Tikus Garut Makin Merajalela Ranggas Areal Persawahan

Garut News ( Jum’at, 05/09 – 2014 ).

Terpaksa Menebas Padi yang Diranggas Tikus. (Foto: John Doddy Hidayat).
Terpaksa Menebas Padi yang Diranggas Tikus. (Foto: John Doddy Hidayat).

Sampai sekarang ternyata serangan hama tikus di Garut, Jawa Barat, masih semakin merajalela.

Meski Dinas “Tanaman Pangan dan Hortikultura” (TPH) mengaku melakukan langkah pengendalian.

Sehingga kalangan petani pun kian dilanda frustasi. Lantaran tikus tak hanya meranggas tanaman padi melainkan juga tanaman lain pada areal kebun masyarakat.

Di antaranya menyerbu jagung, cabai, dan lainnya. Petani pun digerus kerugian mencapai jutaan rupiah.

Inilah Korban Diranggas Tikus. (Foto: John Doddy Hidayat).
Inilah Korban Diranggas Tikus. (Foto: John Doddy Hidayat).

“Daerah kami cukup jauh dari persawahan. Namun tanaman jagung kami juga ludes diserang tikus. Saya bertanam jagung di kebun biasanya menghasilkan hingga satu ton. Tetapi saat ini bisa dipanen hanya sekitar empat kuintal. Selebihnya dijarah tikus,” ungkap petani di Kampung Nangoh Desa Pasanggrahan, Sukawening, Saepuloh, Kamis (04/09-2014).

Ungkapan senada dikatakan penduduk lainnya, Romdon. Dia kemukakan, serangan hama tikus terhadap tanaman jagung dan palawija lainnya terjadi pula di Desa Bebedahan.

Dia mengaku bingung lantaran tikus menyerang tanaman padi atawa tanaman lainnya itu, sulit dibasmi.

Apalagi populasinya sangat banyak.

“Pernah dicoba diburu, tetapi lubang tempat sembunyinya enggak ketemu. Ada juga saudara saya mencoba mau berburu tikus pada malam hari, namun setelah berhadapan malahan ketakutan menyaksikan ribuan ekor tikus menjarah sawah. Jadi tak aneh satu petak sawah hancur diserang tikus semalam,” katanya.

Dinas TPH kabupaten setempat mencatat hingga 30 Juli 2014, luasan areal sawah diserang hama tikus mencapai 2.071 hektare.

Terdiri seluas 1.985 hektare rusak ringan, 73 hektare rusak sedang, 11 hektare rusak berat, dan dua hektare menjadi puso.

Serangan tikus merata pada seluruh areal persawahan di 42 wilayah kecamatan di Garut.

Daerah paling parah mengalami kerusakan terjadi pada wilayah utara, dan Tengah Garut.

Kepala Dinas TPH, Tatang Hidayat mengaku meski mulai memasuki kemarau kering, serangan hama tikus masih berlangsung.

Kondisi tersebut antara lain cuaca masih ada turun hujan di malam hari, terjadi genangan air terus menerus di petakan sawah, dan sanitasi lingkungan sawah terbilang jelek, baik lantaran berdekatan aliran sungai atawa banyaknya tanaman rimbun.

Kondisi ini, katanya diperparah mulai langkanya hewan predator tikus seperti ular dan elang lantaran diburu.

Pada beberapa tempat padinya tak tersedia, kata Tatang, hama tikus bergilir menyerang tanaman lain, seperti jagung, dan cabai.

“Populasi tikus bisa mencapai 2.048 ekor dari sepasang tikus dalam setahun. Mereka cari makan berombongan dan semalam bisa menjelajah sejauh 1-2 kilometer. Maka serangan tikus ini cukup dahsyat apabila tak dikendalikan,” ungkap Tatang.

Kendati serangan hama tikus masih merajalela, Tatang mengaku pihaknya melakukan pelbagai langkah pengendalian, meski dalam skup kecil.

“Pernah juga melakukan gerakan serempak pengendalian tikus sampai tiga kali di 42 kecamatan dengan obat anti tikus menggunakan Basmikus, Rotgen, dan Tiran. Ternyata ini cukup efektif,” katanya.

Diakuinya, total kerugian kehilangan produksi padi akibat kerusakan sawah diserang hama tikus sejak Januari itu bisa lebih besar lagi, jika data kerusakan sawah terserang tikus selama Agustus turut dihitung.

“Agustus belum dihitung. Karena laporannya kan triwulan. Yang jelas kerusakan sawah akibat serangan hama tikus pada Agustus ini menurun hanya sekitar 178 hektare,” katanya pula.

******

Noel, Jdh.

Related posts

Leave a Comment