Sistem Rudal Buk Dicurigai Menembak Pesawat #MH17

Garut News ( Jum’at, 18/07 – 2014 ).

Sistem rudal Buk dibawa kendaraan khusus. Setiap sistem membawa empat unit rudal.(WIKIPEDIA).
Sistem rudal Buk dibawa kendaraan khusus. Setiap sistem membawa empat unit rudal.(WIKIPEDIA).

— Sistem rudak Buk dicurigai digunakan menembak jatuh pesawat Malaysia Airlines MH17 melayang di ketinggian 33.000 kaki atawa lebih dari 10 kilometer dianalisis beberapa pakar persenjataan dunia.

Penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina Anton Gerashchenko meyakini, teroris mengoperasikan sistem rudal Buk untuk menjatuhkan MH17.

Hal ini mengingat daya jangkaunya sehingga bisa mencapai pesawat pada ketinggian tersebut.

Para pengamat persenjataan militer mengesampingkan kemungkinan pesawat ditembak peluncur rudal bahu terkadang digunakan kelompok pemberontak, dan separatis.

Menurut para ahli, jangkauan peluncur roket panggul sejenis RPG tak memungkinkan menjangkau MH17.

Daya jangkau maksimal peluncur bahu hanya sekitar 1,5 kilometer.

“Ketinggian jelajah normal pesawat penumpang sipil di luar daya jangkau sistem pertahanan udara portabel, yang kita lihat dikembangkan pada tangan pemberontak di timur Ukraina,” kata Nick de Larrinaga dari IHS Jane’s Defence Weekly kepada CNN, Jum’at (18/07-2014).

Paling besar kemungkinan, sistem rudal Buk-lah menghantam pesawat Boeing 777 buatan Amerika Serikat tersebut.

Hal itu diamini juga analis militer Rick Francona.

“Fakta ini mengindikasikan, rudal diluncurkan dari darat ke udara, atau dari udara ke udara, menjadi kemungkinan terbesar,” kata dia.

Tak bisa bedakan pesawat komersial

Salah satu kandidat rudal mampu menggapai ketinggian pesawat itu, sistem rudal darat-udara Buk buatan Rusia, merupakan unit pelontar rudal bergerak.

Rudal Buk dikembangkan pada era Uni Soviet, dan dioperasikan angkatan bersenjata Rusia serta Ukraina.

Sistem peluru kendali itu digunakan pasukan Rusia dan Ukraina.

Sebuah sistem Buk selalu membawa empat peluru kendali (rudal) masing-masing seberat 700 kg, panjang 5,5 meter, diameter 0,4 meter, menggunakan bahan bakar padat.

Rudal dibawa kendaraan khusus membuatnya fleksibel berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Buk, sistem radar diluncurkan dari darat.

Sistem rudal ini mampu melacak dan menembak, tetapi tak mampu membedakan pesawat komersial dan pesawat militer.

“Buk menggunakan sistem penjejak berbasis radar,” kata Larry Johnson, mantan anggota CIA berpengalaman dalam kontra-terorisme kepada ABC.

Ia menjelaskan, sistem rudal Buk memiliki radar sendiri, tetapi tak bisa mendeteksi pesawat komersial seperti sistem radar air traffic controller (ATC).

Sistem radar Buk hanya memantau, kemudian mendeteksi titik bergerak.

Begitu ditentukan sasaran dengan arah dan ketinggian tertentu, rudal ditembakkan dengan panduan radar.

Sesuai informasi situs produsennya di Rusia, salah satu rudal Buk tipe 9M317, misalnya, bisa menembak obyek hingga jarak 45 kilometer dan ketinggian hingga 25 kilometer.

Rudal yang ditembakkan bisa melesat dengan kecepatan maksimum hingga empat mach atawa empat kali kecepatan suara (1 mach=1.225 kilometer per jam).

Dengan demikian, menembak pesawat di ketinggian 10 kilometer, hanya butuh waktu dalam hitungan detik.

Sementara itu, Direktur Defense and Intelligence Project at the Belfer Center for Science and International Affairs di Harvard University, Brigadir Jenderal Purnawirawan Kevin Ryan, mengatakan ada kemungkinan sistem rudal darat-udara yang lain.

Sistem rudal darat-udara itu antara lain, rudal S-200 buatan Rusia dioperasikan Moskwa maupun Ukraina, atau misil S-300 dan S-400.

Senjata-senjata terakhir buatan Rusia setara dengan patriot milik AS.

Namun, Ryan agak meragukan kelompok separatis bisa menguasai sistem rudal yang kompleks dan canggih tersebut dengan daya jelajah menengah.

“Butuh banyak pelatihan dan koordinasi untuk meluncurkan satu dari senjata-senjata seperti itu,” kata Ryan.

Biasanya, sistem rudal dari darat ke udara terdiri atas kendaraan komando, kendaraan radar, beberapa self-propelled launcher, bahkan sejumlah kendaraan untuk mengangkut rudal-rudal baru.

Demikian kesimpulan Dan Wasserbly, editor IHS Jane’s.

Penulis : Akhmad Dani
Editor : Tri Wahono/Kompas.com

 

Related posts