Tradisi Gunung

by

-Heri Priyatmoko, Peneliti Budaya Lereng Gunung Lawu

Jakarta, Garut News (Kamis, 20/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Puncak Gunungapi Guntur. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Puncak Gunungapi Guntur. (Foto: John Doddy Hidayat).
Percayalah, masyarakat gunung merupakan kelompok yang tersisa dalam memelihara peradaban kuno di Nusantara.

Meski digempur lahar muntahan gunung berapi, tradisi gunung masih mereka rawat.

Alih-alih meninggalkan kampung halaman gara-gara rumahnya disapu lahar dan abu, sesudah situasi kondusif mereka kembali dan menunaikan tugasnya seperti sedia kala: bertani dan berkarib dengan jagat pegunungan.

Segala ritual khas pegunungan yang mengacu pada kepercayaan leluhur, yaitu animisme dan dinamisme, tetap dikerjakan demi membangun harmoni dengan alam semesta.

Juga mengekspresikan rasa syukur kepada Gusti Allah lewat persembahan tumpeng yang berisi hasil pertanian dan aneka macam sesajen.

Kemurnian budaya gunung makin terjaga karena mereka relatif tak terkena pengaruh Islamisasi dan modernisasi yang “menyerang” warga kota.

Memakai pendekatan antropologi Eric R. Wolf (1996) bahwa dunia petani bukanlah tanpa bentuk (amorphous), melainkan suatu dunia yang teratur, yang memiliki pandangan dan bentuk organisasi yang khas.

Lagi pula pandangan dan bentuk organisasi itu berbeda dengan kaum petani di wilayah pedesaan di bibir kota atau tempat lain.

Tak mudah menemukan rumusan yang berlaku bagi semuanya.

Kealpaan akan fakta ini telah menyebabkan banyak keputusan yang beriktikad baik, yang diambil pada tingkat atas masyarakat, kandas tak mampu menembus perlawanan yang berwujud kepercayaan dan pola-pola kehidupan petani.

Contohnya, kasus Mbah Maridjan beserta pengikutnya di Gunung Merapi yang tak mau direlokasi sejak dulu.

Padahal gunung legendaris itu diprediksi akan menyemburkan lahar.

Masyarakat gunung lebih percaya bahwa sing mbaurekso atau penunggu gunung tak mungkin menyakiti anak-cucunya.

Mereka yakin pula semburan gunung adalah pupuk terhebat penyubur tanaman dan mensejahterakan mereka di kemudian hari.

Dialog manusia gunung dengan alam semesta justru menghasilkan ilmu pengetahuan lokal tanpa tanding.

Bahkan membuat peneliti asing tergagap menangkap fenomena unik ini.

Misalnya, pranata mangsa yang disebut-sebut sebagai pencapaian tertinggi nenek moyang Indonesia.

Menurut pakar geografi asal Indonesia terkemuka, Daldjoeni (1983), unsur-unsur alam raya dipakai sebagai landasan manusia bekerja memperlakukan alam (sawah) sebagaimana mestinya.

Iklim yang dilambangkan dalam aneka unsur alam juga memberi pengaruh terhadap perilaku manusia.

Hubungan gejala alam dan respons manusia gunung terhadap irama peredaran musim berubah tiap tiga bulan.

Musim ketiga (musim kering), gejala alamnya hawa panas, sumur mengering, angin membawa debu, dan daun berguguran.

Mangsa labuh (antara musim kering dan musim hujan), yaitu hujan mulai turun dan alam kelihatan hijau.

Kondisi ini membuat hati manusia merasa tenteram, karena musim hujan lekas datang.

Petani gunung pun penuh keinginan, berangan apa yang diperbuat kala musim hujan tiba.

Demikianlah secuil local genius mereka.

Ia muncul berkat dialog manusia dengan alam.

Juga berkat tradisi gunung yang terus dilestarikan masyarakat pendukungnya.

Sekali lagi, gunung bukanlah musuh yang dihujat.

Sebab, di satu sisi, gunung bak museum pengetahuan lokal Nusantara.

Tanpa “batuk” gunung berapi, bumi Nusantara tak mungkin subur.

Lahar plus abunya memang pahit di depan, tapi manis di belakang.
*****
Kolom/Artikel Tempo.co