Tongsis

Yos Rizal Suriaji
@yosrizals

Garut News ( Jum’at, 14/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Memotret dengan Ponsel Juga Asyik Brow. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Memotret dengan Ponsel Juga Asyik Brow. (Foto: John Doddy Hidayat).
Hari Valentine tiba.

Pemilik sebuah akun Instagram menulis hal yang ingin ia rayakan ketika hari kasih sayang itu datang.

“Candle light dinner dengan pacar. Setelah itu selfie bersama. Tongsis sudah kusiapkan, kok,” ujarnya sambil memajang foto tongsis yang baru dibelinya.

Gambar yang ia pamerkan: sepotong tongkat dengan panjang sekitar 1 meter dengan ujung dudukan sebuah telepon seluler.

Sudah banyak orang tahu istilah selfie (self-potrait).

Sejak Presiden Barack Obama ber-selfie-ria dengan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt di pemakaman Nelson Mandela pada Desember tahun lalu, istilah ini kian populer.

Selfie bahkan sudah resmi masuk kamus Oxford.

Aktivitas memotret diri sendiri itu kadang disebut juga dengan selca (self camera) atau selka.

Dalam aplikasi berbagi foto Instagram, ada pemilik akun yang hampir setiap hari berselka-ria.

Ia memotret wajahnya puluhan kali dari berbagai sisi, dari delapan penjuru mata angin.

Ia juga memajang gambar tubuh.

Berkali-kali pula ia memotret betis yang ia banggakan-dari kaki yang masih berambut sampai yang dicukur habis.

Komplet.

Seluruh lekuk diri sendiri tersedia dalam etalase akun itu.

Hebatnya, para follower-nya rajin memberi komentar: amazing, wow, beautiful…

Nah, tongsis yang disebut gadis yang bersiap merayakan Valentine itu tampaknya akan melanggengkan ekshibisi diri sendiri tersebut.

Tongsis-kependekan dari tongkat narsis-melayani hasrat ber-selfie secara lebih kolosal.

Bukan cuma diri sendiri, melainkan “berjemaah”.

Dengan memasang kamera di ujung tongkat, lalu memencet tombol dari jarak jauh dengan teknologi bluetooth, maka tak ada yang tertinggal untuk difoto.

Semua bisa masuk satu frame gambar.

Semua bisa “narsis” bersama-sama.

Beberapa komunitas hobi kini kerap menenteng tongsis ketika berkumpul.

Monopod ini seolah menjadi senjata penting yang tak boleh dilupakan.

Di ujung pertemuan, tongkat itu dikeluarkan.

Lalu, orang-orang pun memasang pose andalan masing-masing saat sesi self-potrait bersama.

Orang di luar komunitas tak perlu lagi membantu memotret.

Semua bisa mereka kerjakan sendiri.

Saya tak sedang risau akan fenomena orang-orang yang begitu bangga pada diri sendiri, pada tubuh sendiri, dan pada komunitas mereka sendiri itu.

Ini zaman teknologi digital yang memudahkan orang mengekspresikan diri.

Tampil cantik, glamor, heboh, begitu gampang diekspose berkat inovasi-inovasi teknologi ponsel pintar.

“Me time” mendapat ruang yang mahaluas di jagat media sosial.

Wabah selfie ini justru telah membuka ceruk bisnis yang menggiurkan.

Kehadiran tongsis-terutama setelah Ani Yudhoyono ikut mempopulerkan monopod ini di akun Instagramnya-membuat pencetus nama tongsis, Babab Dito, kaya mendadak.

Ia bisa membeli rumah dan mobil dari berjualan tongkat ajaib ini.

Kios-kios aksesori ponsel pun kebanjiran permintaan alat berharga Rp 200-250 ribu itu.

Saya cuma heran, jarang orang mengungkapkan penilaiannya secara jujur terhadap selfie yang bertaburan di jejaring media sosial.

Selfie berjemaah dengan aba-aba “pasang muka jelek!” beramai-ramai yang menampilkan wajah-wajah manyun, misalnya, secara fotografi jelas kerap tak menarik.

Tapi tetap saja jepretan itu diberi acungan jempol dan komentar “cool, nice picture” dan seabrek pujian lain.

Sebaliknya, bila ada yang berusaha jujur, ia justru dengan cepat ditendang dari daftar teman. Menyedihkan. *
*****
Artikel/Kolom Tempo.co

Related posts

Leave a Comment