You are here
Tambal-Sulam Bandara OPINI 

Tambal-Sulam Bandara

Garut News ( Jum’at, 06/12 ).

Ilustrasi. (Foto: John).
Ilustrasi. (Foto: John).

Pemerintah kudu segera menyiapkan bandar udara baru mengganti atawa mendampingi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Jumlah pengguna bandara utama ini melebihi kapasitas.

Mengalihkan sebagian beban lepas landas dan mendarat pesawat ke Bandara Halim Perdanakusuma cuma solusi tambal-sulam.

Cara ini malah bisa memunculkan masalah baru nantinya.

Ketika dibangun, Soekarno-Hatta dirancang menampung 22 juta penumpang per tahun.

Kemampuan itu kini tak lagi memadai.

Ekonomi tumbuh pesat, ditambah maraknya penerbangan murah, membuat jumlah penumpang melonjak.

Lima tahun lalu saja jumlah penumpang menembus 37,4 juta setahun.

Angka ini berlipat ganda tahun lalu, menjadi 71,4 juta.

Tak mengherankan, menurut Airport Council International, Soekarno-Hatta adalah bandara tersibuk ke-10 di dunia.

Kepadatan penerbangan itu tak hanya berdampak pada kenyamanan.

Risiko terjadinya kecelakaan pun membesar.

Sesaknya bandara membuat pesawat kudu antre panjang untuk lepas landas ataupun mendarat.

Petugas menara kontrol pun kudu menangani pesawat jauh melebihi kemampuan.

Hal ini bahkan pernah nyaris berbuntut tragedi.

Akibat salah perintah oleh petugas terpaksa menangani 30 pesawat (dari normalnya 8-10), dua pesawat nyaris bertabrakan di udara.

Semua itu tak bisa lagi dibiarkan.

Soekarno-Hatta pintu gerbang Indonesia.

Buruk bandara ini, buruk pula kesan tentang Indonesia.

Apalagi dibandingkan bandara negara tetangga, Singapura dan Malaysia, jauh lebih modern dan nyaman.

Maka, upaya PT Angkasa Pura II melakukan pembenahan patut didukung.

Tetapi, apabila pembenahan hanya menambah kapasitas bandara, sebaiknya rencana ini dipikirkan ulang.

Persoalan Soekarno-Hatta bukan hanya luas area bandara.

Kepadatan langit Jakarta oleh seribu lebih pesawat per hari kudu mendarat dan lepas landas juga jadi masalah.

Langkah memerluas Soekarno-Hatta pun tak menyelesaikan masalah kemacetan dari, dan ke bandara, kini kian kronis.

Mengalihkan sebagian beban ke bandara Halim Perdanakusuma, 40 kilometer di timur Soekarno-Hatta, juga bukan solusi.

Pengalihan ini hanya mengurangi lima persen beban Soekarno-Hatta.

Artinya, bandara utama di Tangerang itu tetap padat.

Menambah kapasitas penerbangan di Halim hampir mustahil.

Daya dukung bandara milik Angkatan Udara ini terlalu kecil.

Apalagi penggunaannya kudu berbagi dengan pesawat militer atau rombongan VVIP.

Jika memang ingin tuntas mengatasi kelebihan beban Soekarno-Hatta, cara terbaik membangun bandara baru.

Bandara ini sebaiknya dibangun jauh di luar Jakarta.

Keuntungannya, selain harga tanah lebih murah, mengantisipasi pesatnya perluasan Ibu Kota dan sekitarnya.

Salah satu area bisa dipilih kawasan Subang, Karawang.

Alternatif lain, memerluas rencana pembangunan Bandara Majalengka, kini mulai disiapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Memang lebih jauh.

Tetapi, jika dilengkapi jalur angkutan massal seperti kereta api, bandara ini bisa dicapai cukup hanya dua jam dari Ibu Kota.

Waktu tempuh ini terhitung normal lantaran, faktanya, akibat jalanan selalu macet, sekarang pun penumpang dari tengah Kota Jakarta bisa menghabiskan tiga hingga empat jam untuk sampai ke Soekarno-Hatta.

***** Opini Tempo.co

Related posts

Leave a Comment