STA Garut Makin Menyerupai Kerakap Diatas Batu

0
39 views
STA Garut di Bayongbong.

“Import Beras Mengancam Pemasaran Beras Juga Penghasilan Petani Melorot”

Garut News ( Ahad, 14/01 – 2018 ).

STA Garut di Bayongbong.

“Sub Terminal Agribisnis” (STA) Kabupaten Garut, Jawa Barat, di Desa Karya Jaya Bayongbong yang diresmikan 12 januari 2014 oleh Gubernur Danny Setiawan. Kini berkondisi semakin menyerupai kerakap diatas batu (hidup segan, mati pun tak mau).

Lantaran wahana berluas lahan sekitar satu hektare untuk penampungan hasil pertanian sekaligus memajukan pemasaran tersebut, hingga kini tak berfungsi optimal.

Cold Storage (Ruang Pendingin), yang Sama-sekali Tak Pernah Berfungsi.

Bahkan sarana-prasarana penunjang, termasuk cold storage serta sarana sortir produk pertanian sayuran, juga kian menampakan kian kumuh dan kusam.

Warga tani setempat termasuk Sumpena (45) kepada Garut News, Ahad (14/01-2018), katakan sangat menyesalkan masih minimnya perhatian Pemkab Garut yang dinilai tak mendorong kemajuan STA sehingga sering terbengkalai.

Semangat Mengolah Areal Persawahan.

Padahal Pemkab bisa membangun jaringan pasar sekaligus mencari buyer yang potensial.

Selain STA Bayongbong, dua STA lainnya di kabupaten itu pun tak berfungsi optimal, terdiri STA Cikajang kini terkesan lebih difungsikan gudang penyimpanan kentang, dan STA Cijayana sebagai tempat penyimpanan kacang tanah.

Malahan kerap dijadikan mangkal salah satu komunitas sepeda motor, termasuk bisa dijadikan sarana mesum terutama pada malam hari berkondisi sangat gelap gulita.

Sedangkan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbangkan angka 4,54 pada capaian “Laju Pertumbuhan Ekonomi” (LPE) maupun “Produk Domestik Regional Bruto” (PDRB) 5,85 di Kabupaten Garut 2016.

Bisa Terancam Beras Import.

Atau meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya hanya 0,32 akibat banyak yang mengalami gagal panen.

Namun meski demikian, pada 2015 dari 161.382 hektare areal persawahan di kabupaten ini, bisa memproduksi 1.033.921 ton padi.

Terdiri 903.230 ton padi sawah dari areal seluas 130.744 hektare, serta 130.691 ton padi gogo dari areal 30.638 hektare.

Sehingga menurut kalangan petani di kabupaten ini, kegiatan import beras bisa mengancam kesulitan pemasaran produk beras Garut termasuk menjadikan harga jualnya juga penghasilan petani menjadi melorot.

*********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.