Terompet, Penyakit Difteri, dan ‘Difteri Iman’

0
41 views
Senator Sulsel, AM Iqbal Parewangi. (Istimewa).

Ahad , 31 December 2017, 08:24 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: AM Iqbal Parewangi *)

Senator Sulsel, AM Iqbal Parewangi. (Istimewa).

Setelah sempat muncul saling sanggah di medsos, di antara yang pro dan kontra ornamen tahun baru, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angkat bicara soal terompet.

Kemarin (28/12/2017), melalui Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Elizabeth Jane Soepradi, Kemenkes menyebut adanya potensi penularan penyakit difteri melalui terompet.

Sebab, penyakit difteri dapat ditularkan lewat percikan ludah, bahkan juga udara melalui hembusan napas. Percikan ludah tersebut bisa keluar ketika seseorang meniup terompet, dimana orang tersebut tidak bisa dipastikan bebas dari penyakit difteri.

Penyakit difteri menyerang selaput lendir pada hidung sampai tenggorokan. Gejalanya, anak demam tidak terlalu tinggi, 38 derajat Celsius, tapi timbul selaput di kerongkongan yang menyebabkan kerongkongan tertutup dan tidak bisa bernapas.

Akibat terburuk dari difteri, penyakit infeksi akibat bakteri (corynebacterium diptheriae) dengan masa inkubasi dua sampai lima hari, adalah dapat menyebabkan kematian.

Itu sebentuk risiko medis dari terompet, berupa difteri, yang lagi aktual mewabah. Ada risiko lain yang lebih mengenaskan, terutama bagi kaum Muslim, yaitu “Difteri Iman”.

Dengan gejala demam pada “tubuh iman” yang tidak terlalu tinggi, hanya 38 derajat atau satu derajat di atas “suhu normal imani”, tidak sedikit orang dengan mudah menyepelekan gejala “Difteri Iman” lewat terompet. Ada yang mengatasnamakan toleransilah, atas nama relasilah, juga atas nama relaksasilah.

“Jangan sensitif gitulah,” kata mereka. “Jangan kaku dan kolot gitulah,” cibir mereka. “Moderen dikitlah,” ejek mereka. “Terompet ini cuma kertas-berbunyi kok, cuma penyemarak lepas-sambut tahun kok, cuma untuk senang-senang sesaat kok, cuma ….. kok.”

Ada sederet alasan ringan dan meringankan dari mereka, dan di antara mereka itu mungkin juga termasuk kita. Kita cenderung menyepelekan risiko “Difteri Iman” lewat terompet itu.

Dalam ritual keagamaan Yahudi sejak dulu, ada yang disebut tradisi shofar. Yakni salah satu jenis terompet yang digunakan kaum Yahudi. Kegemaran berterompet ria kaum Muslim di Tahun Baru, tanpa tersadari sebetulnya mewarisi ritual keagamaan Yahudi yang menggunakan shofar. Ketidaksadaran itu dapat membawa pada apa yang saya sebut “Difteri Iman”.

Dengan masa inkubasi cuma dua tambah lima hari, mulai 25 Desember hingga 1 Januari, timbul selaput yang dapat menutup “kerongkongan imani” kita dan mengakibatkan iman kita tidak bisa bernafas. Jika tak berhati-hati, “Difteri Iman” itu bisa terjadi lalu iman pun mati! Naudzubillahi min dzalik…..

Catatan akhir tahun AM Iqbal Parewangi, “Ornamen Tahun Baru”, 29.12.2017)

*) Anggota DPD RI mewakili Provinsi Sulawesi Selatan

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here