Situs Tradisi “Megalitik” Garut Mendesak Pembenahan/Penataan

0
71 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 27/04 – 2016 ).

Hanya Ditandai Plang Sangat Sederhana.
Hanya Ditandai Plang Sangat Sederhana.

Kondisi peninggalan tradisi “megalitik” di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kini kian mendesak dilakukan ragam pembenahan serta penataan pada lingkungan sekitarnya.

Lantaran pelbagai artefak atawa benda arkeologi peningalan peradaban sejarah bangsa tersebut, sebagian besar masih utuh bersemayam pada Situs Pasir Lulumpang Desa Cimareme di Kecamatan Banyuresmi.

Ruas Jalan Masuk Komplek Situs Menyempit Terdesak Perumahan Penduduk.
Ruas Jalan Masuk Komplek Situs Menyempit Terdesak Perumahan Penduduk.

Tenaga Kerja Kontrak pada “Balai Pelestarian Cagar Budaya” (BPCB) Provinsi Banten yang bertugas di situs ini, Suhada(30) katakan, seluruh kawasan situs seluas sekitar 2.458 m2 namun masih diperlukan upaya pembebasan tanah sekitar 2.800 m2 guna memerluas kawasan sekaligus memerluas jangkauan pandangan.

Selain itu pula, diperlukan pembangunan gafura pintu masuk dari lintasan Jalan Desa Cimareme, serta pos pengamanan dekat lokasi komplek situs, imbuhnya Sabtu lalu.

Kemudian semakin mendesak pembangunan keermer seputar perbukitan situs, sepanjang 200 meter lebih berketinggian tujuh meter, dimaksudkan melindungi kawasan situs dari ancaman longsoran.

Sarana Menuju Komplek Situs Semakin Memprihatinkan.
Sarana Menuju Komplek Situs Semakin Memprihatinkan.

Dikemukakan, selain Situs Pasir Lulumpang, terdapat pula potensi Rawa Ranca Gabus seluas delapan hektar lebih, dan Makam Pahlawan KH. Hasan Arif, ungkap Suhada yang berstatus TKK sejak 2009 kini dikarunia satu anak kandung laki-laki.

Namun bukit ini dinilai sejumlah ahli kepurbakalaan merupakan peninggalan tradisi“megalitik” juga merupakan bangunan megalitik punden berundak dilengkapi lulumpang maupun lumpang-lumpang batu.

Sedangkan situs yang terhampar bisu pada sebuah perbukitan, bahasa Sundanya dikenal dengan sebutan pasir itu, dikepung di antara beberapa bukit sekitar dataran bekas daerah rawa.

Mendesak Dilakukan Penataan.
Mendesak Dilakukan Penataan.

Disebut punden berundak, sebab bentuknya berundak-undak. Serta lulumpang atau lumpang merupakan wadah terbuat dari kayu maupun batu untuk menumbuk padi, biji-bijian atawa bahan olahan lain, dengan alat penumbuk terbuat dari kayu disebut halu atau alu.

Keberadaan lumpang batu pun dinilai kalangan ahli kepurbakalaan, ada sejak zaman prasejarah. Memiliki nilai penting dari aspek kesejarahan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Sehingga situs tersebut juga sangat laik dikembangkan menjadi objek wisata budaya unggulan berdaya tarik terutama bagi kalangan pelajar, atau mahasiswa berminat di bidang sejarah, dan purbakala.

Pundan Berundak.
Pundan Berundak.

“Ya, sekalipun ini kewenangan Pemprov atau Balai Arkeologi, tetapi Pemkab Garut juga tak bisa hanya berpangku tangan. Tetap mestinya Pemkab lebih bisa ‘ngamumule’ serta selalu koordinasi, termasuk penataan dan pengembangannya. Mana yang bisa ditangani Garut, dan mana memang hanya bisa ditangani Pemprov. Sebab selain lokasinya ada di Garut, yang menerima manfaat, multiplayer efeknya juga masyarakat Garut,” imbuh pegiat Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata Kabupaten Garut Irno Sukarno, Sabtu.

Keberadaan lumpang batu pada punden berundak itu.

Suhada Membersihan Artefak Peninggalan Tradisi "Megaltik".
Suhada Membersihan Artefak Peninggalan Tradisi “Megaltik”.

Juga menjadikan Situs Pasir Lulumpang terbilang unik dibandingkan situs punden berundak lainnya yang biasanya dilengkapi menhir atau batu tegak diduga untuk pemujaan.

Karena itu keberadaan lumpang tersebut diduga merupakan pengganti menhir sebagai artefak simbolik berkaitan ritual religi megalitik masyarakat di sana erat dengan budaya pertanian.

Di Situs Pasir Lulumpang terdapat dua punden berundak dengan 13 teras bersusunkan batu-batu membentuk trap. Di sana juga terdapat satu buah lumpang batu ukuran besar di teras paling atas, dan dua buah lumpang batu berukuran kecil di bagian bawahnya.

Makam Pahlawan Dibawah Pohon Beringin.
Makam Pahlawan KH Hasan Arif Dibawah Pohon Beringin.
Penduduk Kerap Memancing di Rawa Ranca Gabus Seluas Delapan Hektare yang Hingga Kini Terlantar.
Penduduk Kerap Memancing di Rawa Ranca Gabus Seluas Delapan Hektare yang Hingga Kini Terlantar.

Tetapi beda dengan lumpang biasa, lumpang batu di Situs Pasir Lulumpang lebih menyerupai meja batu pemujaan atau dolmen dengan di bagian tengahnya terdapat cekungan cukup dalam.

Serta termasuk salah satu lumpang batu tampak terbenam atau tertutupi tanah. Sehingga jika dilihat sekilas, orang takkan menyangka jika batu tersebut merupakan lumpang batu, yang tak ternilai harganya itu.

 

*******

( nz, jdh ).