Suksesi

0
2 views

Garut News ( Ahad, 13/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Jangan Pilih Kucing Dalam Karung. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Jangan Pilih Kucing Dalam Karung. (Foto: John Doddy Hidayat).

Ditulis dalam bentuk tembang yang merdu, Babad Tanah Jawi adalah kisah pertempuran bengis yang sambung-menyambung.

Tentang kekuasaan.

Syahdan, dalam keadaan sakit dan terbaring di Balai Kuning, Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram, memberikan pesannya yang terakhir.

Ia menetapkan bahwa salah seorang putranya, Ki Adipati Anom, menggantikannya. “Segenap putraku hormatilah penggantiku.”

Dalam versi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan Amanah-Lontar (dengan editor penyair Sapardi Djoko Damono), dikisahkan bagaimana Raja wafat dan istana berkabung.

Tak lama kemudian, orang kepercayaannya, Mangkubumi, mengumumkan kepada khalayak ramai: “Wahai orang-orang di Mataram, ketahuilah bahwa kini Pangeran Adipati bertakhta menjadi raja di Mataram. Hai segenap putra dan kerabat, siapa yang tidak setuju, mengamuklah, aku ini lawanmu.”

Mendengar itu, orang Mataram ketakutan.

Tampaknya bibit-bibit ketegangan sudah terasa.

Ini mulai mengemuka ketika salah seorang pangeran, yang lebih tua, kemudian tak hendak datang menghadap raja yang baru.

Mula-mula suasana damai: raja muda itu cukup bijaksana untuk tak menggunakan kekerasan.

Ia malah memberi kakaknya, Pangeran Puger, kekuasaan di Demak, sebuah wilayah satelit Mataram.

Tapi tak lama.

Dari Demak Puger, yang kemudian disebut Adipati Demak, menyatakan kedaulatannya sendiri.

Demak ingin lepas.

Tak ayal, perang pun terjadi.

Dipimpin sendiri oleh Baginda, bala tentara Mataram bergerak ke utara.

“Dilihat dari kejauhan seperti laut tanpa tepi, diseling gunung terbakar.”

Ribuan tombak kadang-kadang tampak seperti kilat, kadang-kadang seperti sinar pelangi.

Dan pertempuran terjadi.

Terpojok, Adipati Demak melawan dengan berani.

Ia sakti, demikian cerita Babad Tanah Jawi, dan sempat membunuh banyak prajurit Mataram.

Tapi akhirnya ia terperangkap jaring dan diringkus.

Demak ditaklukkan.

Raja tak menghukum mati kakaknya yang memberontak itu.

Ia hanya dicopot dari jabatannya.

Tapi konflik tak ber­akhir.

Dari Ponorogo, adik Baginda, Pangeran Jayaraga, juga melawan.

Ia pun segera dijinakkan.

Namun kemudian Mataram melancarkan perang baru, perang penaklukan ke Jawa Timur.

Sampai jilid yang terakhir, pupuh-pupuh Babad Tanah Jawi menunjukkan bahwa “tanah Jawa” bukanlah sebuah kosmos yang terjamin dan tanpa konflik.

Ditulis di abad ke-18, karya ini, meskipun mengandung “mitologi, legenda, folklor” (seperti tertulis di bawah judul versi Indonesianya), sebenarnya juga menunjukkan sebuah perspektif yang modern: melihat sejarah sebagai kisah yang tak menampilkan sifat sakral kekuasaan.

Takhta selalu bersifat sementara.

Babad ini boleh dikatakan disunting dari riwayat raja-raja yang bangun dan jatuh.

Perang suksesi tak kunjung berhenti.

Penguasa dan para pecundang dalam buku ini memang menyebut “kehendak Tuhan” ketika mereka memilih sebuah tindakan.

Tapi hanya sejenak Tuhan hadir.

Hanya dalam momen itu, hanya dalam ucapan itu.

Selebihnya: manusia.

Dan manusia, di sini, menunjukkan bahwa tak ada sesuatu yang transendental di dasar “harmoni” sosial sebuah kerajaan.

Yang menonjol adalah status quo sesudah atau sebelum pertarungan politik, pertarungan yang mencoba menutup-nutup dirinya.

Dari segi ini penulis Babad Tanah Jawi mirip dengan Machiavelli. Orang Firenze ini menuliskan gagasannya dari Italia abad ke-16 yang penuh persengketaan.

Risalahnya yang termasyhur, Il Principe dan Discorsi, bukanlah, seperti umumnya ditafsirkan, serangkaian nasihat jahat kepada penguasa.

Machiavelli hanya memperlihatkan bahwa sejarah kekuasaan selalu bersifat serba mungkin, penuh risiko, dan genting.

Dalam keadaan demikian, diperlukan politik yang tepat, laku dengan sikap tertentu, terutama yang berani dan cerdik.

Dan itu bisa dipelajari dan didapatkan siapa saja.

Dengan kata lain, kekuasaan sebagai Il Principe bisa didapatkan siapa saja.

Untuk memakai kata-kata Claude Lefort, ia sebuah “tempat kosong”, un lieu vide, karena tak ada yang sudah niscaya mengisinya.

Ia tempat yang diperebutkan.

Tentu saja kata “tempat kosong” bisa menyesatkan.

Takhta sebagai “tempat” sama sekali tak kosong, meskipun ketika tidak ada seorang pun yang duduk di sana.

Takhta mengandung sebuah pesona, mungkin candu, juga banyak hal yang najis dan destruktif.

Yang menarik ialah bahwa Babad Tanah Jawi juga memperlihatkan takhta sebagai wilayah kosong (dan tak jarang penuh najis) yang diperebutkan.

Secara tersirat ia bercerita tentang tak adanya monopoli kuasa yang dipegang selama-lamanya.

Tak ada hak istimewa untuk itu.

Tak ada legitimasi terus-menerus.

Bahkan jika dibaca lebih jauh, akan kita ketahui bahwa asal-usul raja-raja Jawa bermula dari campuran antara takdir dan kebetulan dalam kehidupan rakyat biasa: ayah dari Panembahan Senapati yang sebelum naik jenjang bernama Sutowijoyo adalah seorang petani, Ki Ageng Pemanahan, yang tanpa disengaja meminum air kelapa yang mengandung nasib baik.

Konon di negeri lain, katakanlah di Jepang dan Prancis sebelum Revolusi, mereka yang bertakhta dianggap tubuh yang sebagian berisi roh dari langit.

Babad Tanah Jawi, sebaliknya, tak akan meyakinkan bila ia menampilkan Raja Amangkurat yang buas itu sebagai separuh titisan Tuhan.

Tentu akan aneh bila dikatakan bahwa cerita raja-raja Jawa itu mengajari kita wawasan demokrasi.

Tapi bagaimana juga, semangat demokrasi tumbuh ketika setelah membaca Babad Tanah Jawi kita sadar, tiap kekuasaan politik pada akhirnya hanya menunda kekalahan.

Goenawan Mohamad

SHARE
Previous articleKoalisi
Next articlePileg Garut Diulang