Tirakat Bung Hatta di Digoel

0
118 views

Oleh ALOYSIUS B KURNIAWAN

Garut News ( Selasa, 19/05 – 2015 ).

Monumen Patung Mohammad Hatta, proklamator Republik Indonesia (RI), berdiri kokoh di kompleks situs penjara dan kamp pengasingan Boven Digoel di Tanah Merah, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Senin (13/4/2015). Sebagian bangunan bekas penjara dan kamp pengungsian masih terawat hingga sekarang, tetapi rumah-rumah pengasingan lain telah berubah fungsi dan rusak. (KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN).
Monumen Patung Mohammad Hatta, proklamator Republik Indonesia (RI), berdiri kokoh di kompleks situs penjara dan kamp pengasingan Boven Digoel di Tanah Merah, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Senin (13/4/2015). Sebagian bangunan bekas penjara dan kamp pengungsian masih terawat hingga sekarang, tetapi rumah-rumah pengasingan lain telah berubah fungsi dan rusak. (KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN).

“Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Di atas segala lapangan tanah air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku” (Bung Hatta).

Mohammad Hatta menulis renungan itu pada 20 Januari 1934, beberapa saat sebelum dirinya ditangkap dan dibuang ke tempat pengasingan. Ia sadar akan menghadapi konsekuensi serius akibat aktivitas politiknya.

Dan benar. Tak lama sesudah itu Bung Hatta bersama tokoh-tokoh Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), seperti Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan, Maskun, Burhanuddin, Suka Sumitro, dan Moerwoto, akhirnya diasingkan ke Tanah Merah, Boven Digoel, pelosok Papua bagian selatan.

Bagi para pejuang pergerakan, daerah itu adalah tempat pembuangan yang paling menyeramkan.

“Digoel merupakan semacam kamp konsentrasi yang dibuat kolonial. Tempatnya sangat terpencil di pinggir Sungai Digoel, yang banyak buaya ganasnya sehingga siapa pun akan sulit melarikan diri,” kata sejarawan Anhar Gonggong, awal April 2015.

Bondan memaparkan perjalanan panjang pembuangan mereka dalam catatan hariannya yang disusun Molly Bondan, Spanning A Revolution, Kisah Mohammad Bondan, Eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia (2008).

Awalnya, Bung Hatta dan Bondan ditampung terlebih dulu di penjara Glodok, Jakarta, kemudian Maskun, Burhanuddin, dan Suka di Penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, sementara Sjahrir ditampung di Penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Mereka lalu diangkut menggunakan Kapal Melchior Treub dari Tanjung Priok. Setelah singgah beberapa hari di Makassar, Sulawesi Selatan, mereka lantas diangkut dengan kapal Pijnacker Hordijk milik Koninklijk Pakketvaart Maatschappij (KPM) ke Ambon.

Dari sana, mereka dipindahkan lagi ke Kapal Albatros atau biasa disebut kapal putih untuk diangkut menuju Digoel.

Pedalaman Digoel sangat sulit ditembus. Satu-satunya moda transportasi yang bisa menjangkau tempat tersebut saat itu hanya kapal. Dibutuhkan waktu berhari-hari untuk mencapai Tanah Merah, yang jaraknya sekitar 500 kilometer dari muara Sungai Digoel di Laut Arafura.

Begitu kapal putih merapat di Dermaga Tanah Merah, siapa pun harus bersiap menghadapi ancaman mematikan Papua: penyakit malaria!

Ali Archam, digoelis (sebutan untuk orang buangan di Digoel) yang diasingkan di Tanah Tinggi, Boven Digoel, sekitar 40 kilometer di atas Tanah Merah, meninggal akibat serangan malaria.

Karena tantangan hidup yang sangat berat, sebagian orang buangan bahkan mengalami sakit saraf hingga gangguan jiwa.

Namun, karena sudah siap lahir dan batin, Bung Hatta tak risau dengan dirinya. Di tempat pembuangan, Bung Hatta masuk dalam golongan naturalis karena tidak mau bekerja sama dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Ia hanya mendapat jatah uang 2.50 gulden per bulan.

Dalam wawancara Deliar Noer dengan Moerwoto di buku Mohammad Hatta Biografi Politik (1990), Bung Hatta sempat ditawari pekerjaan oleh pengawas kamp dengan upah 7.50 gulden per bulan. Namun, ia menolaknya.

Jika sejak awal mau berkompromi dengan Belanda, di Jakarta pun, Bung Hatta sebenarnya bisa mendapat gaji jauh lebih sekitar 500 gulden per bulan.

Namun, dia sengaja memilih bermati raga alias tirakat di tempat pembuangan demi memperjuangkan ideologi kebangsaan. Keutamaan karakter ini sangat langka dijumpai pada pemimpin-pemimpin masa kini.

Di tempat pengasingan, Bung Hatta mencari nafkah secara terhormat dengan menulis di sejumlah surat kabar, seperti Adil, Pemandangan, Panji Islam, atau Pedoman Masyarakat. Honornya untuk tambahan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di pembuangan, Bung Hatta juga menyempatkan diri mengajar para digoelis, mulai dari ilmu politik, ekonomi, sosiologi, hingga filsafat. Pengucilan fisik tidak mampu membelenggu pikiran dan gagasan tokoh ini.

Hanya sebulan setelah tiba di Digoel, Hatta membuka kursus belajar filsafat, sejarah, dan ekonomi. Bondan adalah salah satu muridnya untuk mata pelajaran ekonomi.

Dicabut dari “akarnya”

Belanda sengaja mengucilkan Bung Hatta ke Digoel. Menurut sejarawan Hilmar Faried, dengan dikucilkan, tokoh-tokoh pergerakan nasional tidak akan bisa melebarkan sayap pengaruhnya. Mereka benar-benar dicabut dari akar komunitasnya.

“Gubernur Jenderal memiliki hak istimewa exorbitante rechten. Dengan hak ini, Gubernur Jenderal bisa menindak orang-orang tertentu demi menjaga ketertiban dan keamanan umum. Salah satunya, dengan mengasingkan mereka ke suatu tempat, tanpa melalui putusan pengadilan,” paparnya.

Namun, upaya pembungkaman itu tidak mampu mematikan langkah Bung Hatta dan tokoh-tokoh pergerakan lain. “Semakin mereka dibatasi, justru pergerakannya semakin kuat,” kata Thimotius Anok, tokoh masyarakat sekaligus Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Boven Digoel.

Masih terpelosok

Sekarang, 81 tahun setelah pengasingan Bung Hatta, Digoel belum banyak berubah. Kawasan ini masih tetap menjadi kabupaten terpelosok di ujung selatan Papua meski sudah bisa dijangkau lewat darat dan udara.

Saat cuaca baik, perjalanan darat dari Merauke ke Boven Digoel bisa ditempuh dalam waktu 7-9 jam. Namun, begitu musim hujan, jalur darat terhambat jalanan yang hancur dan rusak parah.

Saat Kompas mengunjungi Digoel, awal April 2015, banyak mobil terjebak di kubangan lumpur di ruas jalan Merauke-Boven Digoel. Hanya mobil-mobil berpenggerak empat roda yang bisa melintas. Itu pun dengan susah payah dan lama.

Ketersediaan pesawat menuju Bandara Boven Digoel juga masih sangat terbatas dengan daya muat pesawat maksimal hanya tujuh penumpang.

Sekitar empat hingga lima tahun lalu, orang bahkan bisa berhari-hari atau berminggu-minggu tinggal di jalan karena akses darat menuju Digoel sulit ditembus. Begitu juga dengan kapal. Penumpang membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa sampai ke kawasan itu.

“Bisa dibayangkan bagaimana sangat terasingnya tempat ini saat pemerintah kolonial membawa Bung Hatta dan orang-orang buangan lain. Sebagai perbandingan, saat ini untuk menelusuri Sungai Boven Digoel dari Digoel ke Mappi menggunakan kapal cepat butuh waktu tiga hari dan menghabiskan bahan bakar minyak hingga Rp 10 juta. Dulu, kapal putih pasti perlu waktu lebih lama sampai ke Tanah Merah,” ujar Pastor Paroki Hati Kudus Tanah Merah Jhems Kumolontang MSC.

Kegigihan Bung Hatta tinggal di Boven Digoel, menurut Anhar Gonggong, menjadi titik penting untuk membangun kesadaran bahwa Indonesia ini dibangun oleh orang-orang yang bersedia menderita.

“Pemimpin sekarang tidak ada yang mau menderita. Mereka menuntut segala macam fasilitas dan kemudahan, tidak memikirkan apa yang diberikan untuk bangsa,” ujarnya.

******

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : Harian Kompas/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here