You are here
Solomon, Sang Pemain Biola ARTIKEL 

Solomon, Sang Pemain Biola

Jakarta , Garut News ( Selasa, 10/12 ).

Ist.
Ist.

Seorang pemain biola ditipu, diculik, disiksa lalu dijadikan budak.

Kisah nyata Solomon Northup  pertengahan abad 19.

Diputar di Jakarta International Film Festival yang berlangsung hingga akhir pekan.

   ***

Pada  tahun 1841, Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor),  seorang pemain biola Afro-Amerika adalah lelaki bebas yang bahagia, beristeri cantik dengan tiga anak yang hidup nyaman di utara Amerika.

Itulah sebuah masa ketika Selatan Amerika masih menganggap warga kulit hitam tidak setara dengan manusia.

Siang itu, Northup diundang makan siang mewah ke New York oleh sepasang lelaki yang menawarkan pekerjaan yang honornya sukar ditampik dengan berbagai fasilitas yang menggiurkan.

Tak menyadari  gelasnya berisi anggur bercampur ramuan obat bius, Northup terbangun di dalam kegelapan dengan tangan dan kaki yang dirantai.

“Namamu kini adalah Platt Hamilton,” kata penjual budak nun di ujung Selatan yang langsung menggampar karena dia berani-beraninya protes dan memperkenalkan dirinya sebagai “orang yang bebas”.

Northup harus melalui deraan cambuk bertubi-tubi hingga  potongan daging punggungnya melekat tebal di sekujur  untaian cambuk rotan itu agar dia akhirnya bermetamorfosa sebagai Platt, seorang dari Selatan yang buta huruf ,

Sejak itulah hidup sang pemain biola jungkir balik.

Dibeli oleh seorang tuan dari keluarga Ford (Benedict Cumberbatch) yang berhati lembut dan mencoba memperlakukan para budak-budaknya lunak.

Tetapi dia adalah pemilik, bukan para tuan di perkebunan yang gemar menyiksa.

Tetapi saja Northurp alias Platt tetap saja melalui berbagai siksaan.

Pada satu saat dia digantung dengan tali, tetap ujung jari-jari kakinya masih bisa menggapai tanah agar dia bisa bertahan untuk tidak tewas.

Posisi tersebut berlangsung– tanpa musik, tanpa suara sedesirpun– beberapa menit lamanya tetapi terasa berjam-jam hingga akhirnya Pak Ford tergesa-gesar datang berkuda menyelamatkannya.

Karena Northurp terlalu pemberontak, Ford terpaksa menjualnya kepada seorang pemilik perkebunan kapas paling kejam di seantero negara bagian Selatan: Epps (Michael Fassbender).

Seorang pemabuk yang gemar mengutip dan membolak balikkan ayat Injil untuk pembenaran perilakunya, Epps adalah jelmaan kejahatan dan kekejian yang tak terbayangkan.

Bukan saja  suara dan wajahnya yang tenang dan menekan setiap kali dia akan memperkosa atau menyiksa para budak, tetapi justifikasinya yang berpretensi bahwa apa yang dilakukannya adalah karena dia manusia, dan para budak bukan manusia membuat film ini adalah sebuah tontonan yang sangat sulit untuk disaksikan tanpa rasa marah.

Steve McQueen (sebelumnya dikenal sebagai sutradara film Hunger dan Shame) tentu saja menggarap film ini dengan penuh kesadaran bahwa dia sama sekali tak akan memberikan ruang untuk bernafas atau bahkan jeda bagi penonton untuk menikmati satu dua adegan yang menyenangkan.

Sejak awal hingga akhir, film ini terdiri dari cambuk demi cambuk, darah yang bercucuran dan kesunyian yang berisi ketegangan dan nyanyian pemetik bunga kapas yang terdiri dari puisi kematian.

Seorang Northup bukan saja harus mengubah dirinya dari seorang yang bebas  dan berpendidikan yang mendadak menjadi budak buta huruf; dia juga belajar betapa untuk bertahan hidup saja, dia harus berpolitik dan membuat manuver; mempelajari siapa kawan dan siapa lawan.

Dan di antara mereka yang terlihat ‘kawan’, ternyata menjadi lawan, bukan hanya karena warna kulit tapi karena ruang untuk mereka yang bisa bertahan hidup kian sempit dan sesak.

“Saya tak ingin sekedar bertahan, saya ingin hidup!” demikian ia menyentak kawannya yang meyakinkan agar Northup bersikap lebih pasrah.

Steve McQueen menjadi sutradara dengan sidik jari yang jelas.

Pemenang penghargaan Camera D’Or Festival Film Cannes ini selalu menggunakan aktor Michael Fassbender dalam ketiga filmnya dan dia sama sekali tak memberikan ruang untuk bernafas.

Repetisi adegan demi adegan (apakah itu kecanduan seks dalam Shame atau cambukan dalam film ini) dilakukan karena tujuannya ingin membuat penonton mengalami teror mental seperti para tokoh-tokohnya.

Northurp yang akhirnya bebas karena  bantuan seorang warga Kanada ini kemudian menulis pengalamannya yang dibukukan dan diangkat menjadi film 12 Years a Slave.

Sebuah sejarah pengkhianatan kemanusiaan yang mudah membuat seseorang tenggelam dalam kelam dan rasa putus asa.

Leila S.Chudori

12 YEARS A SLAVE

Sutradara         :  Steve McQueen

Skenario          : John Ridley

Berdasarkan memoar Solomon Northup.

Pemain             :  Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Lupita Nyong’o, Sarah Paulson, Benedict Cumberbatch, Brad Pitt.

***** Tempo.co

Related posts

Leave a Comment