Soal Banjir Jabodetabek, Tipe Pendukung Seperti Apakah Anda?

0
9 views
Nidia Zuraya. (Foto: Republika/Kurnia Fakhrini).

Jum’at 03 Jan 2020 10:25 WIB
Red: Joko Sadewo

Ilustrasi. Genangan Air Comberan di Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

“Kegaduhan pendukung dan lawan tak bikin korban banjir kenyang dan tidur nyenyak”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nidia Zuraya*

Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta sudah berlalu, namun hingga hari ini adu argumen antara pendukung kedua kontestan Pilgub DKI Jakarta 2017 masih menghiasi wajah media sosial di Tanah Air. Seperti pada masa kampanye lalu, adu argumen tidak hanya melibatkan mereka yang ber-KTP DKI Jakarta dan memiliki hak pilih, tetapi juga mereka yang tidak tercatat sebagai warga DKI Jakarta.

Seperti saat musibah banjir melanda sejumlah tempat di wilayah Jabodetabek pada hari pertama di tahun 2020. Seakan mendapatkan momen yang tepat, para pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok langsung melontarkan berbagai kritikan kepada satu sasaran tembak yang sama yakni lawan Ahok di Pilgub DKI Jakarta 2017, Anies Baswedan.

Tentu saja kritikan kepada Anies tersebut langsung mendapat tanggapan dari para pendukungnya. Seperti yang sudah-sudah, para pendukung Anies membalas krtikan tersebut dengan membanding-bandingkan penangangan banjir saat Ahok masih memimpin ibukota negara Indonesia ini.

Bahkan, mereka juga mengutip perkataan Joko Widodo (Jokowi) saat maju dalam Pemilihan Presiden tahun 2014 silam. Saat itu Jokowi mengatakan, permasalahan kemacetan dan banjir di Jakarta akan mudah teratasi jika dia menjadi presiden.

Kegaduhan soal banjir di wilayah DKI Jakarta dan daerah-daerah penyangganya makin menjadi-jadi tatkala seorang menteri ikut-ikutan berargumen soal siapa yang patut disalahkan terkait musibah banjir di awal tahun ini.

Sebagai warga negara Indonesia, saya pribadi amat menyayangkan ucapan yang keluar dari mulut pak menteri. Mirisnya, ucapan tersebut keluar di saat banyak warga yang terjebak di dalam rumahnya akibat banjir dan petugas search and rescue (SAR) beserta relawan berupaya menerjang derasnya arus air banjir guna mengevakuasi mereka yang terjebak di dalam rumah.

Setali tiga uang dengan pak menteri, seorang staf khusus (stafsus) di kementerian yang mengurusi persoalan infrastruktur bahkan menyalahkan warga yang terjebak di dalam rumahnya akibat banjir mengapa tidak segera mengungsi.

Duh, pak stafsus paling gampang emang menyalahkan orang lain. Coba kalau Anda ada di posisi warga yang rumahnya terendam banjir, apakah sempat buat pergi mengungsi ke luar rumah ketika terbangun jam tiga dinihari tau-tau air sudah memenuhi ruang tamu dan arusnya deras banget.

Yang terpikirkan saat itu pastinya hanya menyelamatkan diri ke lantai dua rumah. Itupun kalau rumahnya berlantai dua. Bagaimana dengan yang rumahnya hanya satu lantai.

Apakah para korban banjir membutuhkan arugmen-argumen tersebut? pastinya nggak malih. Berbagai argumen tersebut nggak bisa membuat perut para korban banjir kenyang serta membuat para bayi dan anak-anak tidur nyenyak di pengungsian.

Namun, di antara nada-nada sumbang yang hanya bisa menyalahkan si A, si B atau si C, saya melihat masih ada pendukung Ahok maupun Anies yang berpikiran jernih dalam melihat bencana banjir di wilayah Jabodetabek kali ini. Paling tidak pikirannya tidak sebutek air banjir yang merendam rumah warga.

Sejak dulu hingga hari ini wilayah Jakarta masih dikepung banjir. Anies pantas dikritik. Begitu juga para pemimpin Jakarta sebelumnya.

Buat para korban banjir: yang sabar ya masbro dan mbaksis..

Untuk para kepala daerah penyangga DKI Jakarta yang warga di daerahnya juga menjadi korban banjir, meski nama-nama Anda tidak menjadi sasaran tembak netizen seperti Anies, jangan abai lah terhadap warganya.

Apakah mereka yang menjadi korban banjir memilih Anda atau tidak saat Pilkada yang lalu, mereka tetaplah warga di daerah kekuasaan Anda. Sudah sepatutnya mereka menjadi tanggungjawab Anda sebagai pemimpin daerah.

Kepada warga Jabodetabek yang rumahnya kemarin aman-aman saja, tidak terendam banjir, Anda juga bisa berkontribusi dalam mengurangi volume air banjir. Caranya? Mulai kuy dengan membuat area-area resapan air di sekitar rumah. Meskipun ukurannya kecil, itu bisa menunda air hujan langsung masuk selokan atau sungai.

Menurut para pakar lingkungan, salah satu faktor penyebab air sungai meluber dan membanjiri pemukiman itu karena area tangkapan air di hulu atau sekitar sungai sudah rusak berat karena alih fungsi lahan.

Terakhir, khusus buat masbro Anies dan pak menteri, cukuplah kalian mendebatkan soal perbedaan kebijakan antara daerah dan pusat di ruang rapat.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here