau menghormati seniornya, ia menjadi bulan-bulanan.

Pola pendidikan salah kaprah itu bukan monopoli sekolah kedinasan.

Kita masih ingat, Oktober tahun lalu, seorang mahasiswa Jurusan Planologi Institut Teknologi Nasional Malang, Jawa Timur, Fikri Dolasmantya Surya, meninggal diduga lantaran penganiayaan seniornya saat mengikuti orientasi studi, dan pengenalan kampus.

Hanya, kudu diakui, sistem pengajaran di sebagian besar sekolah kedinasan umumnya menerapkan pola pengasuhan dan disiplin kaku.

Inilah membuat mahasiswa cenderung agresif, dan kehilangan rasa empati terhadap orang lain, bahkan kepada adik kelasnya.

Tragedi Bastian, dan Dimas terulang jika STIP tak segera merombak sistem pendidikan.

*****

Opini/Tempo.co

Related posts