Teroris Ciputat

Garut News ( Jum’at, 03/01-2014 ).

Ilustrasi, Deteksi Dini. (Foto: John).
Ilustrasi, Deteksi Dini. (Foto: John).

Terbongkarnya jaringan teroris bermarkas di Ciputat, Tangerang Selatan, menunjukkan kegiatan berbahaya ini belum habis.

Kelompok penebar teror selalu bisa merekrut kader baru.

Ini berarti upaya memerangi, dan mencegah munculnya terorisme tak boleh kendur.

Dalam penggerebekan di Kampung Sawah, Ciputat, pada malam tahun baru itu, Densus 88 menembak mati enam terduga teroris.

Mereka antara lain Dayat Kacamata dan Nurul Haq, dikenal pelaku serentetan penembakan terhadap personel kepolisian di Jakarta, dan sekitarnya.

Serangan teroris terhadap polisi berlangsung sejak pertengahan tahun lalu.

Korban pertama Ajun Inspektur Dua Saktiyono, ditembak hingga tewas di kawasan Cireundeu, Ciputat.

Tak lama kemudian, terjadi pula penembakan terhadap polisi melintas di dekat Rumah Sakit Sariasih, Ciputat.

Kepolisian semakin menjadi bulan-bulanan teroris setelah korban jatuh lagi di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Dua polisi tewas ditembak ketika berpatroli.

Terakhir, seorang polisi juga ditembak hingga tewas saat mengawal truk di depan gedung KPK, Jakarta.

Penggerebekan di Kampung Sawah itu diharapkan bisa memulihkan kepercayaan diri kepolisian bertugas.

Selama ini anggota kepolisian sempat takut mengenakan seragam ketika berangkat ke kantor.

Jumlah polisi mengatur lalu lintas pun sempat berkurang.

Ini jelas merugikan masyarakat.

Terbongkarnya jaringan Nurul Haq itu, juga memerlihatkan terorisme belum lenyap di negeri ini.

Jaringan mereka memang tak sekuat sebelumnya, tetapi tetap perlu diwaspadai.

Mereka diduga membiayai operasinya dengan dana diperoleh kegiatan lain, seperti merampok bank.

Sasaran mereka bukan lagi simbol-simbol negara asing seperti dilakukan Noor Din M. Top, Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Ghufron.

Nurul Haq, dan kawan-kawan bisa dibilang jaringan baru.

Mereka tak pernah dilatih ala militer di Afganistan atawa Filipina Selatan.

Hanya, cara mereka bersembunyi mirip generasi sebelumnya.

Mereka menyewa rumah penduduk sebagai markas merencanakan serangan.

Diperkirakan, kelompok ala teroris Ciputat masih cukup banyak.

Itu sebabnya, Kepolisian RI kudu terus mewaspadainya.

Kemungkinan besar anggota jaringan Nurul Haq melancarkan balas dendam setelah banyak rekannya tewas pada penggerebekan di Ciputat.

Mereka mungkin tak merancang peledakan bom berskala besar, tetapi akan melakukan serangan sporadis seperti dilakukan selama ini terhadap anggota kepolisian.

Upaya pencegahan, seperti program deradikalisasi, juga perlu dilanjutkan pemerintah.

Begitu pula upaya membatasi ruang gerak teroris lewat penertiban rumah kontrakan.

Pemda, dan masyarakat bisa berperan mencegah wilayahnya menjadi sarang teroris.

**** Opini/Tempo.co

Related posts