The Tank Man

Garut News ( Ahad, 15/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : Hidayat ).
Ilustrasi. (Foto : Hidayat ).

Ia disebut “The Tank Man”: seorang berbaju putih yang berdiri sendirian di tengah jalan, menghadang empat tank yang bergerak ke Tiananmen, Beijing.

Hari itu 5 Juni 1989.

Siapa dia?

Tak ada yang tahu.

Bisa jadi ia warga biasa yang tiba-tiba tak bisa menahan marah melihat tentara datang lagi setelah membunuh puluhan demonstran di Lapangan Tiananmen 40 jam sebelumnya.

Mungkin ia hendak berseru: “Kembalilah kalian! Korban sudah cukup!”

Kita tak tahu itukah yang dikatakannya.

"The Unknown Rebel" — Potret terkenal ini, yang diambil oleh jurufoto Associated Press Jeff Widener, menggambarkan seorang pengunjuk rasa tunggal yang menantang majunya sebarisan tank selama lebih dari setengah jam.
“The Unknown Rebel” — Potret terkenal ini, yang diambil oleh jurufoto Associated Press Jeff Widener, menggambarkan seorang pengunjuk rasa tunggal yang menantang majunya sebarisan tank selama lebih dari setengah jam.

Tapi sejak itu, dunia mengenangnya: sosok pemberani yang diabadikan kamera dari jauh, tubuh yang bagaikan sebatang tiang yang tegak-tiang putih yang menyangga hal-hal yang tak kasatmata: keinginan bebas dari takut dan kekerasan, keberanian bersikap, dan tekad yang mempercayai dialog, bahkan dialog dengan pasukan infanteri yang siap tempur.

Orang bisa mengatakan, “The Tank Man” menghendaki apa yang mustahil.

Sebab, Pemerintah begitu kuat.

Penguasa di Beijing itu bisa dengan mudah mematikan suara yang menuntut kemerdekaan bersuara dan mematikan mereka yang tak disukai bersuara.

Juga: mematikan ingatan tentang semua kematian itu.

Ada seorang ibu bernama Xu Jue.

Dalam sebuah tulisan di The New York Review of Books, 5 Juni lalu, Ian Johnson menulis tentang wanita ini, yang anaknya mati ditembak tentara dan suaminya meninggal dirundung sedih.

Tiap musim semi, di hari raya Qingming, Xu Jue bermaksud mengunjungi makam anak dan suaminya.

Tapi polisi mencegahnya datang tepat 5 April, ketika festival menghormati para mendiang itu dirayakan. Ibu itu boleh datang ke makam anaknya, tapi beberapa hari sebelum itu.

Dan polisi akan menyertainya-meskipun harus membaca tulisan di nisan itu: “4 Juni, 1989”.

Seorang ibu lain, Ding Zilin, ingat tanggal yang agak berbeda: 3 Juni, 1989.

Hari itu anaknya juga ditembak tentara yang memadamkan demonstrasi di Tiananmen.

Dalam perkabungannya, ibu ini menghubungi keluarga yang juga kehilangan anak mereka di Juni yang berdarah itu.

Ding Zilin membentuk satu jaringan (“Para Ibu Tiananmen”) yang mencoba menemukan informasi tentang mereka yang tak pulang.

Ia beberapa kali menjadi tahanan rumah, tapi ia tak menyerah.

Sampai Agustus 2011, jaringan ini mencatat 202 korban.

Tangan yang berdarah (dan berkuasa) harus mematikan ingatan seperti itu.

Yang dihadapi bukan sekadar catatan tentang masa lalu.

Ingatan itu juga sebuah tuntutan keras ke masa depan.

Membungkam kenangan tentang kekejaman penting, sebab berkuasa harus siap dengan alasan bagi kekejaman baru.

Sejarah politik Tiongkok penuh dengan kekejaman itu.

Juga ingatan dan represi atas ingatan.

Penyair dan penulis prosa dokumenter, Liao Yiwu, punya masa lalu yang terapung-apung antara hidup dan mati.

Di pertengahan 1960-an, ayahnya, seorang guru, dituduh “kontrarevolusioner” oleh Pengawal Merah selama Revolusi Kebudayaan yang digerakkan Mao Zedong.

Si ayah dipecat dan dikucilkan masyarakat.

Si ibu terpaksa menceraikannya agar bisa hidup dengan anaknya.

Tapi, pada suatu hari, untuk dapat membeli makanan, perempuan itu menjual kupon jatah pakaian yang dibagikan Negara.

Si ibu ditangkap dan diarak bersama sejumlah penjahat di panggung Gedung Opera Kota Sichuan, kota kelahirannya.

Liao Yiwu, yang beberapa kali disekap dan sajaknya diharamkan, memandang dengan pahit masa lalu yang dibangun dan dihancurkan Mao.

Seperti ditulisnya dalam The New York Review of Books, Mao tak pernah minta maaf.

Mao tak minta maaf dan kekerasan dilakukan kembali.

“Revolusi bukan jamuan makan malam,” itu ucapannya yang termasyhur.

Harus ada pengorbanan untuk kemenangan Revolusi buruh dan tani, harus dibenarkan tindakan yang brutal jika hanya itu yang mungkin.

Tiap laku politik, juga yang revolusioner, tampaknya mengamini dalil Bismarck di Jerman di abad ke-19, yang mengembangkan kekuasaan dengan “darah dan besi”: Die Politik ist die Lehre vom Möglichen.

Politik hanya bisa bertolak dari apa yang mungkin, dan sebab itu ia kiat memainkan apa yang mungkin.

Berdiri di tengah Avenue Chang’an, “The Tank Man” tak mengikuti dalil itu.

Hari itu ia contoh aksi politik yang digerakkan apa yang tak mungkin.

Ia tak mengatakan, “Karena aku mustahil menang, aku lebih baik diam; kalaupun keadaan tak bisa hapuskan kekejaman, biarlah, tak ada rotan akar pun jadi.”

“The Tank Man” adalah isyarat: mereka yang mengatakan “tak ada rotan, akar pun jadi” lama-kelamaan bisa lupa bahwa rotan ada, tak mustahil, meskipun bukan di hari ini.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment