Situs Bersejarah Garut Dikepung Puluhan Ribu Kubik Lumpur

0
52 views

“Situ Cangkuang Kian Terancam Menjadi Hamparan Rawa”

Esay/ Foto :  John Doddy Hidayat.

Garut News ( Rabu, 19/08 – 2015 ).

Kampung Pulo Semakin Dikepung Endapan Lumpur serta Ragam Tanaman Liar.
Kampung Pulo Semakin Dikepung Endapan Lumpur serta Ragam Tanaman Liar.

Situs sangat bersejarah di Kabupaten Garut, berupa Kampung Pulo. Lokasi bersemayamnya makam penyebar Agama Islam, Arief Muhammad serta terdapatnya Candi Hindu satu-satunya di Provinsi Jawa Barat.

Kini kondisi bentangan gugusan pulau selama ini terbaring bisu di tengah situ atawa Danau Cangkuang tersebut, semakin dikepung puluhan ribu kubik endapan lumpur, lantaran kian parahnya proses pendangkalan.

Kondisi Perairan Cangkuang Kian Nyaris Hanya Menyerupai Genangan.
Kondisi Perairan Cangkuang Kian Nyaris Hanya Menyerupai Genangan.

Fenomena miris bahkan sangat memilukan di wilayah Kecamatan Leles itu, berada pada kawasan tanah seluas 24 ribu m2 milik Provinsi Jawa Barat ini, semula areal perairannya mencapai seluas 40 hektar lebih.

“Tetapi sekarang areal perairannya terus-menerus melorot, hingga hanya menyisakan kurang dari sepuluh hektare,” ungkap A. Rofi(38), akrab disapa Cepi kepada Garut News, Selasa (18/08-2015).

aa4Padahal kata dia, selama ini menjadi tumpuan pasokan pengairan jaringan irigasi persawahan, serta usaha perikanan darat masyarakat setempat.

Kondisi perairannya sangat memprihatinkan, sebab semakin dikepung timbunan sedikitnya 410 ribu kubik endapan lumpur.

Mengakibatkan intensitas pendangkalannya juga menjadi sangat parah, berdampak kedalaman sumber daya air itu, menjadi berkisar 0,5 meter hingga kurang meter.

Padahal idealnya minimal memiliki kedalaman berkisar satu meter hingga dua meter.

Situ Cangkuang Berkondisi Kian Merana.
Situ Cangkuang Berkondisi Kian Merana.

Sehingga obyek wisata potensial ini, kian terancam menjadi areal pertanian pangan, sebab selain terjadi pendangkalan endapan timbunan lumpur, juga sarat ditumbuhi ragam tanaman liar.

Di antaranya eceng gondok, malahan kian menyebar tanaman liar jenis rumput walini.

Cepi pun, mengeluhkan usaha budi daya perikanan air tawarnya menjadi terlantar.

Menjadi Hamparan Rawa.
Menjadi Hamparan Rawa.

“Akibat seretnya pasokan air lantaran parahnya proses pendangkalan,” katanya.

Lelaki Pengurus Padepokan Satria Sunda Sakti tersebut, selama ini bermukim di Kampung Solokan Raden Desa Cangkuang, Leles.

Dia masih sangat mengharapkan pasokan bantuan pengembangan budidaya ikan air tawar dari Pemkab setempat. 

Keringkan Jaringan Irigasi Teknis.
Keringkan Jaringan Irigasi Teknis.

Juga sangat mengharapkan Pemkab, segera melakukan pengerukan endapan lumpur itu, termasuk adanya bantuan stimulan pengembangan ekonomi produktif bernuansakan wisata bahari, imbuh Cepi.

Dia katakan apabila terus-menerus dibiarkan, dipastikan Situ Cangkuang hanya bisa menyisakan “legenda”, menyusul seluruh perairannya bakal rata dengan tanah.

Sarana Permanen Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar, Terpaksa Ditanami Padi, Lantaran Sangat Berkurangnya Pasokan Air Akibat Pendangkalan.
Sarana Permanen Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar, Terpaksa Ditanami Padi, Lantaran Sangat Berkurangnya Pasokan Air Akibat Pendangkalan.

Telisik investigasi Garut News, juga antara lain menunjukkan upaya pengerukan atawa rehabilitasi sumber daya air dan wisata ini, bisa menelan dana berkisar Rp15 miliar hingga Rp20 miliar.

Menyusul sedikitnya 410 ribu kubik endapan lumpurnya, menyebar pada bagian selatan sekitar 250 ribu kubik, serta di bagian utara sekitar 160 ribu kubik endapan lumpur.

*******