Tanggung Jawab Ilmuwan

0
14 views
Ilmuwan. Ilustrasi. (Wikipedia).

Sabtu , 21 Oktober 2017, 04:23 WIB

Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: M Firdaus, Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB

Ilmuwan. Ilustrasi. (Wikipedia).

********* Dalam artikel seminal-nya, Merton (1942) mengemukakan empat butir yang dikenal sebagai norma masyarakat ilmiah. Universal, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dapat dihasilkan di mana dan oleh siapa saja. Terlepas dari siapa pun dan di mana pun iptek dihasilkan, hasil temuan dan pengetahuan baru harus dinilai berdasarkan scientific merit.

Norma kedua adalah organized sceptism, bermakna ilmuwan seharusnya tidak begitu saja menerima ide atau kejadian baru, tanpa daya kritis. Namun, mengkritisi bukan dimaksudkan untuk menyerang individu tertentu, tetapi untuk mengupayakan agar riset menghasilkan solusi yang lebih aktual.

Ketiga adalah disinterestedness. Ini mengandung makna bahwa ilmuwan harus objektif dan berpikir secara tidak parsial. Selain itu, harus terbuka pada obervasi baru yang bisa jadi berbeda dengan ekspektasinya. Objektif tentu tidak berarti sepenuhnya bebas nilai. Lebih utama adalah pemikiran harus berbasis pada data dan pengetahuan. Dengan cara ini, kepentingan pribadi akan dapat ditekan.

Yang terakhir adalah communalism. Iptek adalah milik siapa saja. Maka pengetahuan baru seyogianya dibagikan kepada setiap orang. Penyebaran iptek dilakukan untuk kemaslahatan orang banyak. Keempat norma ini selayaknya menjadi pegangan dalam upaya pencarian iptek baru, sehingga hal-hal yang bersifat tabu seperti plagiarisme juga dapat dihindari.

Arah riset dan pengembangan
Pengetahuan baru terus berkembang. Dalam dunia ilmiah, tidak ada kebenaran mutlak. Pencarian kebenaran baru lazim dilakukan melalui riset atau proses investigasi secara sistematis. Tentunya riset yang dilakukan tidak boleh hanya berujung pada riset baru. Baik riset dasar maupun terapan harus dilakukan dengan peta alur untuk menghasilkan sesuatu yang dapat didiseminasi kepada dunia usaha, masyarakat atau pemerintah.

Dalam jangka pendek riset dasar akan memberikan luaran yang dinilai dari keunggulan akademik. Namun, dalam jangka lebih panjang, bersama-sama riset terapan keduanya harus sampai memberikan nilai ekonomis atau dampak sosial. Dampak berganda harus dihitung, sehingga riset yang sering menggunakan dana publik dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatannya.

Pembuktian apakah manggis bersifat apomiksis akan menjadi landasan ke depan untuk mempercepat umur panen dan untuk mendapatkan sifat-sifat terbaik dari ratu buah ini. Dengan nilai ekonomis yang sangat tinggi, antara lain karena kandungan xanthon (baca zanton) di dalamnya, riset dasar tadi menjadi penting.

Berbagai eksperimen dalam riset terapan untuk menciptakan kecerdasan buatan (AI) merupakan contoh aktivitas yang lebih aplikatif untuk menemukan inovasi yang akan membantu pekerjaan manusia. Nilai impor yang sangat tinggi untuk produk-produk teknologi tinggi seperti ini, akan dapat berkurang bila anak bangsa dapat lebih banyak berkreasi sendiri.

Meskipun saat ini dari sisi besaran, anggaran untuk riset dan pengembangan di Indonesia masih jauh di bawah angka ideal (2 sampai 3 persen PDB), dari yang sudah banyak dilakukan harus dievaluasi tumpang tindih topik dan produk-produk apa yang sudah dihasilkan. Bagi dosen dan peneliti, keluaran riset tidak jarang untuk memenuhi unsur kewajiban publikasi ilmiah.

Dalam tataran keunggulan akademik tentu ini berharga. Kita juga tidak perlu risau dengan polemik tentang Scopus dan berbagai indexing lainnya. Karena pada dasarnya, hasil riset yang baik dan dipublikasikan di jurnal bereputasi tinggi akan berpeluang mendapatkan sitasi lebih banyak, yang artinya memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Di berbagai instansi pemerintah, efektivitas keluaran riset juga sering dipertanyakan: seberapa rasio manfaat untuk masyarakat terhadap biaya yang dikeluarkan.

Iptek untuk kesejahteraan masyarakat
Dalam UU 18/2002 tentang Sistem Nasional Litbang dan Penerapan IPTEK, dikemukakan pentingnya riset dan pengembangan iptek untuk mendukung pertumbuhan industri nasional guna meningkatkan daya saing bangsa. Pengembangan iptek baru harus berangkat dari tarikan pasar. Sebagai contoh riset-riset pemuliaan tanaman harus dimulai dari identifikasi prototipe yang diinginkan konsumen di pasar, bukan sebaliknya atas dasar imajinasi peneliti semata.

Makna lain dari isi UU tersebut adalah hasil riset oleh para peneliti harus dikomersialisasikan, tidak boleh sekedar menjadi tumpukan arsip laporan. Teknologi yang dihasilkan, baik yang bersifat soft maupun hard, idealnya dibeli oleh pelaku industri. Jejaring ini menjadi bagian dari CSR yang berkelanjutan, bukan sebatas filantropi perusahaan.

Potensi sumber daya yang belimpah di negara ini seyogianya dimanfaatkan secara optimal. Solusi atas persoalan besar disparitas ekonomi, antarrumah tangga dan antarwilayah, dapat diperoleh dari penerapan iptek baru secara lebih merata di berbagai daerah.

Pohon industri komoditas-komoditas unggulan (tropik) masih banyak yang kosong. Sebagai contoh, pemanfaatan berbagai hasil laut sebagian besar baru sampai pada proses pembekuan dan pengalengan. Padahal dengan penguasaan teknologi nano, ektraksi berbagai kandungan yang mempunyai khasiat luar biasa dapat dilakukan.

Kolagen yang dipercaya mempunyai manfaat untuk antipenuaan, dapat diproduksi dari teripang, atau pemanfaatan kulit udang yang mempunyai kandungan antibakteri yang luar biasa, menjadi bahan utama pembuatan berbagai produk antiseptik. Industri yang dikembangkan untuk ini tidak harus dalam skala besar. Nilai tambah berbagai produk turunan harus ditransfer kepada rumah tangga nelayan dan petani yang masih menghadapi persoalan kemiskinan.

Bagi peneliti, sejak awal perlu menentukan fokus risetnya, apakah untuk menghasilkan publikasi atau inovasi. Ada kalanya keduanya tidak bisa berjalan bersama. Namun, keduanya memiliki arti penting bagi masyarakat. Untuk riset dengan fokus menghasilkan inovasi perlu mengacu pada asesmen technology readiness level (TRL) untuk menentukan langkah diseminasinya, baik untuk komersialisasi maupun difusi, dalam rangka peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Norma masyarakat ilmiah di atas memberikan nilai dasar kepada setiap ilmuwan. Akal yang diberikan oleh Yang Mahakuasa harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang. Ilmuwan harus selalu tertantang untuk mendayagunakan setiap sumber daya yang semakin terbatas.

Pemanfaatan berbagai limbah proses produksi menjadi terobosan penting agar sasaran zero waste dapat dicapai, atau dalam bahasa lain untuk meminimumkan kemubaziran. Untuk inilah pencarian iptek baru terus dilakukan.

*********

Republika.co.id