Tak Silau dengan Jabatan

0
11 views
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi) Foto : John Doddy Hidayat.

Rabu 15 Agustus 2018 19:20 WIB
Red: Agung Sasongko

“Generasi pertama umat ini menyadari, kepemimpinan amanah yang dipertanggungjawabkan”

Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi) Foto : John Doddy Hidayat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekelompok kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Isu pemilihan calon pemegang urusan kepemimpinan sepeninggal Nabi Muhammad SAW beredar di kalangan mereka. Ketika itu Rasulullah wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Sebuah musibah yang mengguncangkan hati dan iman kaum Muslim.

Ibnu Rajab mengisahkan, sebagian orang terkejut dan tidak bisa berpikir jernih. Sebagian yang lain terduduk lemas tak dapat berdiri, sebagian lagi tak mampu berkata-kata, sementara beberapa mengingkari kematian Rasul.

Di tengah mendung yang bergelayut itu, kaum Muslim dihadapkan pada satu perkara yang harus mereka putuskan; kepemimpinan. Orang-orang Anshar berkumpul di sekitar pemimpin kaum Khazraj, Sa’ad bin Ubadah. Sementara, kaum Muhajirin berkumpul bersama Abu Bakar untuk keperluan yang sama.

Menurut Ali Muhammad Ash Shallabi dalam Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq, kabar berkumpulnya kaum Anshar itu sampai kepada kaum Muhajirin. Sebagian kemudian mengajak yang lain menemui kaum Anshar. Sebab, bagaimanapun juga dalam hal ini mereka memiliki bagian.

Umar bin Khattab meriwayatkan peristiwa ini. Akhirnya, kaum Muhajirin berangkat untuk menemui kaum Anshar. Sesampainya mereka di sana, seorang orator dari kaum Anshar berdiri.

Ia mengucapkan syahadat dan pujian untuk Allah, kemudian berkata, “Kita semua adalah para penolong Allah dan pasukan pembela agama Islam, sedangkan kalian—orang-orang Muhajirin—hanyalah bagian kecil dari kita. Sesungguhnya ada beberapa orang dari kalangan kalian yang diam-diam hendak menjauhkan kami dari hak kami dan menyingkirkan kami dari urusan kepemimpinan.”

Ketika orator itu diam, Umar hendak berbicara. Ia telah mempersiapkan semua kata-kata yang menurutnya tepat diutarakan. Tapi, Abu Bakar menahannya. Umar pun diam, bagaimanapun juga, ia tahu Abu Bakar lebih bijaksana dan sabar.

Kebaikan telah kalian sampaikan, itu memang hak kalian, demikian kata Abu Bakar. Namun, permasalahan khilafah ini tidak akan dijabat, kecuali oleh orang dari kalangan suku Quraisy, sebagaimana telah disabdakan Nabi. Merekalah pemilik nasab dan tempat tinggal yang baik.

Abu Bakar kemudian menggandeng dua orang; Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah Ibnu Jarrah. Ia ajukan kepada segenap kaum Muslim yang hadir, mana di antara keduanya yang hendak dipilih.

Saat keputusan itu belum tercapai, tiba-ada seseorang dari kalangan Anshar mengajukan usul. Akan lebih baik apabila tiap kaum memilih pemimpin sendiri, di kalangan Anshar ada pemimpin, sedangkan di kalangan Muhajirin juga ada pemimpin.

Usulan itu menimbulkan perselisihan dan adu mulut dengan suara keras. Sampai-sampai, Umar khawatir persatuan kaum Muslim pecah lantaran urusan khalifah. Ukhuwah yang telah dirintis Nabi semasa hijrah dengan saling mempersaudarakan mereka, terlalu sia-sia apabila harus pecah karena urusan politik kepemimpinan semata.

Dalam situasi krisis itu, Umar berkata, “Ulurkan tanganmu, wahai Abu Bakar!” Abu Bakar pun membentangkan tangan dan Umar langsung membaiatnya diikuti kaum Muhajirin dan kemudian kaum Anshar. Keputusan telah dicapai.

Tidak lantas menerima begitu saja, Abu Bakar berusaha membersihkan jiwa kaum Muslim dari segala bentuk ketidakpuasan terhadap pengangkatan mereka atasnya. “Wahai manusia, ingatlah Allah! Siapa saja yang merasa menyesal atas pembaiatanku, hendaknya berdiri.”

Semua diam. Ali bin Abi Thalib menegaskan, “Demi Allah, kami tidak akan mencopotmu dan tidak akan memintamu turun dari jabatan. Rasulullah telah mendahulukanmu, maka siapakah yang berhak mengakhirkan dirimu?”

Abu Bakar tidak pernah sedikitpun meninggalkan kebaikan kaum Anshar. Ia mengucapkan kata-kata yang membuat ridha kaum Anshar, “Kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah bersabda, seandainya manusia meniti satu lembah, kemudian kaum Anshar melewati lembah yang lain, aku akan melewati lembah kaum Anshar.”

Kepada Saad bin Ubadah, Abu Bakar berkata, “Dan engkau pun telah mengetahui wahai Sa’ad, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda saat engkau sedang duduk, kaum Quraisy adalah pemegang urusan kepemimpinan ini maka orang yang berbakti dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang berbakti dari kalangan Quraisy, demikian sebaliknya.”

Sa’ad menjawab, “Engkau benar. Kami adalah para menteri, sedangkan kalian adalah para pemimpin.”

Tidak ambisius

Sesungguhnya perbedaan pendapat atau perselisihan soal kepemimpinan adalah hal yang lumrah terjadi. Namun, para sahabat menyelesaikan dengan musyawarah, menepis semua kepentingan pribadi untuk mencari kemaslahatan bersama. Ada Abu Bakar yang tak berambisi, ada Umar bin Khattab yang menengahi, dan ada Sa’ad bin Ubadah yang ikhlas menerima.

Tatkala Abu Bakar selesai menyelesaikan pembicaraan di Saqifah, ia mengajukan Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah sebagai calon khalifah. Umar membenci hal tersebut. Ia lebih memilih dipenggal lehernya daripada memimpin sebuah kaum, sedang di sana masih ada Abu Bakar. Atas keyakinan itu pula, ia meminta Abu Bakar mengulurkan tangan dan membaiatnya.

Sedangkan Abu Bakar, ia pun tak pernah sekali-kali memimpikan jabatan khalifah. Dalam khutbahnya, Abu Bakar mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah berambisi terhadap kekuasaan meskipun sehari atau semalam dalam hidupku. Saya juga tidak pernah menginginkannya. Aku tidak pernah sekalipun meminta kepada Allah, baik secara terang-terangan maupun rahasia.”

Padahal, apa yang kurang dari Abu Bakar. Dia sahabat utama yang ditunjuk menjadi imam saat Rasulullah sakit pada akhir hayat beliau. Abu Bakar pula orang yang menemani Rasulullah hijrah ke Madinah. Putrinya, Aisyah radiyallahu anha, adalah istri kesayangan Nabi Muhammad.

Sikap Abu Bakar menghadapi kabar kematian Rasulullah juga menunjukkan kuatnya iman Abu Bakar. Wafatnya Rasulullah adalah musibah paling besar bagi kaum Muslim. Ali mengurung diri, Utsman terdiam, sedang Umar berbicara tidak masuk akal.

“Rasulullah tidak meninggal. Ia hanya pergi sementara untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi meninggalkan kaumnya. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali dan memotong tangan dan kaki mereka (yang mengatakan beliau telah wafat),” begitu seru Umar berkali-kali.

Saat itulah Abu Bakar keluar dan menyuruh Umar duduk. Ia menyampaikan kata-kata yang mengentak kesadaran kaum Muslim. “Barang siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”

Kemudian, Abu Bakar pun membacakan surah Ali Imran ayat 144. Semua orang menangis tersedu-sedu, seolah baru mendengar ayat itu untuk pertama kalinya. Peristiwa ini membuktikan ketabahan dan keberanian Abu Bakar. Karena, tolok ukur ketabahan dan keberanian seseorang adalah kuatnya hati ketika ditimpa musibah. Lewat kalimat-kalimat dari lisan Abu Bakar, para sahabat menyadari kelalaian dan kesedihan mereka.

Generasi pertama umat ini menyadari, kepemimpinan bukanlah jabatan yang patut dibangga-banggakan atau alat mengeruk keuntungan. Kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Amanah yang bahkan membuat gunung-gunung terbelah hancur lantaran tak sanggup menerima.

Sumber : Islam Digest Republika

******

Republika.co.id