You are here
Simsalabim Korupsi ARTIKEL 

Simsalabim Korupsi

Jakarta, Garut News ( Rabu, 13/11 ).

Foto : John
Ilustrasi Foto : John

Melompat-lompat jalan kelinciku
Telinganya bergerak selalu
Kukejar-kejar sampai aku lelah
Telinganya bergerak selalu  

Seorang kawan yang gemar metafisika pernah memberikan tafsir agak “keterlaluan” mengenai lirik lagu di atas.

Dalam kesederhanaan nada dan kata lagu anak itu, demikian sang kawan, bersembunyi makna teramat dalam, terlalu dalam untuk dilewatkan.

Tentu saja, di dalam benak sang kawan, kelinci itu bukan lagi pengerat yang cepat beranak-pinak, apalagi ikon sebuah majalah pria yang menyodorkan lekuk tubuh perempuan sebagai komoditas yang laris-manis.

Kelinci yang gemar melompat-lompat dan telinganya bergerak-gerak itu adalah hidup itu sendiri.

Setiap kali kita mencoba menangkap maknanya, sang kelinci menghindar, mustahil disentuh, apalagi ditaklukkan dalam sebuah definisi.

Namun, seperti halnya Sisifus dalam karya Albert Camus, The Myth of Sisyphus, yang tak kapok mengangkat batu besar ke pucuk bukit sekalipun sang batu akhirnya menggelinding turun, kita tetap mengejar kelinci itu hingga ke liang kubur.

Adegan kejar-kejaran yang tak pernah berakhir dengan kemenangan manusia pencari makna ini terus berlangsung hingga akhir zaman.

Sampai sang aku di dalam lirik di atas lelah, sementara kelinci tidak pernah jadi pecundang, seraya memperlihatkan misteri abadi: telinganya bergerak selalu.

Demikianlah hidup ini, kata sang kawan, selalu ada misteri yang tidak dapat terjawab.

Salah satu misteri hidup belakangan ini adalah korupsi.

Agak mencengangkan apabila tokoh-tokoh terhormat, berkedudukan, dan bergaji tinggi seperti Djoko Susilo, Luthfi Hasan Ishaaq, Rudi Rubiandini, atau Akil Mochtar kemudian mengambil jalan pintas tak halal itu.

Tampaknya tak terlalu berlebihan apabila kita membandingkan koruptor dengan tukang sulap.

Yang pertama pandai mengubah burung merpati menjadi seikat mawar, atau memindahkan koin dari saku seorang penonton ke saku penonton lain.

Yang kedua tidak pintar menyulap koin atau serpihan kertas menjadi kelinci, tapi mahir memindahkan dana publik, dana negara, atau perusahaan ke dalam tabungan pribadi atau ke tabungan orang lain–demi menghapus jejak.

Dan–ini yang paling penting–semua ini dilakukan secara instan, cukup dengan simsalabim, dengan magic.

Dengan kata lain: jarak antara keinginan dan terwujudnya keinginan sedemikian dekat, hanya dalam hitungan detik.

Pendeknya jarak antara keinginan dan kenyataan ini pula yang oleh seorang penulis India, P. Lal, dalam Kalpataru, The Wish-Fulfilling Tree, digambarkan dengan penuh ironi.

Seorang lelaki baik hati telah menularkan pengetahuan yang kemudian mendatangkan banyak kesenangan tapi juga mudarat kepada sekumpulan anak miskin.

Di bawah pohon besar itu, katanya, setiap keinginan bisa terpenuhi.

Sibuk dengan bermacam keinginan yang melahirkan keinginan baru, anak-anak ini tumbuh dewasa, terobsesi oleh kekuasaan, ketenaran, dan seks.

Nafsu, keinginan itu ber-evolusi.

Di Indonesia, berawal dari magic atau pendapatan yang instan, para tersangka korupsi terbukti tidak sanggup menahan obsesinya pada hal lain di luar uang.

Di antara yang lain, Luthfi Hasan Ishaaq sangat menyayangi istrinya yang berdarah Pushtun; dan Akil Mochtar amat murah hati terhadap sejumlah penyanyi dangdut. Mengapa?

Selalu ada misteri yang tak dapat terjawab.

Seperti lirik di atas: kukejar-kejar sampai aku lelah, telinganya bergerak selalu.

***** Sumber : Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment