Taman Satwa Cikembulan : Selamat Lebaran Idul Adha (10 Dzulhijjah 1437 H)

0
19 views

aa568Manager Taman Satwa Cikembulan, Rudy Arifin, SE Beserta Keluarga dan Seluruh Keluarga Besar Pengelola Lembaga Konservasi Ini.

Mengucapkan ; “Selamat Lebaran Idul Adha (10 Dzulhijjah 1437 H).

-Labuhkan Pencarian Hidup Ini Hanya Pada Yang Maha Kekal, Meski Sarat Pengorbanan, Layaknya Pencarian dan Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang Hanif.

Marilah Kita Bersilaturahmi, Saling Memaafkan dan Berbagi.

Semoga Hidup Dipenuhi Kelezatan, Selezat Sate di Hari Lebaran Qurban, Imanpun Dipenuhi Ketegaran, Setegar serta Seikhlas Ismail dengan Domba Sembelihan.

Taman Satwa ini paling lambat pada 2038 mendatang dipastikan bisa mewujudkan habitat koleksi satwa nusantara, serta memastikan diri menjadi “One Stop Destination Site”.

Sehingga benar-benar menjadi “miniatur” habitat koleksi setiap jenis satwa endemik dari setiap provinsi di seluruh Indonesia.

Target tersebut, berdasar capaian “Rencana Karya Pengelolaan” (RKP) tiga puluh tahunan (2009 – 2038) lembaga konservasi edukatif ini, ungkap Manager Taman Satwa tersebut.

Lantaran selama ini pun RKP itu, juga direalisasikan melalui tahapan pada “Rencana Karya Lima Tahunan” (RKLT), serta “Rencana Karya Tahunan” (RKT).

Sehingga setiap tahapan capaian kinerja ini, secara periodik dilaporkan pada institusi teknis terkait, ungkap Rudy Arifin.

Bahkan saat ini pun, terdapat sejumlah satwa langka dilindungi Undang-Undang RI.

Termasuk satwa endemik Provinsi Jawa Barat, di antaranya Macan Tutul, serta primata “Surili”, terdapat pula Harimau Sumatera, Orangutan dari Kalimantan, serta Kasuari dan Burung Cenderawasih asal Papua.

Sepasang Singa Afrika, Beruang, beragam jenis reftil juga aves termasuk beberapa jenis Burung Elang terdapat pula pada Taman Satwa Cikembulan, yang terhampar pada areal seluas lima hektare.

Sejak enam hingga tujuh tahun terakhir, wahana wisata pendidikan ini, secara terencana dan terukur senantiasa membenahi diri, merehabilitasi beragam sarana-prasarana penunjang, serta menyelenggarakan ragam inovasi dan kreativitas.

Agar selain bisa tampil beda setiap saat, juga berupaya maksimal memenuhi harapan pengunjung terutama kalangan keluarga, pelajar serta kalangan akademisi, termasuk wisatawan nusantara dan mancanegara.

Bagi pengunjung berkondisi usia jompo, serta cacat fisik benar-benar digratiskan, ujar Rudy Arifin.

Menyusul Taman Satwa Cikembulan dapat memastikan diri menjadi “One Stop Destination Site” bahkan juga ke depan bisa mengoleksi temuan baru satwa-satwa langka nusantara, supaya bisa dijadikan wanaha penelitian bagi kalangan ilmuwan.

Kini sedikitnya 568 populasi dari 114 spisies, berhasil dikoleksi Taman Satwa Cikembulan Kadungora Garut, Jawa Barat.

Sejak Juli 2009, dimulainya eksistensi lembaga konservasi satwa terancam langka dilindungi Undang-undang RI tersebut. Berhasil terdapat penambahan sekitar 90 populasi pada 12 spisies.

Bahkan, “Satu Di antara Sekitar 800 Spesies Apendiks I Berhasil Dibudidayakan Taman Satwa Cikembulan, Wakil Bupati Sangat Mengapresiasi Positip.

Sehingga Bayi Kakatua Diberinya Nama ‘Visi’, Sedangkan Bayi Betina Orangutan Diberi Nama ‘Mojang’”

Sebab sepasang Kakatua Jambul Jingga (Cacatua Silphurea) Asal Papua “menghadiahi” peringatan bersejarah hari jadi 203 Tahun Garut (16 Pebruari 1813 – 16 Pebruari 2016).

Malahan salah satu satwa langka dilindungi Undang-undang RI dari sekitar 800 Spesies Berpredikat Apendiks I itu.

Kini kembali mengerami telur calon anaknya.

Maka dipastikan kembali berkembang-biak pada rangkaian penyelenggaraan Peringatan kemerdekaan tahun 2016 ini.

Kakatua Jantan berusia 19 tahun sedangkan betinanya 16 tahun, selama setahun mereka disatu kandangkan hanya mereproduksi satu telur setiap tahunnya.

Sejoli dari Ordo “Passittaciformes” berfamili “Passittacidae” asal provinsi paling Timur Indonesia tersebut, bisa memproduk masing-masing satu telur setiap tahun pada sarang, yang dikemas sesuai dengan habitat aslinya.

Berupa pohon kelapa dilubangi, dengan penjagaan ketat “Keeper” atawa pawang satwa itu, Edin Mulyadin, juga setiap hari senantiasa membersihkan kandang serta menyajikan konsumsi biji-bijian berupa jagung pipilan, kacang tanah, serta kwaci.

“Ketika salah satu macan tutul di taman satwa ini melahirkan, juga Bupati Garut H. Rudy Gunawan memberinya nama Si Bulan, kemudian Wakil Bupati dr H. Helmi Budiman berkenan pula memberi nama pada anak Kakatua Langka dilindung Undang-undang RI ini,” imbuh Rudy Arifin.

Pemberian Nama Visi, lantaran burung memiliki mata yang tajam juga suara yang bisa mirip manusia. Sehingga agar Masyarakat Garut memiliki visi yang menjadi komitmen bersama, “Garut Bermartabat, Nyaman, dan Sejahtera”.

Sedangkan Nama Mojang, sebab juga terdapat kawasan hutan yang harus kita jaga kelestariannya pada Wilayah Garut-Bandung.

Bersamaan semarak peringatan k2-71 Indonesia Merdeka, berhasil pula mengembangkan-biakan seekor anak rusa tutul asal India, seekor anak rusa Timorensis. Serta seekor anak kijang atawa Muntiacus Muntjak.

*******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here