Taman Satwa Cikembulan : Nu Datang Mawa Bagja, Nu Miang Mugia Waluya

Taman Satwa Cikembulan : Nu Datang Mawa Bagja, Nu Miang Mugia Waluya

110
0
SHARE
Konsisten Berkomitmen Penguatan Kualitas Konservasi.
Berwisata Sehat & Edukatif di Taman Satwa Cikembulan.

“Dirgahayu Hari Jadi ke-211 Kabupaten Garut”

Manager Taman Satwa Cikembulan Kadungora Garut, Rudy Arifin, SE Bersama Keluarga serta Seluruh Pengelola Lembaga Konservasi tersebut.

Mengucapkan :

                                      Dirgahayu Hari Jadi ke-211 Kabupaten Garut                                                                   (16 Februari 1813 – 16 Februari 2024 ) 

                                  “Nu Datang Mawa Bagja, Nu Miang Mugia Waluya”

Antara lain selama ini berupaya maksimal meningkatkan kualitas penguatan ‘konservasi’ guna mencegah beragam efek perubahan iklim.

Sedangkan Konservasi berupa pemanfaatan, pengelolaan sumber daya alam termasuk satwa, air, udara, mineral, terbarukan atau tidak terbarukan.

Dirgahayu Hari Jadi ke-211 Kabupaten Garut.

Lantaran selama ini konservasi sumber daya alam itu, kian kerap digunakan pada wacana publik bersamaan meningkatnya beragam masalah, tekanan, dan kerusakan lingkungan hidup.

Bahkan Allaby (2010) berpendapat, konservasi juga pengelolaan biosfer secara aktif demi menjamin kelangsungan keanekaragaman spesies maksimum, serta pemeliharaan keragaman genetik dalam suatu spesies.

Termasuk di dalamnya pemeliharaan fungsi biosfer misalnya siklus nutrisi, dan fungsi ekosistem.

Agar lingkungan bisa senantiasa memberikan manfaat terbesar berkelanjutan bagi generasi sekarang sekaligus menjaga potensinya, guna memenuhi kebutuhan hidup generasi mendatang.

Pemanfaatan, pengelolaan sumber daya alam termasuk satwa, air, udara, mineral, terbarukan atau tidak terbarukan.

Pelestarian spesies, dan proses biologis pun harus simultan dengan konservasi sumber daya abiotik. Lantaran apabila tidak, maka tidak mungkin berhasil.

Sedangkan berdasar Tim PBB, perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu, dan pola cuaca dalam jangka panjang.

Pergeseran ini kemungkinan alami, namun sejak periode 1800-an, aktivitas manusia menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas yang memerangkap panas.

Rehat Sehat Bersama Keluarga.

Efeknya, suhu yang lebih hangat lambat laun mengubah pola cuaca, dan mengganggu keseimbangan alam yang normal. Menimbulkan banyak risiko bagi manusia serta semua bentuk kehidupan lain di Bumi.

Nyaris semua wilayah daratan mengalami lebih banyak hari terik, dan gelombang panas. Pada 2020 salahsatu tahun terpanas pernah tercatat.

Suhu lebih tinggi bisa meningkatkan penyakit berhubungan dengan panas dapat menjadikan orang lebih sulit bekerja maupun beraktivitas. Kebakaran hutan pun lebih mudah terjadi malahan lebih cepat menyebar ketika kondisi lebih panas.

Selamatkan Kukang dari Kepunahan.

Badai lebih hebat, perubahan suhu menyebabkan perubahan curah hujan. Akibatnya, badai terjadi lebih sering dan lebih hebat sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor, menghancurkan rumah dan masyarakat, serta menimbulkan kerugian miliaran dolar.

Meningkatnya kekeringan, air pun semakin langka di lebih banyak daerah. Kekeringan dapat memicu badai pasir dan debu yang merusak, memindahkan miliaran ton pasir melintasi benua.

Kesejahteraan Satwa Sesuai Habitatnya.

Gurun bertambah luas sehingga mengurangi lahan tanaman pangan. Banyak orang menghadapi ancaman terjadinya kekurangan air yang terus-menerus.

Efek lainnya, kenaikan suhu dan permukaan laut. Laut menyerap sebagian besar panas dari pemanasan global. Menyebabkan lapisan es mencair dan menaikkan permukaan laut, mengancam komunitas pesisir dan pulau.

Karbon dioksida juga diserap laut, sehingga tidak lepas ke atmosfer. Bertambahnya karbon dioksida menjadikan laut lebih asam, membahayakan kehidupan di dalamnya.

Taman Satwa Cikembulan.

Hilangnya spesies, perubahan iklim menimbulkan risiko kehidupan spesies di darat dan di laut. Meningkat saat suhu naik. Kebakaran hutan, cuaca ekstrem, serta serangan hama dan penyakit sebagai beberapa ancaman terkait perubahan iklim.

“Beberapa spesies akan dapat pindah dan bertahan hidup, tetapi yang lain tidak”

Kekurangan makanan, perubahan iklim dan peningkatan cuaca ekstrem. Salahsatu alasan dibalik peningkatan kelaparan serta gizi buruk secara global.

Perikanan, tanaman pangan, dan ternak bisa hancur atau menjadi kurang produktif. Stres panas mengurangi air padang rumput untuk penggembalaan.

Lebih banyak risiko kesehatan, perubahan pola cuaca memerluas cakupan penyakit seperti malaria. Peristiwa cuaca ekstrem meningkatkan penyakit dan kematian, sementara sistem perawatan kesehatan kesulitan mengikuti perkembangannya.

Risiko lain bagi kesehatan termasuk peningkatan kelaparan, dan gizi buruk di daerah yang tidak memungkinkan orang membudidayakan atau menemukan cukup makanan.

Kemiskinan dan pengungsian, perubahan iklim meningkatkan faktor-faktor menjadikan orang menjadi dan terus miskin. Banjir menyapu daerah kumuh di perkotaan, menghancurkan rumah juga mata pencaharian.

Panas memersulit pekerjaan di luar ruangan. Bencana terkait cuaca menggusur sekitar 23 juta orang per tahun, semakin banyak orang rentan terhadap kemiskinan.

“Sehingga Upaya Pencegahan Efek Perubahan Iklim Dengan Penguatan Konservasi, Bisa Dijadikan Solusi yang Lebih Efektif & Efisien” 

*******

Pelbagai Sumber/Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY