You are here
Strategi Cerdas Merencanakan Karir Sejak Dini ARTIKEL 

Strategi Cerdas Merencanakan Karir Sejak Dini

Oleh : Heri Kuswara*

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Selasa, 14/07 – 2017 ).

Ilustrasi.  ”Wahai jin dan manusia, jika kami sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Niscaya kami tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan).” (QS Al-Rahman: 33).
Ilustrasi. ”Wahai jin dan manusia, jika kami sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Niscaya kami tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan).” (QS Al-Rahman: 33).

”Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya. Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.”
(http://www.motivasi-islami.com)

Merencanakan karir sejak dini, sebuah keharusan bagi siapa saja yang menginginkan sukses dalam meraih karir gemilang. Ginzberg, dkk (1972) menegaskan ”proses pemilihan karir itu terjadi sepanjang hidup manusia. Artinya, perencanaan karir seseorang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi yang diinginkan”.

Ginzberg juga menyadari, faktor peluang/kesempatan memegang peranan yang amat penting. Meski seorang remaja sudah menentukan pilihan karirnya berdasar minat, bakat, dan nilai yang ia yakini, tetapi kalau peluang/kesempatan untuk karir di bidang tersebut menemukan hambatan atau bahkan tertutup, maka karier yang dicita-citakan akhirnya tidak bisa terwujud.

Ilustrasi. Setegar Karang Terjal yang Menghadang, Tak-kan Menyurutkasn Asa Menggapai Cita-cita.
Ilustrasi. Setegar Karang Terjal yang Menghadang, Tak-kan Menyurutkasn Asa Menggapai Cita-cita.

Menurut Ginzberg, Ginsburg, Axelrad, dan Herma (1951), perkembangan karier dibagi menjadi 3 (tiga) tahap pokok, yaitu:

1. Tahap Fantasi: 0 – 11 tahun (masa sekolah dasar). Pada tahapan ini seringkali kita mendengar adik-adik kita atau bahkan kita ketika usia di atas menyebutkan banyak cita-cita hidup yang mengalir tanpa beban. Bukan saja satu cita-cita yang dia sebutkan, melainkan banyak keinginan untuk masa depannya, seperti ingin menjadi dokter, insinyur, tentara, polisi, guru, artis, dan banyak lagi.

Keinginan-keinginan seperti itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, terutama keluarga terdekat, publikasi media yang tersedia, dan teman bermainnya.

2. Tahap Tentatif: 12 – 18 tahun (masa sekolah menengah). Tahap ini dibagi menjadi 4 (empat) subtahap, yakni (1) subtahap Minat (Interest); (2) subtahap Kapasitas (Capacity); (3) subtahap Nilai (Values); dan (4) subtahap Transisi (Transition).

Pada tahap ini, setiap remaja mulai menyadari bahwa mereka memiliki minat dan kemampuan yang berbeda dengan orang lain. Ada yang lebih mampu dalam bidang matematika, sedang yang lain dalam bidang bahasa, atau lain lagi bidang olahraga.

Pada subtahap minat (11-12 tahun), anak cenderung melakukan pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan minat dan kesukaan mereka saja. Sedangkan pada subtahap kapasitas/kemampuan (13-14 tahun), anak mulai melakukan pekerjaan/kegiatan yang didasarkan pada kemampuan masing-masing, di samping minat dan kesukaannya.

Selanjutnya pada subtahap nilai (15-16 tahun), anak sudah bisa membedakan mana kegiatan/pekerjaan yang dihargai oleh masyarakat, dan mana yang kurang dihargai. Sedangkan pada subtahap transisi (17-18 tahun), anak sudah mampu memikirkan atau “merencanakan” karir mereka berdasarkan minat, kemampuan dan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan.

3. Tahap Realistis: 19 – 25 tahun (masa perguruan tinggi). Pada usia perguruan tinggi (18 tahun ke atas), remaja memasuki tahap realistis. Mereka sudah mengenal secara lebih baik minat-minat, kemampuan, dan nilai-nilai yang ingin dikejar. Lebih lagi, mereka juga sudah lebih menyadari berbagai bidang pekerjaan dengan segala konsekuensi dan tuntutannya masing-masing.

Karena itu, pada tahap realistis seorang remaja sudah mampu membuat perencanaan karir secara lebih rasional dan obyektif.

Tahap realistis dibagi menjadi 3 (tiga) subtahap, yakni sub-subtahap (1) eksplorasi (exploration), (2) kristalisasi (chystallization), dan spesifikasi/penentuan (specification).

Pada subtahap eksplorasi, umumnya remaja mulai menerapkan pilihan-pilihan yang dipikirkan pada tahap tentatif akhir. Mereka menimbang-nimbang beberapa kemungkinan pekerjaan yang mereka anggap sesuai dengan bakat, minat, serta nilai-nilai mereka.

Namun mereka belum berani mengambil keputusan tentang pekerjaan mana yang paling tepat. Termasuk dalam hal ini adalah masalah memilih sekolah lanjutan yang sekiranya sejalan dengan karir yang akan mereka tekuni. Pada subtahap berikutnya, yakni tahap kristalisasi, remaja mulai merasa mantap dengan pekerjaan/karir tertentu.

Berkat pergaulan yang lebih luas dan kesadaran diri yang lebih mendalam, serta pengetahuan akan dunia kerja yang lebih luas, maka remaja makin terarah pada karier tertentu meskipun belum mengambil keputusan final. Akhirnya pada subtahap spesifikasi, remaja sudah mampu mengambil keputusan yang jelas tentang karir yang akan dipilihnya.

Sementara itu, Donald Super menulis buku-buku yang berkaitan dengan pengembangan karir. Dua di antaranya adalah The Psychology of Career (1957) dan Career and Life Development (1984). Ia juga menyusun beberapa tes untuk menilai tingkat kematangan vokasional, antara lain Career Development Inventory, Career maturity Test, dan Vocational Maturity Test.

Menurut Super, perkembangan karir manusia dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase, yaitu:

(1) Fase pengembangan (Growth) yang meliputi masa kecil sampai usia 15 tahun. Dalam fase ini, anak mengembangkan bakat-bakat, minat, kebutuhan, dan potensi, yang akhirnya dipadukan dalam struktur konsep diri (self-concept structure).

(2) Fase eksplorasi (exploration), antara umur 16-24 tahun. Pada saat ini, remaja mulai memikirkan beberapa alternatif pekerjaan, tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat.

(3) fase pemantapan (establishment), antara umur 25 – 44 tahun. Pada fase ini, remaja sudah memilih karier tertentu dan mendapatkan berbagai pengalaman positif maupun negatif dari pekerjaannya. Dengan pengalaman yang diperoleh, ia bisa menentukan apakah ia akan terus dengan karir yang telah dijalani atau berubah haluan.

(4) Fase pembinaan (maintenance), antara umur 44 – 65 tahun. Pada saat ini, seseorang sudah mantap dengan pekerjaannya dan memeliharanya agar dia bertekun sampai akhir.

(5) Fase kemunduran (decline), yakni masa sesudah pensiun atau melepaskan jabatan tertentu. Dalam fase ini, orang membebaskan diri dari dunia kerja formal.

Merujuk pendapat pakar diatas, Untuk mematangkan masa depan karir anda, penulis memberikan beberapa strategi cerdas dalam merencanakan karir sejak dini, yaitu sebagai berikut :

1. Gali dan Kenali Potensi Diri

”Sadarkah kita, ternyata di dalam diri manusia tersimpan kemampuan yang sangat luar biasa? Hanya saja, banyak sekali yang belum mengetahui bagaimana mengaktifkan, mengelola dan memberdayakan semaksimal mungkin kemampuan luar biasa itu.

Cukup beralasan memang, manusia tidak menyadari kemampuan yang sangat dahsyat tersebut, mengingat keberadaannya jauh tersimpan di dalam memory alam bawah sadar kita. Untuk membangkitkannya, diperlukan latihan pengelolaan pikiran bawah sadar secara simultan dan berkesinambungan, sehingga akan bangkit kekuatan luar biasa yang tersembunyi pada diri kita untuk mencapai sebuah keberhasilan sebagai solusi usaha tanpa gagal.”

Sigmund Freud (1856-1939) mengumpamakan alam pikiran manusia sebagai gunung es. Sebagian besar tenggelam dalam air, tersembunyi dalam alam bawah sadar. Di bawah permukaan air itulah tersembunyi motif, perasaan dan keinginan-keinginan, yang tidak hanya tersembunyi bagi orang lain, melainkan menjadi rahasia pula bagi dirinya sendiri.

Berikut penulis suguhkan beberapa tips tentang cara agar kita dapat menggali dan mengenali potensi diri yang super dahsyat ini.

1) Asah minat dan bakat

Setiap kita dilahirkan dengan minat dan bakat masing-masing. Minat biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan dan yang lainnya, sementara bakat lebih kepada sifat genetik (hereditas) yang dibawa sejak lahir atau lebih dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Dengan mengenali dan terus mengasah/melatih minat dan bakat yang kita miliki, niscaya kematangan dalam berkarir akan diraih. Misalnya Anda senang tampil berbicara di depan umum dan senang mengajar.

Maka jika terus diasah, berlatih dan terus berlatih, nanti Anda akan bisa menjadi seseorang yang sukses berprofesi tampil di depan umum, seperti guru, dosen, tutor, instruktur, speaker, trainer, konsultan, politikus, dan lain-lain.

Namun sebaliknya; Apapun minat dan bakat anda, meskipun itu tertanam kuat dalam diri anda, takkan membuahkan karir gemilang manakala anda tidak mengasahnya dengan sungguh-sungguh.

2). Visualisasikan Cita-cita

Memvisualisasikan cita-cita bukan berarti menghayal atau mengandai-andaikan sesuatu yang belum tentu kita capai. Memvisualisasikan harapan dan keinginan akan semakin meyakinkan dan menambah kekuatan diri untuk mampu merealisasikan apapun yang menjadi dambaan di masa yang akan datang.

Apapun medianya, selama itu tidak menggagu orang lain maka segera aktualisasikan dengan berbagai visualisasi yang akan menjadi inspirasi dalam mempercepat kita untuk segera meraih apa yang menjadi cita-cita. Contohnya jika Anda ingin menjadi seorang public speaking, tidak ada salahnya jika di kamar atau di ruangan Anda banyak terpampang foto atau lukisan tokoh-tokoh yang sukses di bidang itu.

Anda pun bisa menggambarkan/melukis diri anda yang sedang berbicara/berpidato di depan umum. Anda pun bisa mengenakan pakaian yang bergambar/berfoto orang-orang yang menjadi inspirasi Anda untuk sukses di bidang itu. Dan banyak lagi cara yang bisa anda lakukan dan media yang bisa dijadikan untuk memvisualisasikan cita-cita tersebut.

3). Autosuggestion

Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar memiliki peranan besar dan dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan diri kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.

Autosuggestion harus dilakukan dengan penuh rasa percaya, melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita.

Kekuatan yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat, entah digunakan untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.

Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock). Karena dilakukan berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa semangat. Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.

Ada enam petunjuk (P) dalam melakukan autosuggestion, yaitu:

1. Positive. Pada saat melakukan autosuggestion, pikirkan hal-hal yang positif saja.
2. Powerful. Lakukan dengan penuh keyakinan, sebab ini dapat memberikan kekuatan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa.
3. Precise. Keinginan yang hendak dicapai harus sudah dapat dideskripsikan, karena pikiran bawah sadar hanya bisa menyusun berdasarkan kategori.
4. Present Tense. Diucapkan dalam bentuk keinginan saat ini, bukan keinginan di masa lalu atau akan datang.
5. Personal. Lakukan perubahan positif terhadap diri sendiri terlebih dahulu.
6. Potential. Masih memungkinkan untuk dicapai dalam target waktu yang telah ditetapkan.

2. Jadilah Generasi Muda Mandiri

Masa depan, keinginan dan cita-cita anda adalah tanggungjawab anda 100%. Masa sekolah/kuliah adalah masa di mana anda sangat dekat dengan apa yang Anda rencanakan dan apa yang anda impikan sejak lama. Kemandirian adalah salah satu modal utama dalam meraih kesuksesan anda yang tinggal satu langkah lagi.

Mandiri merupakan ciri dari manusia dewasa; dewasa dalam berfikir, dewasa dalam berucap, dewasa dalam bertindak, dan dewasa dalam mengambil keputusan. Sebagai generasi muda mandiri, Anda diharapkan mempunyai arah hidup yang jelas, mempunyai target dan skala prioritas, serta selalu berpegang teguh pada pendirian berdasarkan hasil pertimbangan yang matang.

Menjadi generasi muda mandiri bukan berarti anda harus mampu melakukan semua aktifitas sendiri atau bersifat individualistik dengan mengabaikan berbagai bentuk bantuan dan pertolongan orang lain.

Yang dimaksud generasi muda mandiri menurut penulis adalah ketika kita dapat menentukan sikap, perilaku dan keputusannya secara tepat dan benar tanpa adanya pengaruh atau campur tangan pihak lain.

Justru dengan seringnya kita berinteraksi dan bersosialisasi dengan banyak orang, kita akan semakin memahami makna kemandirian itu sendiri. Karena melalui lingkungan itulah wawasan dan pengalaman kita bertambah luas. Ini akan menjadikan kita semakin bijak dalam bersikap dan santun dalam berperilaku.

3. Fokus pada Target

Merencanakan karir itu sangat mudah. Saking mudahnya, setiap kita dengan mudah melist banyak harapan dan impiannya. Terlebih-lebih jika anda seorang siswa/mahasiswa tentunya mempunyai peluang yang cukup besar untuk sukses di karir apapun.

Namun kenyataannya tidak sedikit yang hanya sukses berkarir dalam alam impian belaka. Salah satu faktor ketidakberhasilan kita dalam karir adalah karena tidak fokus dalam menjalani satu demi satu target yang harus diselesaikan atau dipenuhi.

Tidak salah jika kita mempunyai cita-cita yang banyak, misalnya ingin menjadi pegawai kantoran dengan jabatan tinggi, beristri cantik, mempunyai banyak anak, berpenghasilan lumayan besar, mempunyai usaha, mobil mewah, rumah mewah, investasi, haji, umroh, berwisata, dan lain-lain.

Namun apakah semua itu akan langsung dapat terlaksana manakala kita tidak memfokuskan diri pada apa yang harus ia prioritasikan sejak awal kuliah?

Maka jika anda memulainya dengan sungguh-sungguh, satu demi satu anda akan dapat melalui target dengan baik, misalnya target sekolah/kuliah mendapatkan satu kemampuan (Hard Skill), lalu diperkaya dengan ilmu pengetahuan dan keterampulan lainnya (multi skill), target tepat menyelesaikan sekolah/perkuliahan dengan baik, target mendapatkan prestasi akademik yang maksimal, target mendapatkan penghasilan selagi sekolah/kuliah, dan target-target lainnya yang menjada skala prioritas anda.

Dengan skala prioritas itulah, niscaya akan meraih keberhasilan dalam menyongsong karir gemilang.

Kesimpulan

Tahukan Anda perbedaan orang yang sukses dengan yang tidak sukses ? Orang sukses pandai dan cerdas membidik target/sasaran dengan perencanaan yang matang, sementara orang yang tidak sukses adalah orang yang mungkin juga membidik target/sasaran, tetapi tidak dengan perencanaan yang matang atau sama sekali tanpa perencanaan.

Itulah sebabnya orang yang sukses selalu bergelut dengan visi, misi, strategi, target, sasaran, konsisten, dan mempunyai prinsip yang kuat. Sukses itu tidak pandang bulu, siapa saja yang berjuang untuk mencari dan menemukan strategi jitu mengungkap rahasia menuju sukses, dialah yang akan berhasil meraih kesuksesan.

Untuk itu tiada kata terlambat, segera tuliskan pada diary anda, catat dalam hati sanubari tentang perencanaan karir anda ke depan, mulailah dengan membuat dan mengerjakan target-target secara bertahap sesuai waktu, kondisi dan skala prioritas, Ayo tuliskan!

Tuliskan dan mulailah berjuang untuk merealisasikan target-target di atas satu demi satu. Jangan berkecil hati jika pada akhirnya anda tidak maksimal meraih apa yang sudah direncanakan, padahal anda merasa sudah berjuang dan berkorban untuk meraihnya.

Ingatlah, Tuhan pasti mempunyai rencana yang terindah bagi ummatnya yang senantiasa berichtiar dan berdoa.* Akademisi/Ketua Gema Asgar Jakarta

Sumber : Kuswara, Heri. 2015. “9 Jurus Cerdas Menyongsong Karir Gemilang”.Yogyakarta. Ar-Ruzz Media.

*********

Related posts

Leave a Comment