Tiga Tawaran Sikap Qurani Hadapi Perubahan Sosial Covid-19

0
15 views
Kajian Seusai Shalat Shubuh di Ponpes Yadul 'Ulya Garut, Ahad (28/06-2020).

Ahad 28 Jun 2020 06:27 WIB
Red: Nashih Nashrullah


Prof Dr Syihabuddin Qalyubi, Lc, MAg guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. – (Dok Istimewa)

“Covid-19 berdampak pada perubahan sosial tatanan masyarakat” 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof Dr, Syihabuddin Qalyubi, Lc MA*

Covid-19 telah merenggut banyak nyawa, sehingga menjadi permasalahan dunia. Setiap negara berlomba untuk menghentikan penyebarannya. Di sisi lain, manusia banyak yang cemas karena keterlambatan pemerintah mereka dalam memberantas virus setelah mereka berpikir perkembangan ilmiah dan teknologi akan mengakhirinya. Negara-negara besar yang secara ekonomi dan finansial memiliki potensi luar biasa, tampak tidak mampu menghadapi makhluk yang sangat kecil itu.

Kondisi sulit ini sangat mempengaruhi tata kehidupan sosial, banyak orang kehilangan pekerjaannya, antara individu sosial masyarakat mengalami hambatan dalam berkomunikasi, proses belajar-mengajar mengalami banyak kendala. Fenomena seperti ini sudah barang tentu akan menimbulkan perubahan sosial (social change) termasuk merubah prilaku manusianya.

Kajian Qur’an. dan Hadits di Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya.

Dalam berbagai literatur sosiologi disebutkan bahwa social change atau perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya. Perubahan ini mencakup nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku (Prof Selo Soemardjan).

Perubahan tersebut bisa terjadi secara evolusi ataupun revolusi, berdasarkan perencanaan ataupun tanpa perencanaan. Pengaruh perubahannya bisa bersekala kecil ataupun bersekala besar. Di samping itu dampak dari perbuhan itu bisa positif dan bisa negatif.

Dengan memperhatikan teori social change, maka Covid-19 termasuk perubahan sosial secara revolusi, karena dalam waktu relatif singkat corona bisa merubah tatanan sosial bukan berskala nasional, tetapi serentak berskala dunia.

Banyak negara tidak berdaya menghadapinya, sosial ekonomi mandeg atau turun drastis, karena corona datang secara tiba-tiba, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa direncanakan sebelumnya. Pengaruhnya pun berskala besar karena seluruh sektor kehidupan sosial kelimpungan. Sehingga sangat berdampak terhadap perilaku sosial, baik positif maupun negatif.

Henndy Ginting, ketua Kompartemen Pengembangan Asosiasi/Ikatan PP HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) berpendapat bahwa Covid-19 akan mengubah perilaku manusia mencakup perilaku hidup sehat, perilaku menggunakan teknologi, perilaku dalam pendidikan, perilaku menggunakan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial keagamaan.

Manusia akan semakin terbiasa menjaga pola hidup sehatnya, makan yang bergizi, senang berolahraga, dan rajin memeriksa kesehatannya secara teratur. Selanjutnya manusia akan terbiasa menggunakan teknologi digital untuk alat komunikasi, alat produksi dan kebutuhan lainnya. Dalam bidang pendidikan, pengajar dan peserta didik akan terbiasa menggunakan media pembelajaran jarak jauh, misalnya email, WAG, Google Meet, Zoom, dan google classroom. Namun di sisi lain manusia akan dibanjiri informasi yang belum jelas kebenarannya.

Mereka akan memilih hidup lebih sederhana, dengan hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Karyawan yang berada pada kelompok middle income ke atas biasanya melakukan saving sebelum dan selama masa pandemik.

Apabila kelompok ini kehilangan pekerjaan, mereka akan mencari peluang untuk pengembangan diri. Masyarakat menjadi lebih sadar tentang makna ritual keagamaan dan kaitannya dengan kematangan spiritual dengan memandangnya sebagai proses mencari sesuatu yang lebih utama dan bermakna.

Sejarah mengingatkan kita, bahwa pada abad ke-14 telah terjadi pandemi yang dahsyat, disebut black death (wabah hitam) yang konon telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa. Demikian pula Perang Dunia telah menghancurkan Jepang, Jerman, dan negara-negara lainnya, namun negara-negara yang dilanda musibah itu ternyata telah mampu menghadapinya dan bisa bangkit, sehingga musibah yang dialaminya itu menjadi enerji positif kebangkitan sosial, politik, ekonomi dan lainnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’du: 11)

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Yang demikian itu sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” ( QS al-Anfal: 53)

 

Perubahan sosial merupakan salah satu aspek kehidupan yang senantiasa ada tanpa berhenti karena tunduk kepada Sunnatullah. Banyak sekali ayat Alquran yang menginformasikan adanya perubahan, sebagaimana firman Allah SWT:

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Ankabut: 19)

Ayat ini menjelaskan betapa mudah bagi Allah SWT mengubah atau mengganti fenomena kehidupan manusia, dari tidak ada menjadi ada dan menjadi tidak ada lagi. Sehingga Muhammad Abduh mengungkapkan perubahan itu sebagai sunnatullah (kebiasaan Allah) yang berhubungan dengan tabiat manusia.

Syekh Saīd Ramadhan Al Būthī juga menjelaskan bahwa sikap kita terhadap Allah harus sesuai dengan perintah-Nya (taat dan beriman sepenuhnya kepada Allah). Sikap kita terhadap sunatullah harus sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya sebagai asas keteraturan alam.

Islam memberikan pedoman Qurani menghadapi perubahan sosial

Allah SWT memerintahkan kita untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari obat bila sakit, dan menjaga kesehatan serta waspada terhadap segala yang menyebabkan kita celaka dan sakit (termasuk waspada dan berikhtiar dalam menanggulangi wabah corona) .

Kemudian Allah juga memerintahkan kita untuk mengetahui dengan ilmul yakin bahwa tidak ada satupun yang berbuat sesuatu selain Allah, tiada sesuatu berpengaruh selain dengan sunatullah. Kita juga diperintahkan untuk meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan segala sesuatu di alam ini untuk menjalankan tugas sesuai amanah yang dititipkan padanya sebagai firman-Nya: أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ ‘Ketahuilah, dia hanya milik-Nya segenap makhluk dan segenap urusan. (QS Al-A’raaf: 54)

Perubahan sosial diakibatkan Covid-19 merupakan bagian dari sunatullah, kita sebagai makhluk hidup tidak bisa menghindar dari sunatullah ini. Di hadapan kita, paling tidak, ada tiga hal yang sebaiknya dilakukan.

Pertama, mengerahkan segala daya upaya untuk mempelajari sunatullah atau hukum alam ini melalui ilmu pengetahuan atau teknologi, sehingga kita bisa menemukan rahasia di balik Covid-19 dan bisa merespons secara positif segala perubahan yang ditimbulkannya. Jangan sampai terjadi merespons virus corona ini memunculkan virus lainnya yang lebih berbahaya, seperti dekadensi moral dan hilangnya nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial.

Kedua kita sebagai umat Islam (orang yang tunduk kepada kekuasaan Allah) harus bertawakkal dalam pengertian sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa dalam hidup ini ada hukum (sistem) yang berlaku di luar kehendak manusia, sehingga dalam segala ikhtiar itu senantiasa dikembalikan kepada Allah SWT.

Ikhtiar dan tawakkal telah dicontohkan nabi Yusuf AS tatkala mengajarkan masyarakat Mesir menghadapi musim paceklik. Yusuf AS mendapat informasi bahwa masyarakat Mesir akan menghadapi tujuh tahun masa sulit. Masa sulit itu merupakan siklus kehidupan yang tidak bisa dihindarinya, maka Yusuf mengajarkan mereka untuk bercocok tanam dan menuainya secara baik selama tujuh tahun pula, ternyata masa sulit itu benar-benar datang, maka bahan pangan cadangan yang sudah disimpan selama tujuh tahun bisa dipergunakan untuk menutup kebutuhan pangan selama masa sulit itu. (Perhatikan QS Yusuf: 43-49).

Ketiga, pintar-pintar mengambil hikmah di balik Covid-19. Sewaktu virus corona muncul, lalu diikuti himbauan pemerintah agar tidak keluar rumah, banyak mengejutkan manusia dan banyak masyarakat yang tidak mau menerima kenyataan ini, karena tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya, tidak bisa melakukan ibadah sebagaimana biasanya, dosen/guru tidak bisa bertatapmuka langsung dengan mahasiswa/muridnya, dan tidak bisa berinteraksi sosial sebagaimana lazimnya.

Keadaan ini secara pelan-pelan sudah bisa ditangkap hikmahnya oleh sebagian anggota masyarakat, bahwa masyarakat di Covid-19 ini membutuhkan masker dalam jumlah cukup banyak, sehingga bisa dijadikannya sebagai pangsa pasar baru.

Umat Islam tidak bisa melaksanakan ibadah secara berjamaah di mesjid membuat suasana ibadah di rumah menjadi semakin bergairah. Dosen/guru tidak bisa bertatap langsung dengan mahasiswa/muridnya bisa memacu untuk semakin terampil menggunakan IT sebagai media pembelajarannya, di samping itu dosen/guru mempunyai waktu yang cukup untuk membuat karya ilmiah dan karya lainnya. Masyarakat tidak bisa saling berkomunikasi langsung untuk rapat, kegiatan ilmiah dan kegiatan lainnya bisa digantikannya dengan komunikasi via Zoom, Google Hangsouts Meet, Cisco Webex dan lainnya.

Perubahan sosial ini sudah barang tentu harus dijalani secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup panjang, karena berhubungan dengan perubahan nilai, budaya, dan perilaku masyarakat. Semoga kita bisa melampaui masa pasca Covid-19 dengan lancar dan tidak menimbulkan efek samping yang merugikan kehidupan bermasyarakat, beragama, dan bernegara. Amin

*Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

*******

Republika.co.id

Dok : Istimewa/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here