Tikus Garut Hilangkan Penghasilan Petani Capai Rp817.718.000

0
30 views
Ilutrator : M. Erwin Ramadhan/Fotografer : JDH.
Suami-Istri Renungi Gagal Panen Lantaran Kekeringan, dan Serangan OPT.

“Meranggas 119.900 kg GKG Setara 74.538 kg Beras”

Garut News ( Selasa, 17/09 – 2019 ).

Sporadisnya serangan hama tikus di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sedikitnya meranggas 119.900 kg ‘Gabah Kering Giling’ (GKG) bernilai Rp659.451.000 atau setara 74.538 kg beras yang menghilangkan penghasilan petani mencapai Rp817.718.000,-

Satwa pengerat buta warna namun sangat tajam penciuman, peraba dan pendengarannya itu, dengan dituntun kumis serta bulu-bulu yang panjang menerjang 135 hektare  tanaman padi pada 20 wilayah kecamatan.

Kepala Seksi Serelia Bidang Tanaman Pangan Endang Junaedi katakan, merebaknya serangan tikus di musim kemarau bersamaan dengan berkembang-biaknya mereka berpopulasi mencapai sekitar 2.048 ekor setiap 20 hari.

“Tikus lapar daya jelajahnya mencapai radius 700 meter setiap ekornya, merusakan 15 persen dari areal tanaman padi yang dijarahnya,” katanya.

Terdapat 96 hektare di antaranya bisa dikendalikan secara kimiawi, dengan pengumpanan, dan emposan tikus, ujar Endang Junaedi, Jum’at.

Serangan ‘organisme pengganggu tanaman’ (OPT) pada kemarau panjang 2019, juga hama penggerek batang, dan wereng coklat, ungkap Sekretaris Dinas Pertanian kabupaten setempat, Haeruman.

Persawahan terserang penggerek batang lebih luas lagi dibandingkan yang diserang tikus, mencapai 154 hektare tersebar pada 25 kecamatan, berintensitas kerusakan ringan. Sedangkan serangan wereng coklat mencapai 17 hektare tersebar di dua kecamatan.

“3.129 hektare diterjang kekeringan”

Raibnya produksi 15.531.375 Kg GKG menjadikan petani padi sawah , hingga 13 September 2019 kehilangan  penghasilannya mencapai  Rp85.422.563.050 dengan asumsi harga GKG Rp5.500 per kilogram,-

“Lantaran 3.129 hektare areal persawahan diterjang kekeringan kemarau panjang, yang juga mengancam 2.525 hektare lainnya,” beber Endang Junaedi.

Terdiri kerusakan ringan 326 hektare hilangkan penghasilan Rp2.654.088.250, kerusakan sedang 377 hektare bernilai Rp6.138.596.750 kemudian rusak berat 486 hektare (Rp13.452.808.050, serta berdampak puso atau gagal panen 1.940 hektare menghilangkan penghasilan terbesar mencapai Rp63.177.070.000,-

Ada 620 hektare yang bisa tertangani dengan gerakan-gerakan pompanisasi, juga memanfaatkan  sumber-sumber air tersedia bersistim gilir-giring atau penjadwalan terutama pada daerah-daerah irigasi.

“Sedangkan pertanaman padi yang masih ada di lahan sawah 21.818 hektare dengan usia bervariasi, akibat tanam ‘tidak serempak’ ini banyak kelemahan,” kata dia, ‘berteori’.

Besarnya kehilangan penghasilan petani itu, berdampak sosial penurunan daya beli terutama bagi 15.645 KK petani gurem yang tergabung dalam 209 kelompok, mereka menghidupi 78.225 anggota keluarga.

Berdasar laporan dampak kekeringan pada 15 hari lalu kehilangan penghasilan petani Rp80.399.334.675  yang hingga 13 September 2019 menjadi Rp85.422.563.050 atau meningkat Rp5.023.228.375,-

Sehingga 15.645 KK petani setiap harinya kehilangan penghasilan Rp334.881.891 atau setiap KK petani setiap hari kehilangan penghasilan Rp21.405,-

“Masih lebih mahal harga sebungkus rokok, meski kerugian sekecil apapun kudu diantisipasi menjadi seminimalis mungkin dengan ragam upaya yang dilakukan,” katanya pula dengan nada ‘ringan’.

Dampak kekeringan ini pun belum termasuk kehilangan penghasilan dari jenis tanaman hortikultura, juga besarnya kehilangan penghasilan 15.531.375 kilogram GKG disetarakan dengan 9.629.452 kilogram beras bernilai Rp105.923.972.000 dengan asumsi harga setiap kilogram beras Rp11 ribu.

Demikian pula akibat serangan tikus menerjang 119.900 kilogram GKG dengan kerugian Rp659.451.000 disetarakan dengan 74.538 kilogram beras bernilai Rp817.718.000,-

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here