Sportivitas

Pongki Pamungkas,
Presiden Direktur PT Serasi Autoraya

Garut News ( Jum’at, 03/01-2014 ).

Ilustrasi, Sosok Penyerang dari Depan. (Foto: John).
Ilustrasi, Sosok Penyerang dari Depan. (Foto: John).

“Di Indonesia ini, enggak ada yang kalah dalam pilkada,” kata kawan saya.

“Maksudnya ?” saya bertanya karena sungguh tidak paham maksud kawan ini.

“Iyalah, yang ada cuma dua kelompok. Yang satu kelompok yang menang. Yang satu lagi kelompok yang ‘mengaku dizalimi’,” kata dia.

Saya tertawa.

Robinho, seorang pemain sepak bola-kini bermain untuk AC Milan dan tim nasional Brasil-pada awal kariernya diperkirakan akan menjadi pemain terbaik dunia.

Namun suatu sikap negatifnya membuat pamornya berkurang.

Ia suka melakukan diving.

Istilah ini merujuk pada kejadian di mana seorang pemain berpura-pura sakit, terjatuh, seakan-akan ia menjadi korban sebuah pelanggaran oleh pemain lawan.

Tindakan diving ini jelas bukan hal yang benar.

Bukan suatu hal yang sportif.

Sportivitas adalah suatu kata yang muncul dari khazanah olahraga.

Sportivitas berkaitan dengan soal playing (permainan) atau game (pertandingan ), atau dolanan dalam bahasa Jawa.

Dalam sportivitas, selalu ada tiga unsur.

Satu, permainan atau pertandingan.

Dua, aturan.

Tiga, hasil akhir, yakni menang-kalah.

Suatu contoh sportivitas yang layak dijunjung tinggi manakala Fauzi Bowo (Foke) langsung menelepon Jokowi pada saat pilkada DKI yang lalu, ketika hasil quick count menunjukkan Jokowi unggul hampir di semua wilayah.

Foke menelepon, mengucapkan selamat atas kemenangan Jokowi.

Contoh lain sportivitas adalah ketika seorang CEO diwawancarai wartawan atas keberhasilannya mengelola perusahaan yang dipimpinnya, dan sang CEO menjawab, ” Saya hanya berdiri di atas pundak raksasa.”

Suatu jawaban rendah hati dan jujur mengakui segala fakta bahwa ia memimpin suatu perusahaan yang sejak semula, secara fundamental, bisnisnya memang sangat baik.

Sportif.

Ini adalah suatu kata yang memiliki padanan kata serupa dengan jujur. Sementara kata “jujur” lebih bersifat umum, “sportif” berangkat dari wilayah olahraga.

Sportif atau jujur merupakan salah satu ciri karakter yang mulia.

Sportif atau jujur adalah salah satu karakter dambaan bangsa ini, sebagaimana sejak zaman kemerdekaan telah dikumandangkan oleh proklamator bangsa ini, Bung Karno, sebagai suatu arah pembangunan, yakni national character building (pembangunan karakter bangsa).

Kejujuran-dalam konteks ini-adalah fondasi utama atmosfer saling percaya.

Sedangkan, “Kekuasaan adalah limpahan kepercayaan, dan kita bertanggung jawab memeliharanya,” kata Benjamin Disraeli.

Bahwa dalam keseharian, yang terjadi masih jauh panggang dari api, itu adalah suatu tantangan besar bagi kita semua.

Yang sebaiknya harus kita lakukan adalah selalu saling mengingatkan bahwa sportivitas atau kejujuran adalah hal yang membawa nikmat, membuat hidup akan lebih nyaman.

Dikatakan oleh Hugh Prather, seorang penulis lagu country terkemuka, “Hampir dalam segala kesulitan, semuanya akan terselesaikan dengan kejujuran. Manakala saya jujur, saya tidak pernah merasa diri bodoh. Manakala saya jujur, otomatis saya akan rendah hati.” *

***** Kolom/artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment