Soeharto Berkuasa Terlalu Lama, Tetapi Jatuh Terlalu Cepat ! “

Penjara Cipinang, 21 Mei 1998 pukul 08.30 pagi …

Garut News ( Ahad, 20/04 – 2014 ).

Ilustrasi : Petrus Haryanto berkata : “ Jika transisi demokrasi ini gagal, generasi kita akan berubah menjadi generasi korup yang baru.” (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi : Petrus Haryanto berkata : “ Jika transisi demokrasi ini gagal, generasi kita akan berubah menjadi generasi korup yang baru.” (Foto : John Doddy Hidayat).

Pagi itu kami mengelilingi radio.

Telinga kami saat itu diarahkan pada radio menyiarkan tak lama lagi ada siaran langsung dari Istana Merdeka.

Berita tersebut mengundang rasa ingin tahu.

Dengan kejadian-kejadian terakhir, kepala kami dipenuhi tanda tanya besar.

Yang kami harapkan saat itu, pidato pengunduran diri sang diktator.

Namun bisa saja terjadi sebaliknya, Soeharto menyatakan darurat militer nasional.

Tak lama kemudian Soeharto berbicara dengan sangat lambat.

Sang diktator pun menyatakan pengunduran dirinya.

Hal itu membuat kami bersorak-sorak keras.

Suasana ruangan itu menjadi gegap gempita.

Setiap orang bersukacita, bersalaman, dan berangkulan.

Tak sampai setengah jam kemudian, beberapa tapol mendatangi pintu sel kami yang terbuka.

Di antaranya Nuku Suleiman datang menyalami kami sambil menteskan air matanya.

Kemudian, sipir penjara dan Kepala LP datang memberikan kami ucapan selamat.

Siang itu kami mengumpulkan semua tapol, dan narapidana umum ada di blok kami berpesta.

Beberapa ekor bebek peliharaan Kolonel Latief disembelih dan dimasak.

Di antara semua tapol, dialah saat itu paling emosional.

Meski kakinya cacat, Kol. Latief berjalan cepat sambil menyeret kakinya menemui kami.

“ Harto mudhun, Harto mudhun. Mimpiku kelaksanan ndhelok Harto mudhun, “ begitu serunya sambil tertawa tentang “ sahabat” masa mudanya sejak 1945.

Kami lalu bagi-bagikan daging-daging bebeknya pada para tahanan lainnya.

Suasananya seperti Hari Raya Idul Adha.

Pesta itu berlanjut hingga sore harinya.

Malam harinya suasana lebih hening.

Euforia pada siang hari mengendap.

Kami jauh lebih jernih refleksi setelah segala asap, dan debu kebahagiaan itu mengendap.

Saat kami membahas skenario mungkin terjadi ke depan, tiba-tiba Petrus Haryanto berkata : “ Jika transisi demokrasi ini gagal, generasi kita berubah menjadi generasi korup baru.”

Kami pun mendadak terdiam seribu bahasa.

Beberapa tahun kemudian kekhawatiran tersebut menjadi kenyataan.

Namun apa pun itu, sementara kami nikmati dulu suasana hari pertama Indonesia tanpa Soeharto di atas tengkuk kami, pertama kalinya di sepanjang usia kami….

The old king has gone, long live the people !

Malam itu aku membayangkan wajah ibuku sambil merenungkan, mungkin inilah jawaban atas doanya dalam tangis,

“ Ya Allah, tunjukkan keadilanMu..”

——————————

Dicuplik dari buku :

Anak-Anak Revolusi.
Buku ke-2.
Budiman Sudjatmiko.
ISBN 978-602-03-0277-5 ; xi & 575 hlm.
Rp.125.000,- ; Penerbit Gramedia Pustaka Utama.at.

Related posts

Leave a Comment