Strategi Kebudayaan Jakarta

Kurniawan,
@blogIWANK

Garut News ( Sabtu, 21/12 ).

Ilustrasi Budaya Macet di Jakarta. (Foto: John).
Ilustrasi Budaya Macet di Jakarta. (Foto: John).

Hingga kini, DKI Jakarta ternyata belum punya strategi kebudayaan, suatu kebijakan yang memetakan program dan arah pengembangan seni dan budaya Jakarta.

Padahal, banyak seniman dan kelompok seni yang masih mengandalkan Jakarta sebagai tempat berekspresi.

Sebetulnya, hampir setengah abad lalu, pemerintah Jakarta sudah meletakkan dasar-dasar strateginya.

“Cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota kebudayaan digariskan dalam Rencana Induk 20 Tahun DKI Jakarta. Di dalamnya, tersirat keinginan menjadikan Jakarta sebagai pusat kebudayaan nasional. Karena itu, penanganan masalah kebudayaan perlu dilakukan oleh aparat yang memadai,” demikian ditulis Ali Sadikin dalam Gita Jaya, Catatan H. Ali Sadikin, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1966-1977 (1977).

Catatan Bang Ali-demikian Ali Sadikin dulu disapa oleh rakyat Jakarta-ini ditulis sebagai semacam pertanggungjawabannya setelah melepas jabatan sebagai gubernur.

Saya sempat berjumpa dengan Bang Ali beberapa tahun sebelum dia wafat pada 2008.

Pada saat itulah dia menyerahkan buku ini kepada saya setelah mengkritik tulisan saya soal megapolitan Jakarta.

Gagasannya untuk menjadikan Jakarta sebagai “kota kebudayaan” dan “pusat kebudayaan nasional” diwujudkan dengan mendirikan, antara lain, Dewan Kesenian Jakarta, Lembaga Kesenian Betawi, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (kini Institut Kesenian Jakarta), dan Pusat Perfilman Ismail Marzuki.

Untuk membuat panggung guna menampilkan berbagai karya seni tradisional dan modern, pemerintah Jakarta membongkar Kebun Binatang Cikini dan membangun Taman Ismail Marzuki di atasnya.

Sudah sepatutnya Jakarta memikirkan kembali strategi kebudayaannya kini.

Sebuah rencana induk baru untuk Jakarta 20 tahun ke depan sudah harus segera disusun oleh pemerintahan Jokowi-Ahok.

Saat memaparkan sembilan program unggulannya pada Februari lalu, Gubernur Jokowi menyatakan salah satu programnya adalah pengembangan budaya melalui pengembangan pusat kebudayaan Betawi, revitalisasi Kota Tua, penyelenggaraan acara budaya bertaraf internasional, dan pengembangan karakter kota berciri khas Betawi.

Namun Jokowi belum memaparkan strategi kebudayaan macam apa yang akan diterapkan untuk Ibu Kota.

Melihat perkembangannya sejauh ini, Jakarta praktis sudah menjadi pusat kebudayaan dunia.

Berbagai pameran dan pertunjukan berskala internasional sudah jadi pemandangan umum.

Saya kira, kesenian Betawi, bila itu yang hendak dimajukan, harus berada dalam konteks ini: bagaimana menjadikannya pantas untuk disandingkan dengan berbagai karya seniman dunia.

Hal lain yang juga patut dicermati adalah peran generasi muda lewat lahirnya berbagai komunitas seni ataupun hobi dan kegandrungan mereka pada media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan YouTube.

Pemerintah Jakarta perlu berkomunikasi dengan mereka melalui cara yang mereka akrabi.

Tentu banyak hal yang bisa dikembangkan Jakarta dengan dukungan para seniman yang mumpuni di negeri ini.

Namun sebuah strategi kebudayaan akan sangat membantu menentukan arah perkembangan itu.

Pemerintah Jakarta belakangan ini mulai menggelar berbagai diskusi dan workshop untuk menyiapkannya.

Kita berharap hasilnya akan segera keluar karena kota ini sudah hampir setengah abad tak memiliki strategi itu.

**** Kolom/artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment