Tahun Kursi

Iwel Sastra, Komedian
@iwel_mc

Garut News ( Jum’at, 14/03 – 2014 ).

Ilustrasi. Kursi DPRD Lengang. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Kursi DPRD Lengang. (Foto : John Doddy Hidayat).

Pakar fengshui menyebut 2014 sebagai Tahun Kuda Kayu.

Disebutkan bahwa tahun ini semua yang memiliki unsur kayu akan membawa keberuntungan.

Namun keberuntungan yang tidak dikelola dengan baik hasilnya justru sebaliknya.

Pakar politik menyebut 2014 adalah tahun politik, karena di tahun inilah diadakan pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Seharusnya pakar furnitur menyebut 2014 sebagai tahun kursi, karena pada tahun inilah kursi-kursi dengan harga beragam ramai diperebutkan.

Jika digabungkan sebutan tahun kuda kayu dengan sebutan tahun politik, maka hasilnya nyambung dengan sebutan tahun kursi.

Bukankah kebanyakan kursi berasal dari kayu?

Selain untuk duduk, kursi bisa digunakan untuk mengukur gengsi.

Ini sesuai dengan kepanjangan dari kursi, yaitu mengukur gengsi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gengsi memiliki arti kehormatan, pengaruh, harga diri, dan martabat.

Tidak semua kursi bisa digunakan untuk mengukur gengsi.

Hanya beberapa, di antaranya kursi legislatif.

Selain kursi, kita mengenal bangku.

Sama-sama untuk duduk, tapi bangku tidak menarik untuk diperebutkan.

Secara usia, bangku lebih tua daripada kursi, karena kepanjangan bangku adalah abangnya kursi.

Sering kali kita mendengar alasan seseorang maju menjadi anggota legislatif adalah mengabdi kepada masyarakat.

Jawaban itu keluar karena mereka gengsi menyebutkan alasan yang sebenarnya, seperti kangen ingin berkuasa atau untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

Biaya memperebutkan kursi-kursi ini tidaklah murah.

Wajar bila harga kursi ini mahal, karena kursi ini sangat empuk.

Saking empuknya, banyak anggota legislatif yang tertidur ketika sudah mendudukinya.

Selain itu, kursi-kursi ini seperti mengandung candu.

Mereka yang sudah duduk, enggan melepaskannya.

Ini bisa terlihat dari catatan Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR Siswono Yudho Husodo, yang menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen anggota DPR saat ini kembali berebut kursi di Pemilu 2014.

Yang mengherankan, kursi-kursi yang diperebutkan dengan sangat ketat ini, ketika sudah diperoleh, sering dibiarkan kosong oleh pemiliknya.

Pemandangan yang tidak asing bagi kita ketika melihat ruangan sidang dengan kursi-kursi yang kosong.

Saya rasa Badan Kehormatan DPR perlu membuat aturan: anggota DPR yang sering meninggalkan kursinya, kursinya akan disita oleh negara.

Salah satu penyebab kursi ditinggal adalah kunjungan anggota DPR ke luar negeri, yang istilah kerennya studi banding.

Kebiasaan studi banding ini-sering kali diselingi dengan kegiatan belanja-sudah sering mendapat kritik dari media dan masyarakat sejak beberapa periode lalu.

Akan tetapi, kejadian ini pasti akan berulang di periode berikutnya.

Bisa jadi kegiatan belanja inilah yang merupakan studi banding sesungguhnya, yaitu membandingkan harga-harga barang luar negeri dengan harga barang di Mangga Dua dan Tanah Abang, kira-kira lebih murah yang mana?

Kalau pakar fengshui menyebut, di Tahun Kuda Kayu ini akan dipenuhi keberuntungan.

Saya berharap tahun kursi ini diberkahi dengan perubahan yang membawa keberuntungan.

Mereka yang beruntung mendapatkan kursi bisa menebar keberuntungan kepada rakyat banyak.

Jangan hanya berusaha menguntungkan diri sendiri dan kroni dengan melakukan korupsi, sehingga karier pun lompat dari kursi legislatif menuju kursi terdakwa. *

******

Kolom/Artikel Tempo.

Related posts

Leave a Comment