Sukarni dalam Film ‘Soekarno’

Emalia I. Sukarni-Lukman,
Putri bungsu Sukarni Kartodiwirjo (alm)

Garut News ( Sabtu, 18/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Tugu Pertempuran Kubang. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Tugu Pertempuran Kubang. (Foto: John Doddy Hidayat).

Baru-baru ini saya menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Saya sangat terkejut, merasa kecewa serta heran dengan penggambaran karakter ayah saya, Sukarni, dalam film tersebut.

Gambaran tentang ayah terekam juga oleh penonton lain yang kemudian menulis di Jawa Pos pada pertengahan Desember 2013.

Tidak patutnya tindakan tersebut juga sangat bertentangan dengan pendapat sejarawan terkemuka dunia Ben Anderson sewaktu berbincang-bincang dengan saya.

Dalam bukunya, Sukarni adalah tokoh pergerakan dalam sejarah Indonesia yang berperan penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Sukarni adalah seorang pejuang militan yang berkarakter keras, cermat, militan, konsisten, dan setia pada nusa-bangsa Indonesia dan keturunan Onggomerto/ Anggamerta (Carey)–pengikut setia dan militan dari barisan pengawal Pangeran Diponegoro.

Rekam jejak Sukarni adalah sebagai berikut: 1) 14 tahun dikejar-kejar intel Belanda, 2) 1937, Ketua Umum Indonesia Muda, bergerilya menyebarkan pemikiran Pak Tan Malaka dan dirinya sendiri, 3) Maidi adalah nama samarannya sewaktu ke Kalimantan, 4) ikut keluarga Soekarno dan Ibu Inggit di Bandung, 5) Zaman Jepang bekerja di Domei, tapi bergerilya dan penggagas serta Ketua Committee Van Actie, 6) berhasil “menodong” Bung Karno supaya ke Rengasdengklok beserta keluarga untuk kemerdekaan Indonesia, berdasarkan rasa percaya sejak di Blitar dulu, 7) Ketua Umum MURBA, 8) Dubes Indonesia untuk RRC, 9) Anggota DPA, 10) Ketua DHN IV Angkatan ’45, dan dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta.

Sukarni ditahan oleh Bung Karno pada 5 Januari 1965 secara sewenang-wenang dan tanpa alasan, dan itu merupakan perbedaan persepsi politik.

Tak lama kedua orang tua saya wafat: Mama (1968) dan Sukarni (1971).

Wasiatnya berupa ujaran: “Mintalah rida Allah, percaya pada kekuatan dirimu sendiri, berbaktilah pada nusa dan bangsa Indonesia (bukan pemerintahan), dan jadilah orang produktif”.

Saya menulis biografinya: Sukarni dan Actie Rengasdengklok berdasarkan penelitian dan beredar pada Maret 2013 di Jakarta.

Buku itu terbit jauh sebelum film itu tayang serta disosialisasi di KJRI Los Angeles, KJRI New York, (Maret 2013, www.deplu.go.id), Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta (April 2013), Desa Sumberdiren di Garum (April 2013), Laboratorium Drama, FSUM, Malang (April 2013), dan FIS UNY Yogyakarta (April 2013).

Juga di Historia (Maret 2013) dan tempo.co (26 Oktober 2013).

Harus diingat bahwa film itu ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu, patut dipertanyakan dasar pemikiran dan tujuan sutradara untuk merusak kenyataan sejarah pada Sukarni, salah seorang founding father Indonesia yang jelas rekam jejaknya sejak dulu kala.

Karena itu, dengan segala kerendahan hati, penggambaran Sukarni di film Soekarno merupakan hal yang tidak patut dilakukan kepada saya dan keluarga, terutama kepada bangsa Indonesia, karena karakter historis pejuang kemerdekaan pendiri bangsanya yang seharusnya menjadi sumber keteladanan telah dicemarkan. *

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment