Tawaran Protein Rekombinan dari Tanaman Tembakau

0
33 views

Garut News ( Senin, 23/11 – 2015 ).

Beginilah kondisi daun tembakau milik petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berubah menjadi hitam akibat guyuran debu vulkanik Gunung Raung. (KOMPAS.com/ Ahmad Winarno).
Beginilah kondisi daun tembakau milik petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berubah menjadi hitam akibat guyuran debu vulkanik Gunung Raung. (KOMPAS.com/ Ahmad Winarno).

– Tanaman tembakau yang telah melalui rekayasa bioteknologi mampu menghasilkan protein rekombinan yang bermanfaat sebagai bahan baku obat hingga energi. Upaya itu diharapkan menjadi alternatif petani tembakau yang selama ini dirugikan tata niaga tembakau.

Selama ini, belum ada yang berusaha memproduksi protein rekombinan dari tanaman. Yang banyak, produksi protein rekombinan dari mikroba, sel hewan, atau sel manusia.

“Padahal, Indonesia kaya sumber daya hayati tanaman,” kata Rektor Universitas Teknologi Sumbawa Arief Budi Witarto dalam lokakarya “Politik Ekonomi Tembakau Menuntut Gerakan Lebih Aktif”, yang diadakan Pusat Kajian Kebijakan dan Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Sabtu (21/11/2015), di Jakarta.

Ilustrasi Daun Tembakau Kering. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi Daun Tembakau Kering. (Foto: John Doddy Hidayat).

Menurut Arief, mantan peneliti bioteknologi LIPI, penggunaan tembakau sebagai penghasil protein punya banyak kelebihan, yakni lebih ramah lingkungan, padat karya karena melibatkan petani tembakau, jaminan halal dibanding produksi protein rekombinan dari bahan lain, biaya produksi lebih murah, dan mengurangi ketergantungan impor bahan obat.

“Dalam simulasi penelitian protein rekombinan untuk pembuatan insulin saja, keuntungan yang bisa diperoleh petani tembakau bisa empat kali lipat dibanding jika tembakau dijual ke pabrik rokok,” tutur Arief.

Ia menyeleksi 20 jenis tembakau dari beberapa sentra penghasil tembakau di Indonesia. Hasilnya, tembakau jenis gobir kemloko asal Temanggung, Jawa Tengah, paling bagus digunakan untuk rekayasa genetika sehingga bisa menghasilkan protein.

Prosesnya, setelah memurnikan tembakau dan mengultur jaringan, Arief memasukkan DNA penyandi protein obat dibantu bakteri ke dalam genom DNA sel tembakau. Setelah tembakau dengan DNA penyandi obat diperoleh, tembakau itu dikultur jaringan dan ditanam.

Saat ini, penelitian baru menghasilkan prototipe tembakau penghasil protein. “Belum dikembangkan lebih lanjut ke produksi obat,” ucapnya.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat UI Hasbullah Thabrany mengatakan, rekayasa genetika menjadikan tembakau penghasil protein untuk obat adalah terobosan yang patut dikembangkan. Jika ingin membela nasib petani tembakau, ujarnya, pemerintah perlu memberikan dukungan pada penelitian itu.

Inovasi tembakau penghasil protein itu salah satu solusi yang ditawarkan dalam pengendalian tembakau bagi petani tembakau. Solusi lain yang dinilai jalan tengah ialah menaikkan cukai rokok setinggi-tingginya, tak dibatasi 57 persen seperti sekarang. Dengan harga tinggi, produksi rokok akan lebih terkendali.

Wakil Ketua Lembaga Demografi UI Abdillah Ahsan menambahkan, seharusnya cukai rokok dinaikkan hingga 80 persen, seperti cukai pada minuman beralkohol. Keduanya berdampak buruk pada kesehatan. (ADH).

********
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : Harian Kompas/Kompas.com