Taman Satwa Cikembulan “Primadonakan” Macan Tutul Jawa

0
188 views

“Wakili Kabupaten Garut Miliki Lembaga Konservasi Satwa Langka Dilindungi Undang-Undang RI”

Garut News ( Ahad, 14/12 – 2014 ).

Rudy Arifin.
Rudy Arifin.

Dari koleksi sedikitnya 114 spisies dengan sekitar 532 populasi satwa, kini terdapat pada lembaga konservasi Taman Satwa Cikembulan di Kecamatan Kadungora, Garut, Jawa Barat. Namun yang paling diprimadonakan “Macan Tutul Jawa” (Panthera pardus melas).

Lantaran satwa indentitas Provinsi Jawa Barat tersebut, selain selama ini berhasil bisa dikembang-biakan juga berdasar evaluasi, populasinya berkondisi kritis sejak 2007.

Si Kuray, Induk Bayi Macan Tutul Betina, Saat Baru Melahirkan.
Si Kuray, Induk Bayi Macan Tutul Betina, Saat Baru Melahirkan.

Sehingga dalam IUCN Red List didaftarkan pada CITES Appendix I. Serta dilindungi Undang-Undang RI No.5/1990, dan “Peraturan Pemerintah” (PP) No.7/1999, ungkap Manager Taman Satwa satu-satunya di Provinsi Jawa Barat itu, Rudi Arifin, SE kepada Garut News, Ahad (14/12-2014).

Meski ungkap Rudy Arifin, jenis satwa lainnya pun termasuk terdaftar pada CITES Appendix II tetap mendapatkan perawatan, dipelihara bahkan diupayakan dapat dikembang-biakan agar mereka tak punah.

Si Kupa, Berusia Enam Tahun, Jantan Macan Tutul.
Si Kupa, Berusia Enam Tahun, Jantan Macan Tutul.

Menyusul taman satwa seluas lebih empat hektare dikelola sedikitnya 24 personil, kini sekurangnya berkoleksikan terdiri AVIS 376 populasi, Reptil 24 populasi, serta beragam jenis mamalia 132 populasi.

“Maka taman satwa inipun, sebenarnya mewakili Kabupaten Garut memiliki lembaga konservasi satwa langka dilindungi Undang-Undang RI,” ungkapnya.

Dikemukakan Rudy Arifin, macan tutul itu salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan pada hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi.

Induk Macan Tutul Kini Hamil Kedua Kalinya di Taman Satwa Cikembulan.
Induk Macan Tutul Kini Hamil Kedua Kalinya di Taman Satwa Cikembulan.

Memiliki dua variasi warna kulit berwarna terang (oranye), dan hitam (macan kumbang). Mempunyai indra penglihatan, dan penciuman tajam.

Umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang hitam mengilap, berbintik-bintik gelap berbentuk kembangan hanya terlihat di bawah cahaya terang.

Hewan itu soliter, kecuali pada musim berbiak. Lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya terdiri dari aneka satwa lebih kecil biasanya diletakkan di atas pohon.

Taman Satwa Cikembulan.
Taman Satwa Cikembulan.

Merupakan satu-satunya kucing besar masih tersisa di Pulau Jawa. Frekuensi tipe hitam (kumbang) relatif tinggi.

Warna hitam ini terjadi akibat satu alel resesif yang dimiliki hewan tersebut.

Karena itu, memaknai dan menapaki tahun baru 2015, Taman Satwa Cikembulan dipastikan konsisten dengan komitmennya, menjadikan macan tutul sebagai primadona.

Tata kelola sang primadona ini, di antaranya berupa upaya peningkatan kualitas kaidah kesehatannya, antara lain terpogram pemberian obat cacing juga kalsium.

Termasuk diupayakan sarana kandang lebih memadai, menyesuaikan dengan keinginan habitat aslinya.

Mata Rusa.
Mata Rusa.

Sebab keenam populasi macan tutul di Taman Satwa Cikembulan, masing-masing juga terpasangi mikro chip, sehingga bisa diketahui detail identifikasinya termasuk kondisi giginya pun bisa teregistrasi, ungkap Rudy Arifin.

Keenam macan tutul itu, terdiri empat jantan dan dua betina termasuk satu balita, bahkan kini untuk kedua kalinya terdapat pula macan tutul betina berkondisi hamil muda.

“Ke depan, tak mustahil menjalin dan membangun komunikasi dengan para pakar dari institusi internasional, antara lain guna memetakan genetika atawa kromosom Harimau Tatar Priangan ini,” kata Rudy Arifin.

Menyusul pula, pada pergantian tahun 2013/2014 lalu berhasil membudidayakan hewan dilindungi Undang-Undang itu.

Si Anak Manja.
Inilah Surili, Si Anak Manja.

Berawal sepasang macan tutul disatu kandangkan sejak Nopember 2011 tersebut, ternyata pada 28 Desember 2013 pukul 05.00 membuahkan keturunan.

Berupa kelahiran anaknya berkelamin betina seberat 500 gram. Panjangnya 30 cm, berketinggian 10 cm, berkondisi sehat atawa prima.

Induknya berusia empat tahun, diperoleh dari kawasan Gunung Cikuray pada Oktober 2011, kemudian diselamatkan dan dipelihara pada lembaga konservasi Taman Satwa Cikembulan, kemudian diberi nama Si Kuray.

Sedangkan jantannya berusia enam tahun, diselamatkan dan dipelihara, diperoleh dari Gunung Sawal di Desa Cikupa Kabupaten Ciamis, pada September 2009 diberinya nama Si Kupa.

Masyarakat diharapkan memahami benar, satwa dilindungi tak beoleh dipelihara sendiri, sehingga bisa diserahkan pada taman satwa, pihak pengelola taman satwa yang selanjutnya berkoordinasi dengan pihak BKSDA.

Sedangkan harapan pada Pemkab Garut, bisa segera menuntaskan peningkatan kualitas inprastruktur jalan, antara lain guna menjaring kalangan wisatawan lokal hingga mancanegara, imbuh Rudy Arifin, menambkan.

Guna menjamin siatusi kondusif, Taman Satwa Cikembulan tak mengadakan acara malam tahun baruan, melainkan pada siang keesokan menyajikan hiburan sehat masyarakat, bisa berupa pencak silat, atawa gelaran musik ringan.

*******

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here