Skenario Snouck, Van Vollenhoven: Ketika Islam Diperhadapkan

0
9 views
Snouck Hurgronje paling kiri. (Foto: Pinterest.com).

Kamis 02 August 2018 18:47 WIB
Red: Muhammad Subarkah

“Pembedaan itu akan menemui masalah dalam hubungan antara etnis yang ada”

Islam itu nama yang diberikan Tuhan guna menandai sebuah agama…

Oleh: Ady Amar, Pemerhati Sosial Keagamaan

Snouck Hurgronje paling kiri. (Foto:
Pinterest.com).

Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin). Karenanya, Islam tidak dibatasi oleh batas geografi, oleh bangsa dan etnis tertentu. Islam tidak dapat dimonopoli oleh kelompok tertentu.

Sekalipun Islam lahir di Makkah, di bumi Arab, tidak boleh bangsa atau etnis Arab memonopolinya, menyebut dengan Islam Arab. Klaim atas Islam pada kelompok tertentu gugur dengan sendirinya.

Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan tidak untuk kelompok tertentu, dan tidak boleh dibelokkan sebagai penanda entitas kelompok tertentu.

Islam itu nama yang diberikan Tuhan guna menandai sebuah agama, yang karenanya tidak pantas dikoreksi dengan pengurangan dan atau penambahan pada kata “Islam”, baik pada namanya maupun pada ajarannya.

Adakah kesempurnaan melebihi kesempurnaan pemberian-Nya. Jika ada, dan merasa mampu seolah mengalahkan kesempurnaan-Nya, maka kita seolah merasa mampu mengalahkan Tuhan.

Karenanya, konsep Pencipta (Al-Khaliq) yang dimiliki-Nya tereduksi oleh makhluk yang seolah berperan layaknya melebihi-Nya. Ini bentuk kesyirikan yang dibangun secara sistemik. Suka atau tidak, inilah bentuk perlawanan pada Tuhan secara kasat mata.

Islam sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad, sejak mula tidak pernah namanya diembel-embeli dengan tambahan nama lain. Tidak pernah sekalipun para Sahabat Nabi yang telah menaklukkan bangsa Timur sampai Barat dan menegakkan peradaban Islam di sana, lalu karena kebanggaannya mengklaim sebagai Islam Arab.

Mereka tetap menyebut Islam tanpa dilabeli. Mereka paham betul, justru jika mereka menambahkan label tertentu itu malah tidak akan mempersatukan penduduk negeri lain dalam keluarga besar Islam. Mereka mengajarkan Islam tidak dalam ukuran dan batas geografis, dan karenanya menjadi eksklusif.

Muaranya akan sampai pada sifat digdaya, merasa paling baik dibanding Islam di luar geografisnya. Tidak mustahil, jika itu dilakukan, maka Islam akan menjadi sekte-sekte sempit dan tidak universal.

Penisbatan Islam pada geografi, pada suatu tempat tertentu, tidak lain dan tidak bukan mengacu pada adat yang berkembang, yang ingin “dikawinkan” dengan Islam. Konon, agar Islam menjadi lebih baik, lebih santun, ramah, bisa menghormati perbedaan antarpemeluk agama lainnya.

Apakah Islam agama yang diturunkan Tuhan itu tidak sempurna, sehingga adat perlu diserap dijadikan bagian keberagamaan?

Islam itu paripurna, dan keparipurnaannya dijamin Penciptanya: “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (Q.S. al-Ma’idah: 3).

Karenanya, keramahan, kesantunan, penghormatan pada perbedaan agama/keyakinan, dan lainnya… semuanya diatur oleh sumber hukumnya, Alqur’an dan as-Sunnah.

Skenario Snouck Hurgronje dan Van Vollenhoven

Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah satu dari tiga penggali adat di Indonesia. Dua lainnya adalah George Alexander Wilken (1847-1891), seorang Pamongpraja dan Etnolog Belanda, dan Frederik Albert Liefrinck (1853-1927), seorang Pamongpraja Belanda yang menggeluti hukum adat.

Dari penggalian mereka inilah kemudian dikumpulkan oleh Van Vollenhoven (1874-1933), lalu dijadikan satu kodifikasi bernama “Hukum Adat” (Van Vollenhoven on Indonesian Adat Law).

Van Vollenhoven secara sengaja mengabaikan dimensi keislaman dari hukum adat itu, seolah hukum adat itu mendadak muncul dalam ruang hampa. Inilah kritik paling fundamental pada skenario Van Vollenhoven itu.

Pengakuan Van Vollenhoven terhadap eksistensi Hukum Adat itu juga mengabaikan pengaruh mendalam ajaran Islam terhadap prinsip-prinsip atau pondasi Hukum Adat. Seperti, di Ranah Minang ada pepatah berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah; Syarak Mangato Adat Mamakai.”

Pepatah Ranah Minang itu sudah hidup jauh sebelum kehadiran kolonialisme Belanda di Sumatera Barat, yakni sejak abad ke-14. Sama juga dengan di Aceh, Ambon, Banjar, Bugis, Sasak dan ranah lainnya.

Bisa dikatakan pondasi dari adat yang tersebar di seluruh Nusantara bersendi pada ajaran Islam.

Ironisnya, para akademisi dari sejumlah kampus belakangan justru kurang kritis pada strategi Snouck dan skenario Van Vollenhoven itu, ketika berhadapan dengan isu radikalisme dan terorisme.

Terjebak dalam sikap rasis melalui pembedaan terhadap Islam Arab yang seolah keras serta stigma negatif lainnya, tanpa melihat latar belakang kenapa “keras” itu muncul di Semenanjung Arab.

Pembedaan itu akan menemui masalah dalam hubungan antara etnis yang ada. Sebab etnis Minang, Aceh, Banjar, Bugis, Sasak dan lainnya, justru bisa jadi melihatnya sekadar rekayasa dominatif budaya Jawa atas ekspresi keislaman di Nusantara.

Maka, penolakan MUI Sumatera Barat tidaklah aneh, dan semestinya itu dimaknai bahwa pelabelan Islam atas nama tertentu justru akan menciptakan penafsiran yang berbeda.

Dan jika pemaksaan diteruskan, maka tidak mustahil akan terjadi, setidaknya, polarisasi pemikiran dan lepasnya kohesi sosial yang berkepanjangan, khususnya di kalangan umat Islam. Dan itu berbahaya!

******

Republika.co.id