Siluman

0
183 views

Setyaningsih, penulis

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 06/03 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Jakarta digegerkan oleh siluman. Hidup ini, meski telah sangat merujuk ke masa yang mengutamakan kelogisan dan keteknologisan, tidak akan menghilangkan pengalaman horor sebagai ekspresi berbahasa atau sensasi bercerita.

Bumi Nusantara tidak akan ada tanpa cerita nyai-nyai sakti di laut atau hantu-hantu yang membentuk selebrasi imajinasi komunal.

Agaknya, kita mengalami kata siluman populer sejak film-film fantasi-horor bernuansa Asia Timur masuk ke Indonesia, seperti Siluman Ular Putih dan Kera Sakti.

Jelma siluman sering digambarkan cantik, tapi bisa memberi ancaman. Selain siluman, ada peri yang pernah muncul dalam cerita pendek khas timur yang digarap apik oleh Marguerite Yourcenar (2007).

Berlatar Yunani, ada cerita Laki-laki yang Mencintai Peri. Digambarkan bahwa peri-peri adalah makhluk cantik dan menyegarkan, tapi “jahat seperti air yang mengandung kuman pembawa demam”.

Beberapa film animasi dari Jepang justru mengesahkan kehororan atau kesilumanan sebagai bentuk heroisme.

Ingat Naruto yang memiliki kekuatan hebat tersembunyi “Siluman Rubah Ekor Sembilan” di tubuhnya?

Siluman di tubuh Naruto menyebabkan alienasi, tapi juga wujud tekad sekaligus. Dalam karakter Naruto, siluman bukan keburukan, melainkan fantasi yang diidolakan anak-anak dan kaum muda.

Di Jawa, sosok-sosok makhluk halus telah akrab di keseharian. Bahkan kisah mitologis pembentukan atau asal mula suatu tempat tidak akan sah tanpa turut campur dari para makhluk yang tidak tampak mata.

Maka, dalam slametan, yang menyantap makanan bukan hanya manusia, tapi juga makhluk halus, agar tidak mengganggu.

Geertz (1981) dalam catatan antropologinya mendapati kisah tiga makhluk halus utama di Jawa: memedi, lelembut, dan tuyul. Memedi hanya bertugas menakut-nakuti, yang berbeda dengan lelembut yang bisa menyebabkan sakit atau gila.

Sering kali tidak ada formula pasti untuk menentukan konsep siluman atau makhluk halus. Banyak film dan cerita lisan atau tulisan merujukkan mereka sebagai sosok.

Namun makhluk halus juga memetaforakan keburukan hati atau nafsu ambisi yang tidak baik. Untuk menghindarinya, manusia memiliki penolak.

Di masa digital ini, makhluk halus masih tetap ada. Kita mengenal kuntilanak, sundel bolong, suster ngesot, dan pocong yang malah menjadi selebritas di dunia hiburan.

Makhluk ini malah tidak memberi ancaman, melainkan keuntungan material. Lebih nekat, saat pengusaha kuliner menggunakan nama hantu-hantu untuk menamai makanan agar mendapati kesan rasa yang sangat nonjok pedasnya.

Siluman atau makhluk halus pada akhirnya kehilangan pamornya sebagai horor atau kegaiban yang menakuti.

Namun, lebih buruk siluman dalam birokrasi yang merujuk pada kecurangan, keganjilan, atau penggelapan.

Di DPRD ada “dana siluman”, di kampus ada “mahasiswa siluman”, dan di pemilu ada “pemilih siluman”.

Ini lebih gawat daripada makhluk halus penunggu pohon dan tidak bisa begitu saja diusir dengan doa-doa atau persembahan sesaji.

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here