Studi: Otak Einstein Tidak Spesial

Jakarta, Garut News ( Ahad, 01/06 – 2014 ).

Albert Einstein.
Albert Einstein.

– Albert Einstein mewariskan setidaknya dua hal untuk umat manusia: teori relativitas umum dan otaknya.

Sejak kematiannya 18 April 1955, para ilmuwan memelajari, memeriksa, dan menganalisis organ di dalam kepala salah satu pemikir terbesar era modern ini.

Penelitian sebelumnya menyebutkan kegeniusan Einstein disebabkan otak “abnormal” beda dan lebih besar dari otak manusia pada umumnya.

Jumlah lipatan otak lebih banyak menyebabkan Einstein memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Namun penelitian terbaru membantah hal itu.

“Otak Einstein sama seperti umat manusia lain,” kata Terence Hines dari Pace University di New York, Amerika Serikat, seperti dikutip Dailymail, Jum’at, 30 Mei 2014.

Temuan ini sekaligus membuktikan tak ada spesial pada otak Einstein.

Pada 1985, sebuah studi dilakukan Marian Diamond menunjukkan otak Einstein memiliki jumlah sel glial jauh lebih banyak daripada orang dengan tingkat kecerdasan rata-rata.

Sel glial–dikenal sebagai neuroglia–berfungsi mendukung, dan melindungi sel-sel saraf atawa neuron di otak.

Keberadaannya diketahui bisa mendongkrak kemampuan berpikir.

Otak Einstein sempat memunculkan kontroversi.

Pakar fisika teori itu dikabarkan berwasiat agar seluruh tubuhnya dikremasi manakala meninggal.

Namun ahli patologi, Thomas Stoltz Harvey, ketika itu sangat ingin mengawetkan otak Einstein, dianggap sebagai pikiran terbesar generasi manusia.

Harvey, atas restu anak Einstein, mengambil dan mengawetkan otak Einstein tujuh setengah jam setelah kematiannya demi ilmu pengetahuan.

Harvey, salah satu ilmuwan terlibat penelitian Diamond tahun 1985.

Dari penelitian itu pula disimpulkan otak Einstein memiliki keistimewaan.

Namun hal ini ditentang Hines.

Menurut Hines, dari 28 tes pembandingan otak Einstein dengan otak manusia lain sebagai kontrol, hanya satu tes dianggap signifikan para peneliti saat itu.

Selain itu, analisis mikroskopis terhadap sampel irisan otak menunjukkan pada dasarnya tak ada perbedaan antara otak Einstein, dan otak manusia pada umumnya.

“Adalah naif memercayai hasil analisis satu atawa beberapa irisan kecil otak tunggal bisa mengungkapkan sesuatu berhubungan dengan kemampuan kognitif tertentu dari otak,” kata Hines.

Ia katakan pengamat kudu melakukan “tes buta” terhadap otak Einstein, dan manusia lainnya melihat perbedaan menonjol di antara mereka.

“Jika ada perbedaan signifikan, metodologi eksperimental akan mengungkapkannya,” tulis Hines dalam artikelnya.

DAILYMAIL | MAHARDIKA SATRIA HADI/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment