Tangis

Garut News ( Ahad, 10/08 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Siapa tahu matahari seorang yang buta?

Les Miserables

Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia.

Les Miserables, yang terbit pertama kali 1 April 1862, ingin lebih dekat ke bumi dan peka kepada tangis Prancis.

Satu baris kalimatnya yang termasyhur: “Siapa yang tak menangis, tak melihat.”

Victor Hugo ingin mata kita basah dan melihat, dengan peka, ke sekitar.

Pada umumnya ia berhasil, setidaknya di antara pembacanya 200 tahun yang lalu.

Konon penerbitan pertama novel ini di Brussel tertunda karena para juru cetak terisak-isak waktu membaca manuskripnya.

Sang novelis tak ingin jadi pemikir besar.

Ia tak mau menatap semesta dan melihat sejarah semata-mata sebagai survei wilayah.

Ia tak mau sibuk dengan tata zodiak hingga ia tak melihat anak kecil yang mencucurkan air mata.

Tak mengherankan bila novel yang terdiri atas lima bagian panjang ini padat dengan tokoh kecil yang melata, kaya akan adegan yang menyayat hati dengan khazanah kata yang tak habis-habisnya.

Paragraf demi paragraf bergerak antara renungan sang pengarang dan dialog para peran sebagian besar les miserables, para nestapa.

Fantine, gadis yang hamil, ditinggalkan pacar dan jadi pelacur; Cosette, yatim yang terdampar; Jean Valjean, lelaki yang dihukum keras karena mencuri sepotong roti.

Tapi tak hanya itu.

Novel ini memang terkadang terasa seperti sebuah melodrama yang majemuk, tapi Les Miserables sesungguhnya sebuah novel politik.

Melalui bab demi bab, kita berangsur-angsur masuk ke dalam latar Paris menjelang Revolusi 1830.

Suara rakyat, khususnya kaum buruh, makin nyaring di depan umum, di kedai-kedai anggur dan di salon-salon pertemuan.

“Demam revolusi berjangkit. Tak ada titik di Kota Paris atau di Prancis yang bebas darinya. Urat nadi berdenyut keras di mana-mana. Bagaikan membran yang tercipta dari inflamasi dan membentuk tubuh manusia, jaringan perkumpulan rahasia mulai menyebar ke seluruh negeri.”

Dalam jaringan itu, di kamar-kamar belakang yang setengah tersembunyi, para buruh bersumpah akan segera turun ke jalan begitu tanda pertama dibunyikan.

Dan barikade pun dibentuk.

Aparat kekuasaan ditantang.

Tembak-menembak terjadi.

Darah tumpah dan asap memenuhi trotoar.

Di celah-celah itu, tampak “mulut-mulut yang menyemburkan napas api”, “wajah-wajah yang luar biasa”.

Di adegan seperti itu kita lihat: politik adalah sebuah tiwikrama, ketika manusia bergulat untuk mengubah keadaan jadi sebuah dunia yang lebih baik.

Politik mentransformasi manusia yang rutin, terbatas, dan terpisah-pisah, menjadi subyek yang menggerakkan dan digerakkan tuntutan yang melebihi keterbatasan dan kepentingan dirinya.

Di Indonesia kita telah menyaksikan transformasi itu dalam politik di awal abad ke-20 semasa pergerakan nasional dan ketika perang kemerdekaan meletus pada 1940-an: di saat seperti itu, politik tumbuh dari tuntutan dan empati dari “melihat” dan “menangis”.

Menangis, dalam pengertian ala Hugo, adalah sebuah “pengalaman ethis”.

Kata ini saya pinjam dari Simon Critchley dalam Infinitely Demanding: sebuah pengalaman ketika datang tuntutan ethis dan “aku siap mengikatkan diriku kepadanya”.

Dengan itu aku bertekad penuh tak sekadar memenuhi akidah normatif karena ada sesuatu yang keji yang terjadi.

Tuntutan itu datang dari diriku sendiri, tak diperintah.

Tapi tak hanya itu.

Jika ia disebut sebagai hasil nalar atau akal budi, akal budi itu sebagaimana ditunjukkan Hegel dan Marx bersifat sosial, dari proses saling-asah-saling-asih-saling-asuh dalam sejarah.

Ia bertolak dari sebuah situasi yang konkret dan terbatas, tapi menjangkau nilai yang universal.

Itulah yang tumbuh dalam diri Jean Valjean: tuntutan ethis yang dalam, sejak ia diampuni sang padri yang ia curi perabot peraknya dan ia pukul kepalanya.

Ia jadi seorang penolong yang tanpa pamrih, tanpa ingin diakui.

Bagaimana itu mungkin?

Mungkin hati nurani.

Tapi dalam kata yang ringkas itu terkandung cerita kemanusiaan yang seluruhnya terjelaskan.

“Untuk menulis tentang hati nurani,” kata Hugo, “andai kata pun tentang seorang manusia semata-mata, andai kata pun tentang orang yang paling dihujat, harus kita cernakan semua kisah epik yang definitif dan bernilai.”

Kisah epik itu agaknya yang mengingatkan kita tentang tuntutan ethis yang dalam yang membuat Jean Valjean jadi orang baik, Revolusi 1830 tak hanya huru-hara dan politik tergerak menjangkau nilai yang universal.

Saya kira Critchley benar: ethik tanpa politik itu kosong, politik tanpa ethik itu buta.

Goenawan Mohamad.

Related posts

Leave a Comment