Tensi Tinggi Urusan MRT

Garut News ( Kamis, 12/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Jakarta Macet. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Jakarta Macet. (Foto: John Doddy Hidayat).

Sungguh aneh sikap pemerintah DKI Jakarta serta Kementerian Pemuda dan Olahraga soal proyek “mass rapid transit” (MRT).

Dua lembaga ini sibuk berkukuh pendapat masing-masing ihwal pembongkaran Stadion Lebak Bulus, akan dijadikan stasiun dan depo MRT.

Akibatnya, pembangunan megaproyek MRT molor.

Jakarta butuh MRT.

Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo maupun pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, jelas sangat paham moda transportasi massal itu solusi tak bisa ditawar.

Pertumbuhan panjang jalan di Jakarta tak sebanding lonjakan jumlah penduduk dan kendaraan pribadi.

Kemacetan di Jakarta semakin kusut.

MRT salah satu solusi masalah itu.

Sayangnya, pembangunan proyek MRT, tahap pertama mengambil rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia, masih saja menghadapi kendala.

Salah satu aral membuat proyek ini molor panjang belum turunnya rekomendasi Kementerian Pemuda dan Olahraga membongkar Stadion Lebak Bulus, akan dijadikan stasiun dan depo.

Sesuai Pasal 67 Undang-Undang Nomor 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, alih fungsi prasarana olahraga milik pemerintah kudu seizin Menteri Olahraga.

Masalahnya, Menteri Roy berkukuh tak mengizinkan pembongkaran, lantaran belum ada pengajuan izin disertai jaminan dibangunnya lapangan pengganti dari pemerintah DKI.

Sebagian kalangan menilai alasan ini masuk akal sebab, sebelumnya, Jakarta pernah kehilangan Stadion Menteng, berganti rupa menjadi taman, tanpa pengganti.

Namun sikap keras Menteri Olahraga ini jelas menjadi penghambat rencana Jakarta menata sarana transportasi massal.

Tanpa masalah ini pun pembangunan MRT tertunda dari jadwal.

MRT sebenarnya ditargetkan rampung dibangun 2016.

Munculnya persoalan-persoalan baru diperkirakan membuat target pembangunan MRT tak tercapai atawa mundur menjadi 2018.

Menteri Roy dan Basuki seharusnya tak perlu “berperang” dan pasang tensi tinggi soal MRT.

Mereka bisa duduk bersama, mencari solusi terbaik.

Sebab, sebenarnya pemerintah DKI Jakarta menyiapkan Taman Bersih, Manusiawi, dan Berwibawa (BMW) di Papango, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebagai stadion pengganti.

Lambannya birokrasi DKI Jakarta juga menjadi biang keterlambatan.

Ini tugas Basuki membereskannya.

Apa sulitnya pemerintah DKI segera menunjukkan sertifikat lahan serta masterplan pembangunan stadion-seperti diminta Menteri Roy?

Jakarta sangat membutuhkan kearifan dua pejabat ini.

Mereka mesti sama-sama membuat terobosan memercepat pembangunan MRT.

Menteri Olahraga seharusnya berani memercepat pengeluaran surat izin pembongkaran Stadion Lebak Bulus lantaran proyek MRT ini jelas-jelas didukung dan didanai pemerintah pusat.

Sebagai jaminan tak akan terjadi tragedi Stadion Menteng jilid II, Basuki juga bisa menunjukkan jadwal pembangunan Stadion BMW.

Jika perlu, perjanjian kedua lembaga itu diteken di depan publik, diliput banyak media, sehingga masyarakat bisa ikut mengawasi.

*******

Opini/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment