Srebrenica, Keadilan yang Akhirnya Tertunaikan!

0
33 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Republika/Daan).

Senin , 27 November 2017, 05:03 WIB

Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Republika/Daan).

Berikut adalah kisah keadilan yang lambat tertunaikan. Keadilan yang dituntut oleh para muslimah Bosnia yang ditinggal mati oleh suami, anak, dan saudara laki-laki mereka.

Para laki-laki Muslim itu —jumlahnya lebih dari delapan ribu orang— meninggal dunia dibantai dengan brutal oleh pasukan Serbia Bosnia pimpinan Jenderal Ratko Mladic. Keadilan itu hadir setelah lebih dari 20 tahun peristiwa pembantaian di Srebrenica itu.

Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag, Belanda, para Rabu (22/11) lalu, menyatakan Mladic bersalah telah melakukan genosida terhadap umat Islam Bosnia di Srebenica pada 1995. Ia juga dinyatakan bertanggung jawab terhadap serangan Kota Sarajevo yang menyebabkan ribuan lainnya meninggal dunia.

Jenderal Mladic pun dihukum penjara seumur hidup atas perbuatannya yang, digambarkan hakim, sebagai salah satu kejahatan paling biadab dalam sejarah umat manusia.

Hukuman ini diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk menghapus air mata para anak yatim dan piatu serta para wanita yang ditinggal mati suami, saudara, maupun anak laki-laki mereka. Juga untuk menutup lembaran sejarah menyedihkan yang ditulis dengan darah umat Islam yang tidak berdosa itu.

Ketika pembantaian itu terjadi, Jenderal Mladic menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Serbia Bosnia. Sebuah jabatan yang saat itu sangat mengerikan bagi para warga Muslim Bosnia.

Bayangkan, dengan jabatannya itu ia bisa leluasa memerintahkan membunuh ribuan orang Islam di Bosnia dan Herzegovina. Bahkan, dalam peristiwa di Srebrenica ini si jagal dalam beberapa hari saja bisa membunuh lebih dari delapan ribu Muslim Bosnia. Mayat mereka kemudian dibuang begitu saja dengan buldoser ke beberapa kuburan massal.

Dari jumlah itu, sebagian besar remaja dan ribuan laki-laki antara 12 hingga 77 tahun. Mereka dikumpulkan di satu lapangan, setelah dipisahkan dengan para perempuan. Setelah pembantaian, para perempuan yang masih muda — diperkirakan berjumlah sekitar 50 ribu orang — menjadi sasaran pemerkosaan massal di tempat terbuka.

Semua tindak kejahatan kemanusiaan tersebut merupakan perintah dari Radovan Karadzic dan Slobodan Milosevic. Sedangkan eksekutornya adalah Ratko Mladic. Yang terakhir ini memimpin pasukan beranggotakan 180 ribu tentara.
Mereka menembaki Srebrenica selama lima malam sebelum memasuki wilayah yang sebenarnya berstatus di bawah penjagaan pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Belum diketahui dengan pasti mengapa pasukan perdamaian PBB ini meninggalkan wilayah yang menjadi perlindungan dari ribuan umat Islam Bosnia ini. Yang pasti, ribuan umat Islam itu kemudian menjadi sasaran empuk senapan mesin pasukan Jenderal Mladic dan menghadapi takdir yang mengerikan ini tanpa perlindungan sama sekali.

Yang menjadi pertanyaan dan belum terjawab hingga kini, mengapa pasukan perdamaian PBB ini saat itu meninggalkan wilayah pembantaian yang seharusnya mereka lindungi? Berikutnya, mengapa pula hingga sekarang ini tidak ada investigasi, dan apalagi tuduhan, terhadap komandan pasukan perdamaian PBB hingga pembantaian ini bisa terjadi?
Bukankah wilayah ini seharusnya aman lantaran berada di bawah perlindungan pasukan PBB? Lalu apa peran pasukan PBB dalam masalah ini?

Sementara itu, Radovan Karadzic, kolega Jenderal Mladic dalam pembantaian Srebrenica, telah menjadi buron sejak 1995 hingga 2008. Pengadilan Pidana (Kriminal) Internasional di Den Haag mendakwanya sebagai penjahat perang dan melakukan genosida.

Ketika ditangkap di Beograd pada Juli 2008, penjahat yang pernah menjadi Presiden Serbia (1992-1996) ini sedang menyamar sebagai pekerja di sebuah klinik pengobatan alternatif dengan menggunakan nama samaran ‘Dragan Dabic’.

Padahal, orang yang punya nama ‘Dragan Dabic’ sebenarnya mengaku tidak kehilangan kartu indentitas. Tentu yang tahu hanya polisi dan pastinya atas perintah Pemerintah Serbia.

Si jagal Karadzic merupakan keturunan Montenegro. Ia awalnya seorang psikiater. Ayahnya tukang sepatu merangkap peternak unggas yang berjuang keras untuk memberi pendidikan yang baik kepada anaknya.

Sayangnya si anak kemudian tumbuh menjadi penjahat perang. Ia beberapa kali mengancam akan menghabisi umat Islam Bosnia. Ketika menjadi anggota parlemen, ia pernah mengatakan, ‘’Orang Islam (Bosnia) harus dihabisi!’’

Dan, ancaman itu benar-benar ia laksanakan ketika ‘trio penjahat’ ini menggalang kekuatan warga Serbia untuk memerangi warga Muslim Bosnia. Trio ini adalah Slobodan Milosevic sebagai Presiden Serbia, Karadzic ketua partai, dan Jenderal Mladic sebagai kepala staf angkatan darat.

Yang patut disayangkan, ketika tentara Serbia memasuki Srebrenica, pasukan penjaga perdamaian PBB dari Belanda justru melarikan diri. Maka, jadilah Srebrenica dari tanggal 11 hingga 19 Juli 1995 bagaikan kuburan massal di tangan Jenderal Mladic dan gengnya.

Anggota geng lainnya, mantan Presiden Serbia Slobodan Milosevic juga telah didakwa Pengadilan Pidana Internasional sebagai penjahat perang dan genosida alias pembersihan etnis. Peran Milosevic sangat penting dalam peristiwa pembantaian Srebrenica. Bisa dikatakan ia justru merupakan arsitek dari pembantaian massal itu.

Di sidang pengadilan, ia tetap berlaku pongah. Ia menyatakan dengan terus terang membenci pengadilan internasional beserta hakim-hakimnya. Bahkan ia menolak didampingi pengacara hingga ia bunuh diri di selnya.

Seorang pengamat persidangan, Edgar Sheen, menyatakan, ‘Milosevic memang telah lolos dari pengadilan, namun ia tidak akan lolos dari peradilan. Ia telah mendapatkan keadilannya ketika bunuh diri di selnya’.

Dengan hukuman penjara seumur hidup bagi pelaku atau eksekutor pembantaian Jenderal Ratko Mladic pekan lalu, diharapkan bisa memberi keadilan buat para korban. Pembantaian Srebrenica jelas akan selalu menjadi tanda hitam dalam sejarah Eropa modern.

Membiarkan para pelaku genosida dan penjahat perang tanpa hukuman akan membuat Eropa dan International Criminal Court atau ICC yang lantang membela hak asasi manusia sebagai ‘tong kosong nyaring bunyinya, omong kosong tidak ada artinya’.

Hukuman terhadap Jenderal Ratko Mladic tentu telah memberi rasa keadilan bagi ribuan korban. Meskipun, keadilan itu sendiri datangnya dirasa sangat terlambat. Citra keadilan yang terlambat, lantaran peristiwa pembantanian terhadap 8.372 Muslim Bosnia berlangsung di era media luar angkasa dan di hadapan pasukan perdamian PBB yang seharusnya melindungi para korban.

Berbagai pihak pun sah saja berkomentar bahwa keadilan itu datangnya terlambat karena para korbannya adalah umat Islam dan para pelakunya adalah orang Eropa.

******

Republika.co.id