Tawanan Jepang, Lepas Jugun Ianfu Menyamar Lelaki

Garut News ( Selasa, 15/04 – 2014 ).

Potret Rita la Fontaine de Clercq Zubli di buku memoarnya tentang masa pendudukan Jepang 1942-45. Jelang pendudukan Jepang, seorang pastor menyarankan kepadanya supaya berganti penampilan menjadi seorang anak lelaki. (Mahandis Y. Thamrin/NGI).
Potret Rita la Fontaine de Clercq Zubli di buku memoarnya tentang masa pendudukan Jepang 1942-45. Jelang pendudukan Jepang, seorang pastor menyarankan kepadanya supaya berganti penampilan menjadi seorang anak lelaki. (Mahandis Y. Thamrin/NGI).

– “Rumah kami menghadap perairan Jambi di sepanjang Sungai Batanghari,” tulis Rita pada buku kenangan berkisah ketika berusia 12 tahun.

“Sepanjang hari kami mendengar ledakan dari gudang-gudang tempat penyimpanan minyak.”
Rita gadis Indo-Belanda berambut panjang berwarna cokelat tua, sulung dari tiga bersaudara.

Dia anak perempuan satu-satunya.

Ayahnya bertugas Kepala Post, Telegraf en Telefoondienst—kantor dinas pemerintah Hindia Belanda melayani pos, telegraf, dan telepon—di Jambi.

Setelah Semenanjung Malaya bertekuk lutut di bawah bendera Hinomaru, pada Januari 1942, Jepang memasuki kawasan Hindia Belanda.

Pemerintah kolonial pun melakukan sabotase terhadap fasilitas publik supaya tak bisa digunakan musuh.

Melawan pergerakan armada Jepang  tampaknya menjadi sesuatu berlebihan.

Kedatangan bala tentara ini meresahkan warga Belanda, dan keturunan Belanda menghuni kota-kota di Hindia Belanda.

Semua mengetahui, para serdadu Jepang memiliki perempuan penghibur berasal dari warga lokal dari negara mereka duduki—jugun ianfu.

Para perempuan belia menjadi korban perang lantaran dipaksa melayani serdadu Jepang di rumah-rumah bordil.

Koevoets, seorang pastor Belanda, berkunjung ke rumah keluarga Rita.

Dia berbicara pada orang tuanya, dan menyarankan supaya gadis itu mengubah penampilannya menjadi seorang lelaki.

“Wanita dicari tentara-tentara itu, gadis-gadis muda belum bisa melindungi dirinya,” ujar Koevoets pada Rita.

“Kami ingin melindungimu dari tentara-tentara ingin memanfaatkan gadis-gadis bau kencur sepertimu.” 

Akhirnya Rita menuruti keinginan sang pastor dan orang tuanya, meski dia belum memahami sepenuhnya tentang kengerian kelak dihadapi perempuan-perempuan di Hindia Belanda.

Tampaknya Pastor Koevoets memersiapkan semuanya, dia membawa sikat rambut, sisir, jepit, dan gunting.

Di teras rumahnya, Rita tampak tak terlalu gembira menghadapi gunting sang pastor menebas rambutnya.

“Aku kehilangan sesuatu berharga—rambut panjangku berwarna cokelat tua,” ungkap Rita dalam buku kenangannya.

Usai memangkas rambutnya, pastor itu memberikan beberapa setel kemeja anak lelaki, busana dalam, hingga sepatu pada Rita.

Kini Rita menjelma menjadi anak lelaki.

Pada pertengahan Februari 1943, Jepang merambah Jambi.

Semua warga Belanda digiring pemeriksaan di sebuah kantor polisi di bawah pengawasan Jepang.

Ada satu hal terlewatkan orang tua Rita: Anak perempuan mereka menjelma menjadi lelaki itu masih bernama “Rita”. 

Mereka tersadar dan secara spontan mengganti nama “Rita” dengan “Richard”.

Nama panggilannya pun menjadi “Rick”.

“Warga Hindia Belanda dan keluargaku dikucilkan dari dunia luar selama empat puluh satu bulan,” ungkap Rita meretas kenangannya.

Tawanan perempuan, dan anak-anak dipisahkan dengan tawanan lelaki dewasa.

Selama pendudukan Jepang, dia bermukim di kamp tawanan di Jambi dan Palembang.

“Aku kudu meneruskan penyamaranku sebagai anak laki-laki sampai waktu sangat lama.”

Rick seorang cerdas, dan pandai bersikap sehingga penyamarannya pun tak terungkap.

Dia selamat dari perekrutan jugun ianfu.

Banyak perempuan Belanda, Indo-Belanda, bahkan juga perempuan pribumi, ditarik paksa serdadu-serdadu Jepang.

Mereka direkrut pemuas kebutuhan seksual serdadu Jepang pada 1942-1945.

Para perempuan malang itu tak hanya berasal dari Hindia Belanda, tetapi juga Korea, Tiongkok, dan Indocina.

Setelah Jepang kalah perang, Rita kembali menjalani hidup perempuan muda.

Beberapa tahun kemudian sia menikah dengan lelaki Belanda pemilik perkebunan karet.

Mereka dikaruniai empat anak di sebuah rumah di Kota Nashua, New Hampshire, Amerika Serikat.

Sekelompok penulis memberikan semangat, dan dukungan kepada Rita menorehkan kisahnya pada sebuah buku kenangan.

Kemudian buku berjudul Disguised karya Rita la Fontaine de Clercq Zubli pun terbit di London, 65 tahun setelah dia bersama keluarga, dan orang-orang Belanda lain menjadi tawanan perang.

Pada 2009, buku itu diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Sang Penyamar.

“Semoga apa yang kualami bisa memberikan sesuatu menguatkan tekad Anda menghadapi masa-masa sulit penuh keberanian,” ungkap Rita di bagian pengantar bukunya.

“Memang mudah bagi kita menyerah; tetapi tantangan bisa bertahan dan menang.”

Tampaknya kalimat itu menjadi pesan akhir sang penyintas.

Rita wafat pada November 2012 pada usia 82 tahun.

(Mahandis Y. Thamrin/NGI)


Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Related posts

Leave a Comment