Sosok Antitesis SBY

by

Mohamad Fauzi Sukri,

Garut News ( Kamis, 30/01 – 2014 ).

Ilustrasi. Musik Keroncong, Gemulai, dan Mendayu-dayu. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Musik Keroncong, Gemulai, dan Mendayu-dayu. (Foto: John Doddy Hidayat).
Hari-hari ini kita semakin sering mendengar pembicaraan-pembicaraan perihal suksesi kepemimpinan nasional, khususnya untuk Presiden Republik Indonesia 2014-2019.

Dan semua pembicaraan ini mengarah pada satu tema besar: mencari sosok antitesis SBY.

Dalam pencarian sosok antitesis SBY ini, setidaknya terindikasikan dua hal.

Pertama, di mata publik dan media massa, gaya kepemimpinan SBY selama ini dianggap kurang cocok dengan permasalahan yang dihadapi Indonesia.

Di sini SBY bukan tidak berhasil, bahkan kita tahu SBY terpilih dua kali berturut-turut.

Tapi, pada masa kepemimpinan SBY yang kedua, kepada publik seakan diperlihatkan sosok SBY yang jauh dari harapan publik dalam menanggapi dan menyelesaikan permasalahan nasional.

Beberapa kasus besar, seperti pertikaian KPK dengan DPR atau kasus Bank Century dan sebagainya, kurang ditanggapi dengan cepat dan tegas, yang memberi kesan SBY kurang berkuasa sebagai figur presiden.

Berkali-kali SBY dianggap kurang tanggap, kurang cepat, kurang responsif, kurang tegas, dan cenderung dianggap melankolis-perasa.

Dan, tentu saja, hal ini diperparah dengan prahara dalam Partai Demokrat.

Kedua, kemunculan beberapa sosok dan gaya kepemimpinan daerah yang mengesankan dalam pemberitaan media massa nasional.

Dalam pemunculan ini, gaya tersebut seakan berkebalikan dengan gaya kepemimpinan SBY.

Kita melihat politik not as usual, gaya kepemimpinan yang tak biasa, mendobrak, terkesan revolusioner, dekat dengan kehidupan rakyat: hal yang sebenarnya sudah seharusnya dilakukan sosok pemimpin politik.

Tentu saja kemunculan ini tidak hanya berdampak pada merosotnya popularitas SBY, tapi juga sedikit-banyak memudarkan tokoh-tokoh nasional yang selama ini ingin menjadi sosok antitesis SBY.

Saat ini, jika ada pemilihan sosok antitesis SBY yang dari tokoh nasional, apalagi yang sudah pernah memimpin Indonesia, rakyat kurang begitu greget untuk menjadikannya pilihan utama.

Mereka kurang memberikan harapan besar untuk melakukan terobosan-terobosan yang baru seperti yang biasa dilakukan oleh tokoh daerah yang berhasil.

Secara umum, psikologi sosial masyarakat seakan sudah terbentuk: lebih baik memilih tokoh daerah atau tokoh muda baru daripada memilih tokoh lama.

Jadi, bisa dibilang tokoh-tokoh lama akan sangat sulit untuk menjadi sosok antitesis SBY.

Di sini sebenarnya pokok masalahnya adalah pada gaya kepemimpinan, bukan pada keberhasilan besar.

Beberapa tokoh daerah yang masuk dalam radius tokoh nasional sebenarnya juga melakukan politik as usual, cuma mereka memiliki gaya kepemimpinan yang dianggap memenuhi keinginan publik, plus keberhasilan-keberhasilan yang kecil tapi penting dan menyentuh kepentingan publik banyak.

Bisa dibilang, bagi sosok antitesis SBY, tidak ada tema dan ide besar untuk kepemimpinan yang akan datang.

Publik hanya ingin melihat aksi-aksi besar para pemimpin mereka.

Ini bukan zaman ideologi besar dengan cita-cita besar.

Kita menyaksikan bahwa, dalam beberapa kali pemilihan pemimpin daerah atau gubernur, beberapa tokoh akademisi kalah oleh tokoh biasa tapi menawarkan kepemimpinan yang baru.

Maka, tawaran gaya kepemimpinan menjadi kunci dalam pemilihan sosok antitesis SBY.

***** Kolom/artikel Tempo.co