Stres dan Galau? Mungkin Anda Perlu Membelai Kucing

0
26 views

Garut News ( Selasa, 03/11 – 2015 ).

Sue memeluk kucingnya Tom yang membantu deteksi kanker di lehernya. (dok. Dailymail).
Sue memeluk kucingnya Tom yang membantu deteksi kanker di lehernya. (dok. Dailymail).

– Stres? Kerja terlalu banyak? Merasa tidak dicintai? Mungkin Anda perlu bersantai dengan teman kecil yang penuh bulu ini untuk menghindari tekanan di tempat kerja.

Cat café atau kafe kucing, merupakan konsep baru yang memikat semua orang mulai dari mereka yang sudah kebingungan sampai pekerja yang kecapaian. Kafe kucing ini juga makin trendi di banyak kota-kota besar di dunia.

Idenya sederhana. Kafe menawarkan kesempatan untuk melewatkan satu jam atau lebih dengan ditemani kucing dan anak kucing sambil Anda minum minuman favorit Anda.

Courtney Hatt, seorang pencinta hewan dan mantan karyawan di bidang teknologi tinggi di San Francisco, membuka kafe kucing pertama di kota itu pada pertengahan tahun ini. KitTea memiliki ruang untuk bermain-main atau mengusap-usap kucing.

Di sana pelanggan membayar per jam untuk bersantai dengan banyak kucing, yang kesemuanya juga tersedia untuk diadopsi. Kafe ini juga menyuguhkan teh Jepang yang eksotis di ruang terpisah.

“Ketika Anda masuk ke kafe biasa dan ketika ke kafe yang penuh dengan kucing, Anda pasti merasakan perbedaan besar dalam hal bagaimana berinteraksi dan berperilaku di ruang itu,” kata Hatt. “Di sini orang berkenalan dengan orang lain, asyik sekali melihatnya.”

Terapi dengkuran

Hatt percaya bahwa ini merupakan bentuk terapi yang ideal untuk menenangkan tekanan kehidupan kerja yang dialaminya sendiri saat ia masih bekerja di dunia perusahaan teknologi perintis.

“Kafe ini membuat kita sepenuhnya tenang dengan perasaan menyenangkan,” katanya.

Bentuk terapi hewan ini, atau juga yang dikenal sebagai terapi dengkuran, berasal mula dari Jepang. Di sana kafe semacam ini pertama kali dibuka 20 tahun lalu.

Tidak seperti KitTea dan kafe kucing di kota-kota lain di Amerika Serikat, kafe kucing di Jepang pertama-tama justru melayani orang-orang yang tidak diizinkan memelihara hewan di apartemen mereka yang kecil. Kafe kucing yang mengambil model Jepang ini dapat ditemukan juga di antaranya di London, Melbourne, New York dan Paris.

Setelah melakukan kampanye crowd funding (pendanaan massal), Hatt mengatakan ide membuka KitTea menghasilkan banyak minat untuk mengundang para investor.

Memang sekarang ini masih terlalu awal bagi kafe ini, tetapi pendirinya mengatakan kafenya mendatangkan uang. Bahkan ada daftar tunggu untuk berkunjung di jam-jam padat pengunjung.

Perilaku hewan

Kafe ini memiliki peraturan untuk tidak menganggu hewan yang sedang tidur dan para karyawan memantau kesejahteraan kucing yang ada.

Bisnis semacam ini mungkin tidak cocok untuk semua orang, terutama mereka yang tidak banyak tahu mengenai perilaku hewan.

“Kenyataannya tidak semudah yang dipikirkan orang,” kata Jacqueline Munera, yang mendapatkan sertifikasi sebagai konsultan perilaku kucing di Tampa, Florida.

“Di Jepang, kebanyakan kafe kucing memiliki jumlah kucing yang stabil. Sementara di sini (di Amerika Serikat) yang tujuannya adalah adopsi… Anda akan melihat kucing masuk dan keluar.”

Munera mengatakan mengintegrasikan populasi kucing yang terus berubah-ubah dapat menjadi masalah besar karena hewan-hewan itu mungkin saja tidak cocok satu dan lain. Kucing yang lebih tua bisa memiliki masalah bersosialisasi dengan kucing lainnya dan manusia.

Ini merupakan hal yang menurut Munera harus diawasi dengan ketat untuk mencegah hewan-hewan di kafe menjadi stres.

********
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : BBC Indonesia/Kompas.com