Teknologi Nelayan Garut Masih Sangat Sederhana

by

Garut News ( Rabu, 25/12 ).

Nelayan Garut. (Foto : John).
Nelayan Garut. (Foto : John).

Meski potensi kelautan wilayah pantai selatan Kabupaten Garut sangat prosfektif, tetapi “Pendapatan Asli Daerah” (PAD)-nya ditargetkan sangat minim, hanya Rp33 juta setiap tahun.
Bahkan ironisnya, Disnakkanla kabupatensetempat kudu ketar ketir mengejar target pencapaian PAD sektor kelautan nyaris tak bergeser setiap tahunnya itu.

Lantaran hingga kini, PAD sektor kelautan hanya terealisasi sekitar Rp16 juta.

Padahal potensi produksi ikan laut perairan laut selatan Garut tersebut, diperkirakan bisa mencapai 10.000 ton MSY (maksimal suistanable year = tingkat penyediaan ikan di laut secara lestari) per tahun.

Belum termasuk potensi rumput laut, dan potensi kelautan lain.

Ikan laut selatan Garut terbilang mahal sebab kualitasnya bagus.

Ikan produk tangkapan nelayan dari perairan laut selatan Garut ini, biasanya langsung dikirimkan ke Pasar Caringin, dan Ciroyom Bandung.

Kondisi Petani Rumput Laut Garut Masih Terpuruk. (Foto: John).
Kondisi Petani Rumput Laut Garut Masih Terpuruk. (Foto: John).

Jenis bisa diproduksi terutama tongkol, tuna, cakalang, layur, kakap, kerapu, lobster/udang karang, cumi-cumi, dan gurita.

Kepala Disnakkanla, Hermanto, katakan salah satu penyebab sulitnya pencapaian target berupa panjangnya masa paceklik nelayan lantaran pengaruh cuaca, katanya.

“Nelayan kita amat bergantung cuaca. Kalau cuaca mendukung, nelayan turun, hasil tangkapan ada, ya baru kita bisa menarik retribusi. Lagi pula, PAD kelautan itu yang disetorkan ke pemerintah hanya 1,6 persen dari total retribusi lima persen,” katanya pula, Rabu (25/12).

Dikemukakan, retribusi atawa PAD Garut sektor kelautan ditarik dari bakul, dan nelayan itu hanya sebesar lima persen, terdiri tiga persen dari para bakul, dan dua persen nelayan.

Dari retribusi sebesar itu, disetorkan ke pemerintah daerah hanya sekitar 1,6 persen.

“Jadi memang PAD dari sektor ini sangat kecil. Apalagi retribusi lima persen ditarik dari bakul dan nelayan itu sebenarnya disimpan sebagai tabungan mereka sendiri. Anggarannya dikeluarkan menopang kehidupan mereka sendiri pada masa paceklik,” ungkap Hermanto.

Kepala Bidang Kelautan, Khaidir Rahman Permana, katakan, tingginya tingkat kebocoran akibat ulah sejumlah bakul nakal, serta tak optimalnya peran dan fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di empat Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).

Juga merupakan kendala tak optimalnya penarikan PAD dari sektor kelautan.

Keempat PPI terdiri PPI Cilauteureun Kecamatan Pameungpeuk, Cijeruk Cibalong, Cimarimuara Pakenjeng, dan PPI Ranca Buaya di Kecamatan Caringin.

“Banyak nelayan enggan menjual ikan hasil tangkapan di TPI sebab terikat utang pada tengkulak. Para bakul juga membeli ikan tak di TPI, melainkan di tengah jalan, sebelum nelayan mendarat di pangkalan. Mereka juga tak mau bayar retribusinya ke pemerintah,” katanya.

Potensi kelautan di wilayah perairan laut selatan Garut belum tergali maksimal lantaran keterbatasan dana dan sarana.

Penangkapan ikan dilakukan nelayan di sana masih sederhana, menggunakan alat tangkap ikan ‘congkrang’ berjangkauan tak terlalu jauh.

“Bentangan pantai Selatan Kabupaten Garut mencapai 83 kilometer, mencakup 23 desa dan tujuh wilayah kecamatan. Masing-masing Kecamatan Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Pakenjeng, Bungbulang, dan Caringin”

Jumlah nelayan di seluruh wilayah pantai selatan Garut, kini mencapai sedikitnya 4.019, menyebar pada PPI Cilauteureun, Cijeruk, Cimarimuara, dan Rancabuaya.

Mereka terdiri juragan kapal/perahu 298, pandega 2.925, nelayan ikan hias 45, dan rumput laut 751 nelayan.

Sedangkan jumlah kapal/perahu di keempat PPI tersebut, mencapai sekitar 892 unit.

Terdiri kapal motor 15 unit, motor tempel 474 unit, dan perahu tanpa motor 474 unit.

***** Zainul, JDH