Tiran Kenegaraan

0
15 views
Tembok Besar Cina berwarna biru akibat pendaran lampu dalam rangka perayaan hari PBB ke-70, beberapa waktu lalu. (EPA).

Jumat , 12 May 2017, 09:06 WIB

Red: Fitriyan Zamzami

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Yusuf Maulana*

Tembok Besar Cina berwarna biru akibat pendaran lampu dalam rangka perayaan hari PBB ke-70, beberapa waktu lalu. (EPA).
Tembok Besar Cina berwarna biru akibat pendaran lampu dalam rangka perayaan hari PBB ke-70, beberapa waktu lalu. (EPA).

Kaisar Han, Xian Di, sadar betul perangai Perdana Menteri Cao Cao membahayakan negara. Tapi Kaisar mengukur diri, kuasanya begitu lemah di hadapan sang perdana menteri. Meski Cao Cao berlaku tiran dan mengangkangi hukum negara, Kaisar nyaris hanya memendam kesal.

Begitu kuat pengaruh Cao Cao sampai sering kali beranjak jauh melangkahi kebesaran Kaisar. Yang bikin gusar Kaisar adalah Cao Cao bertindak dengan perhitungan cermat. De jure memang Kaisar yang berkuasa, tapi de facto justru Cao Caolah yang paling mengambil putusan penting.

Sampai akhirnya Kaisar Xian Di memberanikan diri melawan. Darahnya dipakai untuk menulis pesan rahasia kepada para menteri setianya, Dong Chen. Dari sang menteri ini berhimpun pejabat negara yang loyalis Kaisar: Wang Zifu, Wu Zilan, Chong Ji, Wu Shi, hingga sang paman Kaisar, Liu Bei. Surat beralmanak bulan 3 semi tahun Jianling ke-4, atawa 199 masehi, menjadi titik awal Kaisar tak ingin di bawah bayang-bayang kepongahan Perdana Menteri.

Surat Kaisar itu dalam perkembangannya tidak begitu berpengaruh. Surat hanya mampu mensolidkan mereka yang antipati dengan tindak tanduk Cao Cao. Sebab, Perdana Menteri dengan mudah membuat kategorisasi kepada pejabat atau pihak yang tidak disukainya sebagai lawan negara. Sebutan “pemberontak”, “melawan Kaisar”, “pengkhianat”, begitu mudah diberikan kepada siapapun yang menghalang ambisi dan rencana Cao Cao.

Pelabelan yang diakhiri pembinasaan oleh Cao Cao dan pasukannya ini bukan sekali atau dua kali diperbuat. Inilah yang membuat rakyat ketakutan tapi tak berani melawan. Sementara Kaisar dan para pejabat setianya hanya diam, untuk tidak mengatakan ketakutan terhadap pengaruh Cao Cao.

Cao Cao, alias Cao Mengde, memang jenius, sayangnya ia pergunakan kepintarannya untuk meneror lawan politiknya. Sekali ia berkeinginan, tidak boleh ada yang menghalangi. Tidak peduli cara-caranya salah dan membinasakan pihak yang dibencinya.

Sebelum lawannya dibinasakan, ia berikan predikat buruk agar rakyat menjauhi bahkan memusuhi. Tak sedikit yang termakan hasutannya. Pada Liu Bei cara-cara membenturkan dengan rakyat tidak mempan lantaran sang paman Kaisar ini dicintai rakyat.

Pelabelan buruk kepada pihak berlawanan yang diperbuat Cao Cao berabad-abad lampau itu bukanlah sebuah fiksi dalam epos heroik negeri Tiongkok: Sam Kok atau San Guo Yan Yi. Sang pengarang, Lou Guanzhong sesungguhnya meramu kejadian nyata dalam drama kebesaran Tiongkok klasik. Inilah drama kekuasaan dengan sederet ambisi dan intrik manusia di dalamnya.

Cara-cara kotor menebar label buruk dan mendakwa diri paling patriotis, sebagaimana yang diyakini mantap Cao Cao, sering hadir dalam zaman kapan pun. Tak mawas diri bahwa tingkah lakunya justru berkebalikan dengan imajinasi kepahlawanan diri. Malahan mereka yang diperangi justru berada sebagai protagonis dalam pertarungan tersebut.

Pemahlawanan diri adalah modus operandi untuk menjalankan misi kelompok. Namun berbeda dengan lakon para pahlawan sejati, pemahlawan diri diiringi dengan pengategorian pihak lain. Misinya tak lain agar menjaga pihak lain tetapi sebagai “iblis” yang wajib dan niscaya diperangi. Sementara, kami atau kita adalah pahlawan.

Pengategorian (labelling) ini hanya satu bagian dari politik ketakutan, yakni memunculkan takut pada pihak lain agar tunduk sekaligus pendukung sendiri agar loyal pada kategori rekaannya. Bisa dikatakan, politik ketakutan tak lain pendisiplinan agar pihak lain tidak membuat jalur lain menghalangi ambisinya.

Cao Cao sebenarnya bukan orang pertama dalam struktur kekuasaan Tiongkok. Sayangnya, Kaisar tidak memiliki daya melawan. Upayanya membuat surat dukungan melawan Cao Cao sebatas upaya maksimal dari figur lemah yang seyogianya menjalankan mandat rakyat.

Inilah hal yang mencemaskan ketika kekuasaan dipegang pihak lemah dan dimanfaatkan pihak lain yang penuh ambisi. Takdir itu, menyedihkannya, kita rasakan kini di masa digital, di era ketika keterbukaan informasi terjadi.

Betapa menyedihkan mendapati kategorisasi kalangan yang tidak menyetujui kelakuan penguasa culas dengan predikat “radikal”, “makar”, “anti-Pancasila”, “kalangan intoleransi”, “penolak kebhinekaan”, dan ragam ujaran tertulis dan lisan lainnya. Semuanya mengarah untuk menepikan pihak lain yang menghadang ambisi mereka.

Repotnya, serupa Cao Cao, aparatur membekingi tanpa malu-malu. Perlakuan beda akhir-akhir ini mudah didapati ketika fragmen serupa Cao Cao diterapkan. Bahkan saat aturan hukum aparat hingga kekerasan biadab hadir, semua dimaklumi hanya karena diperbuat kalangan yang bertentangan dengan kategori negatif itu.

Menyebut negara kita tengah memasuki zaman fitnah sebenarnya masih berat. Nyatanya sukar dielakkan ketika logika dibolak-balikkan. Yang tegas dan kasatmata menabrak aturan merasa diri paling pantas menyandang pancasilais dan setia UUD 1945; yang lain minggir dan patut diprasangkai.

Padahal, klaim-klaim itu serupa Cao Cao: hanya memuluskan ambisi orang yang ingin menguasai negeri ini. Hanya karena anasir pembelanya sudah termabukkan dengan predikat paling pancasilais (dan serupa itu), kebenaran dan kesalahan tak lagi objektif.

Bagi mereka, kami paling berhak menyandang kebaikan sehingga apa pun berhak dikerjakan, terlebih aparat berada di sisinya. Persis ketika Cao Cao menggunakan aparat dan perangkat negara buat membabat habis penghadang misinya menguasai Kaisar.

Kategorisasi yang menakutkan itu direproduksi agar rakyat takut. Agar rakyat memilih orang-orang berwatak Cao Cao tapi teranggap pahlawan, ataukah menyeberang ke kalangan penentangan tapi kadung disebut kaum radikal intoleran dan pemberontak negara.

Inilah simulakra yang memerosokkan banyak orang untuk mencintai kekuasaan dengan jalan biadab. Dan mereka rela mati meski memendam di hatinya rasa bersalah. Sayang, semuanya dibunuh demi ambisi segelintir orang. Riwayat akal dan nurani sudah tiada di hadapan mereka yang takluk membela nafsu berkuasa.

Demikianlah bahaya tiran kenegaraan, yang sering kali tidak disadari oleh mereka. Hanya karena takut disebut intoleran, radikal, pemberontak dan sebutan buruk lainnya, mereka memilih berada di kubu tiranik tadi. Kesadaran mereka sudah dibalikkan untuk menilai adil fakta yang ada. n

*Kurator pustaka lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta

************

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here