Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI

Garut News, ( Senin, 21/10 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Singapura menjadi tempat pertemuan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana, adik kandung Atut, untuk membicarakan soal pemilihan kepala daerah.

Demikian disampaikan Pia Akbar Nasution, pengacara Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, kepada media pada 16 Oktober 2013.

“Pertemuannya enggak lama kok, cuma 15 menit,” kata Pia.

Pertemuan itu berlangsung di Hotel JW Marriot, yang berjarak hanya 500 meter dari RS Mount Elizabeth, tempat Ratu Atut menjalani cek kesehatan.

Namun hal ini dibantah pengacara Akil ataupun juru bicara keluarga Atut.

Sebuah media nasional berhasil mencatat bahwa Akil dan Atut berangkat dengan pesawat yang sama, Singapore Airlines SQ 953, pada Sabtu, 21 September 2013.

Akil lebih dulu melintas dalam pemeriksaan imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta daripada Atut.

Akil melintas pada pukul 05.08 WIB, sementara Atut pukul 06.50 WIB.

Pesawat SQ 953 jenis Boeing 777-200 itu berangkat pukul 07.55 WIB.

Tapi keduanya pulang pada hari yang berbeda.

Akil pulang ke Indonesia pada Senin, 23 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 825.

Sedangkan Atut baru pulang ke Indonesia pada Rabu, 25 September 2013, menggunakan pesawat SQ 966.

Dalam data yang sama pada saat Akil dan Atut pergi ke Singapura, Wawan juga berada di sana.

Wawan berangkat lebih dulu dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 836, pada Jumat, 20 September 2013, pukul 19.00 WIB dan baru kembali ke Indonesia pada Selasa, 24 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 825.

Bukan hanya dalam kasus Akil Mochtar, berbagai TKP kasus hukum lain juga terjadi di Singapura.

Yudi Setiawan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 7 Oktober 2012, mengaku memberikan uang Sin$ 130 ribu kepada anggota DPR di sana.

Denny Indrayana bertemu dengan Gayus Tambunan, yang sedang buron, di kawasan Orchard, Singapura.

Singapura adalah tempat favorit bagi orang kaya atau pejabat Indonesia untuk mengecek kesehatan atau perawatan penyakit berat, seperti kanker.

Banyak juga yang hanya mengantarkan nyawa ke sana.

Menonton balap Formula 1, di samping menyaksikan konser musik, adalah alasan yang lain.

Tidak sedikit pula warga negara Indonesia yang memiliki properti di negara-kota itu.

Belakangan, kota ini menjadi tempat ceramah mengenai politik Indonesia, seperti yang disampaikan Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo tentang Reformasi TNI, pada 21 Oktober 2013 pukul 14.00 di ISEAS.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Prabowo diberi kesempatan menyampaikan pokok pikirannya sebagai calon presiden.

Singapura, di sisi lain, juga menjadi tempat yang memungkinkan terjadinya pembunuhan, seperti dalam kasus Munir.

Singapura adalah tempat yang istimewa bagi warga Indonesia.

Dalam disertasi saya mengenai hubungan Hindia Belanda dengan Indocina, 1870-1914, saya menemukan bahwa perdagangan langsung di antara kedua kawasan ini terbatas pada beras dan minyak, sedangkan yang lain pada umumnya terjadi melalui Singapura.

Sebagai sebuah negara-kota, seperti ditulis Philippe Regnier, Singapura sangat strategis, sangat efektif (walau diperintah secara otoriter), tapi juga rentan karena wilayahnya terlalu kecil.

Negara-kota juga tidak permanen, bisa bertahan 100-300 tahun, setelah itu melebur ke dalam entitas yang lebih luas, seperti Venesia, yang pernah menjadi negara-kota di Eropa.

Singapura rentan terhadap banjir, apalagi asap.

Kebakaran hutan di Sumatera bisa mematikan aktivitas Singapura.

Namun sesungguhnya hidup-mati kota kecil ini bergantung betul pada orang Indonesia.

Pada 1968 terjadi peristiwa yang menggemparkan.

Singapura memutuskan mengeksekusi mati dua marinir Indonesia, Usman dan Harun.

Mereka adalah anggota KKO yang ditugasi melakukan infiltrasi dalam rangka konfrontasi Ganyang Malaysia.

Pengeboman mereka lakukan di kawasan Orchard, Singapura, dan tertangkap.

Mereka bertindak selaku prajurit yang sedang berperang menunaikan tugas negara.

Presiden Soeharto mengirim Sekretaris Militer Tjokropranolo untuk menemui Lee Kuan Yew guna meminta dispensasi.

Tapi pemerintah Singapura bergeming.

Hukuman mati tetap dilakukan.

Ketika itu gelombang kemarahan muncul di seantero Indonesia.

Muncul desakan untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Singapura, bahkan ada yang menyerukan berperang dengan negara tetangga yang mini tersebut.

Ketika itu M. Hatta, sang proklamator yang juga mantan wakil presiden, bersikap bijaksana tapi sangat strategis.

Ia menyampaikan tekad kepada istrinya, Rahmi, bahwa sejak eksekusi mati tersebut, ia tidak akan menginjakkan kaki lagi di Singapura.

Memang, sejak 1968 sampai wafat pada 1980, Hatta tidak pernah mau diundang seminar atau transit di Singapura.

Ia konsisten sampai akhir hayatnya memegang prinsip itu.

Jika sikap Hatta ini diikuti jutaan orang Indonesia, Singapura bisa bangkrut. *

***** Tempo.co

Related posts