Tatang Sadarusman Jadikan Rongsokan “Is The Art” Garut

0
194 views
Tatang Sadarusman.

Garut News ( Senin, 11/12 – 2017 ).

Tatang Sadarusman.

Profil inspiratif Garut News hari ini, Senin (11/12-201), memotret obsesi Tatang Sadarusman yang selama ini ‘concern’ maksimal berkreativitas guna menjadikan ragam jenis rongsokan sebagai “Is The Art” Garut, Jawa Barat.

PD. Gordah Jaya.

Sehingga ayah dua anak kelahiran 1968 tersebut, sejak tujuh tahun terakhir semakin konsisten dengan komitmennya menggeluti usaha bidang rongsokan, berupa barang – barang bekas yang tak layak pakai.

Meski sejak 2015 silam omset usahanya mengalami penyusutan, dari semula setiap bulannya bisa mencapai 120 ton namun kini menjadi 50 ton dus bekas.

Wahana Memilah Sampah Saat Membuang Sampah.

Lantaran selain nilai harga jual terus-menerus mengalami fluktuatif, juga kian diperparah kerap melorotnya nilai jual akibat adanya import sampah luar negeri.

Persaingan usaha yang tak sehat, serta belum terdapatnya komunitas yang baik dari pengelola rongsokan, juga menjadikan omset usaha acap melorot drastis bahkan ‘terjun bebas’.

Karena itu, selama ini pun lebih banyak mengandalkan pasokan rongsokan dari tiga lapak besar, padahal sebelumnya bersumber dari 12 lapak.

Pemulung Perlu Diberdayakan.

Meski demikian ungkap Tatang Sadarusman, pengelolaan rongsokan yang dilakukannya paling tidak bisa melibatkan produktivitas 306 tenaga kerja pemulung, yang dipastikan mereka pun bisa tersejahterakan.

Sedangkan karyawan tetap PD. Godah Jaya yang dikelolanya menyerap enam tenaga kerja, yang setiap bulannya masing-masing mendapatkan upah pada kisaran Rp1,8 juta, atau masih jauh di atas UMK Garut, apalagi jika dibandingkan honorarium setiap pegawai non PNS Pemkab setempat yang hanya Rp400 ribu per bulan.

Merupakan Produki Para Pemulung.

Menggeluti usaha rongsokan, ternyata banyak ditemukan ragam nilai bernuansakan baik, dan ramah. Bahkan usaha mengelola sampah ini sarat kegotong-royongan, kental dengan rasa setia kawan, serta tingginya soliditas.

Maka kini saatnya bersama menepis opini maupun “image” orang yang bekerja memungut serta mengelola sampah ini, bukanlah pekerjaan kotor, berbau, juga bukanlah pekerjaan hina.

Melainkan memiliki nilai edukatif dalam menata kelola barang, keuangan, serta menata kelola lingkungan sekaligus sebagai usaha bermanagemen, kendati pada tataran masih di bawah.

Ibu dan Anak Mengais Rongsokan Hingga Larut Malam.

*********  Sehingga diagendakan paling lama mulai 2020/2021 mendatang, bakal sering ditampilkan pameran produk teknologi tepat guna pengelolaan sampah secara terencana, dan terukur.

Selain itu pula, bakal kerap mengundang pihak pabrikan daur ulang, institusi perbankan, dan penyelenggaraan ragam pelatihan bekerja sama dengan “Balai Latihan Kerja”  (BLK) Kabupaten Garut.

“Bahkan tetap mengagendakan mewujudkan banyak pengrajin industri kreatif berbahan baku rongsokan, maupun sampah,” imbuh Tatang Sadarusman yang juga Sekjen “Ikatan Pemulung Indonesia” (IPI) Kabupaten Garut.

Di Kabupaten Garut ada sedikitnya 15.000 pemulung, mereka pun aset daerah juga aset bangsa yang kini semakin mendesak perlu segera diberdayakan termasuk bisa mendapatkan keterampilan.

Sebab selama ini, mereka memiliki andil maupun jasa besar ikut serta mewujudkan kebersihan sekaligus mengais rejeki dari barang yang dianggap tak berguna, berbau, dan dinilai menjijikan, ‘sampah’.

Padahal dibalik sampah tersebut, dipastikan ada nilai manfaat bahkan berkah jika dikelola dengan baik, serta bijak, maka kepada masyarakat luas ‘buanglah sampah pada tempatnya’.

“Saatnya pula, kita bersama-sama memanusiakan para pemulung,” ungkap Tatang Sadarusman, mengingatkan.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.